Bhagavad-Gita
by Richadiana Kartakusuma <http://www.facebook.com/richadianakartakusuma> on
Thursday, April 7, 2011 at 12:56am

Bhagavad-Gita

Bhagavad-gita (Sanskerta: भगवदग; Bhagavad-gītā) adalah sebuah bagian dari
Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam
bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa
adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta,
sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya.
Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah "Nyanyian Sri Bhagavan (Bhaga =
kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan
sempurna; ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang
abadi,kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan
ketidakterikatan yang sempurna, yang di miliki sekaligus secara bersamaan).



Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada
"Bhismaparwa". Adegan ini terjadi pada permulaan Bharatayuddha. Saat itu
Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang kuruksetra di antara pasukan
kurava dan pandava. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan
dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna
diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu
Bhagavad-gita oleh Sri Krishna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat
itu.



Penulis: penulis Bhagavad-gita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa.
Bhagavad-gita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh
umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di
dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat .
Umat Hindu meyakini, Bhagavadgita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni
sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak
akan dapat dimusnahkan



Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

• BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang
Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk bertempur.
Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan
kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk bertempur
dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih
sayang, sehingga kekuatannya menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia
tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.



• BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan
diri sebagai murid kepada Sri Krishna, kemudian Krishna memulai
pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan
jasmani yanag bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Sri
Krishna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada
Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang
sudah insaf akan dirinya.

• BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan
kegiatan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada
dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dibebaskan
dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati
tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan cara bertindak untuk memuaskan
Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.



• BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan
rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan
hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia.
Pengetahuan seperti itu adalah hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan
diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak
jaman purbakala, tujuan dan makna Beliau sewaktu-waktu menurun ke dunia ini,
serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan
dirinya.



• BAB V Karma Yoga, Perbuatan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana
yang sudah disucikan oelha api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan
segala kegiatan tetapi melapaskan ikatan terhadap hasil perbuatan dalam
hatinya. Dengan cara demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian,
ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.



• BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latian
meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memusatkan
perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di
dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi artinya sadar
sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.



• BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang
Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala
sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju
menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh
yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.



• BAB VIII Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai
tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan
cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada
saat meninggal.



• BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia),
hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya), Krishna
adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kegiatan sembahyang, sang
roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci
bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni,
seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.



• BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai
sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena ajaib yang
memperlihatkan kekuatan, keindahan, sifat agung atau mulia, baik di dunia
material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian
tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab
serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa
adalah tujuan sembahyang tertinggi bagi para mahluk.



• BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri
Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Beliau
memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam
semesta. Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan
identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya
Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli
Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti
yang murni



• BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdia Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga
dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdia suci yang murni kebada Sri Krishna,
adalah cara tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang
murni kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh
jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.



• BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan
Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan
purusa dan prakrti, ORang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang
roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai
pembebasan dari dunia material.



• BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas
Triguna (tiga sifat alam material) - Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh
terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material;
kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna
menjelaskan arit sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat
tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat
tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang
yang sudah lepas dari tiga sifat alam).



• BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi,
Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah melepaskan diri dari
ikatan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian
Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama
menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.



• BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat
tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki
sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab
Suci, dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut
secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup
secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur
mencapai kesempurnaan rohani.



• BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai
golongan-golongan keyakinan. Ada tiga jenis keyakinan, yang masing-masing
berkembang dari salah satu di antara tiga sifat alam. Perbuatan yang
dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya
membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan perbuatan yang
dilakukan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan
membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna
dan bhakti kepada Krishna.



• BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, merupakan
kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.
Dalam bab ini Krishna menjelaskan arti dari pelepasan ikatan dan efek dari
sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kegiatan manusia. Krishna
menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan
Bhagavad-gita; jalan kerohaniantertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya
tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Jalan ini membebaskan
seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya
dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri
Krishna yang kekal.



• Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali



• Cuplikan adegan Arjuna yang menghadap Bhatara Wisnu dalam komik
Mahabharata oleh R.A. Kosasih.



• Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan
India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu



*Bhismaparwa:* Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin
ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita ada pula. Tetapi
menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa
Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam
Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diikuti
dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.



*Bharatayuddha:* Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon
digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati.
Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna
kepada Arjuna. Bait-bait ini berasal dari pupuh 10, bait 12 dan 13:
ayat-ayat selanjutnya dalam Bhagavad Gita kemungkinan dihilangkan oleh
penjajah setelah Hindu berkuasa, karena bertolak belakang dengan ajaran baru
tersebut.





(12)mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepan ri tingkah i musuhnira n
paḍa kadang taya wwang waneh

hana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh paman makâdi Krpa Salya
Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru





(13)ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteher aminta wurunga ng lagâpan
awelas tumon Korawa

kuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâpranga apan hila-hila ng kṣinatriya
surud yan ing paprangan





Terjemahan

(12) Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihan
sebab musuh-musuhnya bukanlah orang asing ada sanak saudara dari pihak ayah
maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya
(Bhagawan Drona).



*(13) Oleh sebab itu, ia lalu berbicara kepada prabu Kresna, meminta supaya
ia menghentikan peperangan, karena kasihan melihat para Korawa. Akan tetapi
sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperang sebab seseorang yang
dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari
peperangan.*

*
http://www.facebook.com/richadianakartakusuma/posts/1909412825192?notif_t=feed_comment_reply#!/notes/richadiana-kartakusuma/bhagavad-gita/10150151153404475?notif_t=note_tag
*

*
*

Kirim email ke