DESKRIPSI KESENIAN SINTREN (BAGIAN 2)
 Senin, 11 September 2006 18:46
 [image: 
Cetak]<http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/ekonomi/139-deskripsi-kesenian-sintren-bagian-2.html#>

Tahapan menjadikan sintren dilakukan oleh Pawang dengan membawa calon penari
sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain. Dayang sebagai lambang
bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren. Kemudian
Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan didampingi
para dayang/cantrik.

Pawang segera menjadikan penari sintren secara bertahap, melalui tiga tahap:

*Tahap Pertama*, pawang memegang kedua tangan calon penari sintren, kemudian
diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra, selanjutnya
calon penari sintren dengan tali melilit ke seluruh tubuh.

*Tahap Kedua*, calon penari sintren dimasukkan ke dalam sangkar (kurungan)
ayam bersama busana sintren dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat
kemudian kurungan dibuka, sintren sudah berdandan dalam keadaan terikat
tali, lalu sintren ditutup kurungan kembali.

*Tahap Ketiga*, setelah ada tanda-tdana sintren sudah jadi (biasanya
ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, sintren sudah lepas
dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya sintren melakukan
akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari.

Selama pertunjukan sintren berlangsung, pembakaran kemenyan tidak boleh
berhenti.

*
d. Balangan dan Temohan
*Balangan yaitu pada saat penari sintren sedang menari maka dari arah
penonton ada yang melempar (Jawa : mbalang) sesuatu ke arah penari sintren.
Setiap penari terkena lemparan maka sintren akan jatuh pingsan. Pada saat
itu, pawang dengan menggunakan mantra-mantra tertentu kedua tangan penari
sintren diasapi dengan kemenyan dan diteruskan dengan mengusap wajah penari
sintren dengan tujuan agar roh bidadari datang lagi sehingga penari sintren
dapat melanjutkan menari lagi.
Sedangkan temohan adalah penari sintren dengan nyiru/tampah atau nampan
mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih berupa uang ala
kadarnya.

*d. Paripurna

**Tahap pertama*, penari sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain
biasa (pakaian sehari-hari).

*Tahap kedua*, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan mengelilingi
kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana sintren dikeluarkan.

*Tahap ketiga*, kurungan dibuka, penari sintren sudah berpakain bisasa dalam
keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan penari sintren
dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra sampai sintren
sadar kembali.


*TEMPAT PENYAJIAN SINTREN
*Tempat yang digunakan untuk pertunjukan kesenian sintren adalah arena
terbuka. Maksudnya berupa arena pertunjukan yang tidak terlihat batas antara
penonton dengan penari sintren maupun pendukungnya.Hal ini dimaksudkan agar
lebih komunikatif dengan dibuktikan pada saat acara balangan dan temohan,
dimana antara penonton dan penari sintren terlihat menyatu dalam satu
pertunjukan dengan ikut menari setelah penonton melakukan balangan pada
penari sintren.

*WAKTU PENYAJIAN
*Pegelaran sintren semula disajikan pada waktu sunyi dalam malam bulan
purnama dan menurut kepercayaan masyarakat lebih utama lagi kalau
dipentaskan pada malam kliwon, karena dikandung maksud bahwa sintren sangat
berkaitan dengan kepercayaan adanya roh halus yang menjelma menyatu dengan
penari sintren. Namun demikian pada saat sekarang ini pertunjukan sintren
dapat dilaksanakan kapan saja baik siang atau malam hari tidak tergantung
pada malam bulan purnama.

*BUSANA SINTREN
*Busana yang digunakan penari sintren dulunya berupa pakaian kebaya (untuk
atasan) sekarang ini menggunakan busana golek. Busana kebaya ini lebih
banyak dipakai oleh wanita yang hidup di desa-desa sebagai busana
keseharian.
Adapun macam-macam busana yang lain sebagai pelengkap busana penari sintren
dapat diuraikan sebagai berikut :

*Baju keseharian*, yang dipakai sebelum pertunjukan kesenian sintren
berlangsung.
*Baju golek*, adalah baju tanpa lengan yang biasa dipergunakan dalam tari
golek.
*Kain atau ja*rit, model busana wanita Jawa.
*Celana Cinde*, yaitu celana tiga perempat yang panjangnya hanya sampai
lutut.
*Sabuk*, yaitu berupa sabuk lebar dari bahan kain yang biasa dipakai untuk
mengikat sampur.
*Sampur*, berjumlah sehelai/selembar dililitkan di pinggang dan diletakkan
di samping kiri dan kanan kemudian diutup sabuk atau diletakkan didepan.
*Jamang*, adalah hiasan yang dipakai dikepala dengan untaian bunga melati di
samping kanan dan kiri telinga sebagai koncer.
Kaos kaki hitam dan putih, seperti ciri khas kesenian tradisional lain
khususnya di Jateng.
*Kacamata Hitam*, berfungsi sebagai penutup mata karena selama menari,
sintren selalu memejamkan mata akibat kerasukan "trance", juga sebagai ciri
khas kesenian sintren dan menambah daya tarik/mempercantik penampilan.

(Bersambung)...

http://www.pekalongankab.go.id/fasilitas-web/artikel/ekonomi/139-deskripsi-kesenian-sintren-bagian-2.html

Kirim email ke