Sapi Australia Berisiko Picu Kanker Rahim dan Payudara

Selasa, 21 Juni 2011 | 08:41 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - **Hasil penelitian yang menyebutkan bahwa
sapi impor asal Australia mengandung hormon sintetis yang berbahaya bagi
kesehatan manusia ternyata sudah ditemukan sejak 2009.

Penemunya adalah bekas Kepala Pusat Karantina Hewan Kementerian Pertanian,
Kisman A. Rasyid. "Penelitian itu untuk disertasi ujian S3 (program
doktoral) saya di Universitas Gadjah Mada," kata Kisman kepada *Tempo*,
Senin, 20 Juni 2011 malam.

Kisman mengatakan hormon sintetis yang ditemukan pada sapi bakalan serta
daging impor Australia bernama ilmiah trenbolon asetat. Hormon ini berfungsi
untuk memacu pertumbuhan sapi, namun dapat menimbulkan efek negatif berupa
kanker rahim dan kanker payudara.

Temuan itu diperoleh setelah ia meneliti sampel daging sapi bakalan dan
daging impor Australia di laboratorium Pengkajian Mutu Produk Peternakan
Bogor. Melalui analisis bernama Elisa Test, sapi bakalan dan daging impor
Australia dinyatakan positif mengandung hormon trenbolon.

Kisman mengaku belum pernah mengkomunikasikan langsung hasil temuan itu ke
Kementerian Pertanian. Alasannya, penelitian itu hanya untuk disertasi
program doktoral. "Tapi, saya sudah komunikasikan ke Direktur Jenderal
Peternakan Prabowo Respatiyo Caturroso," katanya.

Direktur Jenderal Peternakan Prabowo Respatiyo Caturroso mengatakan ia baru
membuka hasil penelitian tersebut ke publik karena belum lama menerima hasil
disertasi Kisman. "Saya menerima hasil disertasi itu pada akhir 2010," kata
dia. "Saat itu saya belum menjabat Dirjen Peternakan."

Hasil disertasi itu akan menjadi bahan bagi kementerian untuk mengambil
kebijakan impor sapi Australia. Bahan itu akan dipakai sebagai bukti
pelanggaran yang dilakukan Australia. "Sudah ada ketentuan pemerintah
tentang larangan pemakaian hormon pemacu pertumbuhan," ujar Prabowo.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian
Bess Tiesnamurti mengatakan bahwa hormon sintetis memang diduga berisiko
memicu kanker.
“Tapi, itu tergantung jenis hormonnya karena hormon sintetis itu macamnya
banyak,” kata Bess saat dihubungi *Tempo*, Senin, 20 Juni 2011.

Hormon sintetis pada sapi biasanya untuk mempercepat
pertumbuhan<http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/06/21/brk,20110621-342140,id.html>.
Dia menjelaskan bahwa pada 2005 dan 2008 pernah didapati sapi impor dari
Australia yang mengandung hormon trenbolon asetat.  Hormon sintetis yang
terakumulasi dalam hewan dan produk ternak akan berefek negatif, termasuk
menyebabkan kanker.

*TRI SUHARMAN*
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/06/21/brk,20110621-342131,id.html

Kirim email ke