Mung sakadar koreksi/nambihan, aya anu kirang seratan bagian ahir di handap. 
Putri Bungsu Bung Hatta, (ceu) Halida Nuriah, parantos nikah sareng gaduh putri 
hiji anu tos rumaja. Carogena  teh diplomat aya teureuh Sumedang, namung ayeuna 
tos pipirakan. Nya kitu oge (ceu) Gemala Rabiah tos pipirakan oge, gaduh putra 
pameget anu nikah sareng urang Bandung, tos batian hiji. Atuh, putrana Prof. 
Meutia + Prof. Sri-Edi Swasono, saderek Athar, sababaraha sasih kapengker 
parantos jatukrami sareng urang Jawa Timur namung tos lami mukim di Jakarta.

wassalam,

mrachmatrawyani



________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>
Sent: Monday, August 15, 2011 8:38 PM
Subject: [kisunda] Re: Tokoh - Bung Hatta


  
Sekelumit Kisah Bung Hatta
28 July 2011 2:34 pm  
Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di 
Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di 
lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal 
ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam 
saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO 
di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 
1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong 
Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke 
perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti 
keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari 
iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para 
anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung 
jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad 
Hatta. Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada 
Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische 
Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi 
Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan 
Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia 
(PI).
Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, 
terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 
1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus 
dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. 
Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir 
tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. 
Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum 
administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya 
yang besar di bidang politik.
Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI 
pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia 
mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en 
Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan 
kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan 
berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.
Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi 
Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan 
mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya 
politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan 
Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan 
dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda 
aktif di luar negeri Belanda.
Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima 
perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin 
delegasi. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama 
“Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional 
untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, 
“Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk 
menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal 
kalangan organisasi-organisasi internasional.
Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting 
di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres 
internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Februari 1927. Di 
kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh 
seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian 
menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru 
(India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan 
pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 
itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga 
Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. 
Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence 
(Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan).
Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul 
Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada 
tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan 
keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta 
mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian 
diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian 
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul 
Indonesia Merdeka. Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada 
studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Rajat dan 
kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya 
pada pertengahan tahun 1932.
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda 
dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 
1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel 
politik dan ekonomi untuk Daulat Rakjat dan melakukan berbagai kegiatan 
politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan 
Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada 
kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno 
sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang 
berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada 
tulisan-tulisannya di Daulat Rakjat, yang berjudul “Soekarno Ditahan” 
(10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap 
Pemimpin” (10 Desember 1933).
Pada bulan Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, 
Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai 
Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional 
Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya 
berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan 
Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, 
Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara 
selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di 
penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul Krisis Ekonomi dan 
Kapitalisme.
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah 
Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van 
Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial 
dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke 
daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in 
natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta 
menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di 
Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. 
Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 
sen sehari.
Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk 
surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah 
Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel 
dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 
peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk 
memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu 
ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di 
kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke 
Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid).
Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, 
memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke 
Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka 
bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di 
Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk 
setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang 
sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain. Pada tanggal 3 Februari 1942, Hatta 
dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, 
Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 
Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.
Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai 
penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk 
merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala 
pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa 
Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan 
Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. 
Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata 
terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah 
sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu 
didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada 
bulan September 1944.
Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun 
pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada 
tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan,  
Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia 
tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini 
setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia 
tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang 
kembali.”
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan 
Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan 
Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. 
Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari 
Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 
1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia 
mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam 
Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. 
Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, 
Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan 
untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta 
menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno 
yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu 
selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya 
menanti.
Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi 
oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir 
menyambut dengan bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, 
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta 
atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan 
Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno 
diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta 
diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo 
Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus 
merupakan satu dwitunggal.
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah 
Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia 
pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda 
menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi 
selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk 
mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India 
menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai 
kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang 
kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri 
Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan 
protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.
Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 
PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali 
melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke 
Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan 
kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman 
melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata.Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den 
Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam 
Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia 
dari Ratu Juliana.
Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik 
Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara 
Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden. 
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan 
ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap 
menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan 
koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan 
cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta 
mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. 
Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada 
tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada 
Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta 
mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul 
Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).
Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan 
konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri 
sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu 
diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. 
Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah 
Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta 
mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan 
meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha 
mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.
Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu 
Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. 
Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato 
pengukuhan yang berjudul  Lampau dan Datang. Sesudah Bung Hatta 
meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga 
diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas 
Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam 
ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang 
memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas 
Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. 
Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul  Menuju Negara Hukum .
Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah 
Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan 
pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di 
Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih 
merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. 
Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa 
Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia 
Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya 
yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan 
yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat 
menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan 
Mohamad Athar Baridjambek.
Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada 
Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang 
Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana 
Negara. Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama 
Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr 
Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU 
Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.
http://www.fimadani.com/sekelumit-kisah-bung-hatta/

 

Kirim email ke