Sekelumit Kisah Bung Hatta
28 July 2011 2:34 pm

Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota
kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya.
Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan.
Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki
satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada
pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti
Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk
ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti
keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran
anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para
anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab
dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Pada
tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge
School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun
1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.
Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti
nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit
secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah
ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels
economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud
menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena
itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan
baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan
itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua
PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato
inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en
Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan.
Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu,
menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI.
Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa
menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di
Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional
yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda.

Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima
perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin
delegasi. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”,
Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian
di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui
oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda
ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi
internasional.

Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga
Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional
yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Februari 1927. Di kongres ini Hatta
berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan
Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di
Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey
(Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai
dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang
untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian
dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son
Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).

Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid
Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22
Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari
segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato
pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan
nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka. Antara tahun 1930-1931, Hatta
memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah
Daulat Rajat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk
mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri
Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan
1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan
ekonomi untuk Daulat Rakjat dan melakukan berbagai kegiatan politik,
terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional
Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.
Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya
oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno
ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Rakjat, yang
berjudul “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30
Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933).

Pada bulan Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah
Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional
Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan
kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari
kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor
Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke
Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan
Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul Krisis
Ekonomi dan Kapitalisme.

Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven
Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan
dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari
dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi
buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan
dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk
pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang
besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk
menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat
kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan
dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh
buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan
demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran
kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan
filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan
dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan”
dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen,
memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke
Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka
bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira,
Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi
pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik,
dan lain-Iain. Pada tanggal 3 Februari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke
Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah
kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke
Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai
penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk
merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala
pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang
tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia
dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan
Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap
Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang
demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk
memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang
diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8
Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, Indonesia
terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak
ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya.
Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam
lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.”

Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan
Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya
terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau
Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945
malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi
dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir
pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5
orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik
memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan.
Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta
menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya.
Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat
para anggota lainnya menanti.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua
orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan
bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia
diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia,
tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18
Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan
Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.
Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus
merupakan satu dwitunggal.

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda
yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari
Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan
Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan
kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar
negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru
dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot
pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa
Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat
membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda
dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI
melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan
agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun
perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar
di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan
bersenjata.Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang
mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima
pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia
Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden. Selama menjadi Wakil
Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai
lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan
buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing
gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya.
Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut
Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam
gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak
Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung.
Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan
konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri
sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya
melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat
dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara
resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen
bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai
Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta
tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu
Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di
Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan
yang berjudul Lampau dan Datang. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya
sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari
berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan
Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas
Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam
bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa
di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul Menuju Negara
Hukum .

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji
Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan
pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.
Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan
sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan
Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa
Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala
Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah.
Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad
Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu
Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung
Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik
Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Bung
Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik
Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto
Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir
pada tanggal 15 Maret 1980.

http://www.fimadani.com/sekelumit-kisah-bung-hatta/

Kirim email ke