Pengusaha Sapi Australia Merugi Rp 900 Miliar

Selasa, 21 Juni 2011 | 04:29 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* -Menteri Pertanian Australia Barat Terry
Redman mengungkapkan kebijakan penghentian ekspor sapi ke Indonesia telah
merugikan pengusaha Negeri Kanguru hingga Aus$ 100 juta (sekitar Rp 900
miliar). Karena itu, ia berharap agar kisruh sapi segera diselesaikan dan
keran ekspor kembali dibuka. Apalagi penyelesaian konflik tidak hanya
ditunggu oleh pengusaha sapi, tapi juga industri pengolah daging sapi. "Kami
ingin tetap bisa mengekspor sapi ke indonesia," kata Redman setelah bertemu
dengan Menteri Pertanian Suswono kemarin.

Pemerintah Australia sejak 8 Juni silam menghentikan sementara ekspor sapi
bakalan ke Indonesia. Kebijakan ini diambil setelah video penganiayaan sapi
di 12 rumah pemotongan hewan tayang dalam acara Four Corners di stasiun ABC
TV. Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig dalam pengumuman resmi melalui
radio ABC Australia mengatakan ekspor akan dibuka lagi bila Indonesia sudah
menerapkan standar internasional pemeliharaan hewan.

Australia mengekspor 500 ribu sapi per tahun ke Indonesia senilai Aus$ 320
juta (Rp 2,94 triliun). Nilai tersebut sebanyak 43 persen dari total
perdagangan hewan hidup Australia ke seluruh dunia. Begitu pun Redman
mengatakan kepastian ekspor sapi bergantung pada hasil investigasi ke rumah
potong hewan yang dilakukan kedua negara. Ia optimistis investigasi bersama
menghasilkan kesepakatan yang baik.

Sebelum berjumpa dengan Redman, Menteri Suswono bertemu dengan Menteri Joe
Ludwig. Seusai pertemuan, Ludwig mengatakan berharap penghentian sementara
ekspor sapi bisa secepatnya dicabut. Australia, kata dia, memberi panduan
standar minimum rumah pemotongan hewan, di antaranya hewan yang hendak
disembelih harus dibikin pingsan terlebih dulu (stunning). "Stunning masuk
dalam persyaratan kesejahteraan hewan internasional. Saya berharap ini bisa
diterapkan di semua rumah potong di Indonesia," ujar Ludwig.

Sebaliknya, Menteri Suswono mengatakan pembahasan kebijakan sapi impor belum
mencapai titik temu. Australia berkeras tak akan melanjutkan ekspor sapi
bakalan hingga investigasi rampung. "Terserah dari Australia sendiri mau
sampai kapan menutup keran ekspornya. Terserah," kata dia.

Menteri asal Partai Keadilan Sejahtera ini mengatakan tim investigasi
gabungan Australia dan Indonesia sedang bekerja. Pada tahap awal, mereka
mendiskusikan standar kesejahteraan hewan sebagai pedoman investigasi.
Suswono mengatakan penghentian ekspor sapi Australia ini justru menjadi
pendorong bagi Indonesia untuk memperketat prosedur impor. Bahkan ada
kemungkinan jumlah impor sapi akan terus dipangkas. "Pemerintah akan
mengutamakan sapi lokal," ucapnya.

*TRI SUHARMAN | ROSALINA | EFRI RITONGA*
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/06/21/brk,20110621-342103,id.html

Kirim email ke