Hasanain meraih penghargaan Magsaysay
Heyder Affan
BBC Indonesia
Terbaru 25 Agustus 2011 - 18:05 WIB
[image: Hasanain Juaini]
Hasanain mengaku agama merupakan energi terbesar yang menggerakkan
kepeduliannya.
Hasanain Juaini memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay 2011 karena
mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta
membangun kerukunan beragama.
Penghargaan Ramon Magsaysay -yang sering disebut sebagai Nobel versi Asia
ini- diserahkan kepada Hasanain dan lima peraih lainnya di Kota Manila,
Filipina, Rabu 31 Agustus.
Sebagai pemimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Lombok
Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat, kini namanya sejajar dengan tokoh-tokoh
seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang
juga pernah meraih penghargaan Ramon Magsaysay.
Tahun ini, selain Hasanain, warga Indonesia lainnya yang juga memperoleh
penghargaan ini adalah Tri Mumpuni, yang memberdayakan masyarakat melalui
pembangkit listrik tenaga air yang ramah lingkungan.
Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, pria kelahiran 1964 ini mengaku
bahwa energi terbesar yang memotivasinya dalam mengembangkan pesantrennya
adalah nilai-nilai agama.
"Energi saya dari ajaran agama," jelas Hasanain Juaini di studio BBC di
Jakarta, sebelum berangkat ke Filipina.
Melalui energi itulah, dia mampu menyulap lahan gundul di kawasan hutan
seluas lebih dari 33 hektar menjadi hijau dan berpohon lebat.
Memakan waktu lebih dari 9 tahun, konservasi hutan dan ladang -yang
melibatkan santri serta warga sekitar- kini berdampak luas dan terus
berjalan.
Komitmennya di bidang lingkungan ini juga dia praktekkan ketika
mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender dan kerukunan antar agama di
pesantren serta lingkungan di sekitarnya.
Awalnya amuk
Sebagai pemimpin pondok pesantren yang mendalami nilai-nilai agama, alumni
Pondok Pesantren Gontor (1984) ini, menganggap kearifan terhadap lingkungan
sudah diatur dalam Al-Qur'an.
"Kita sudah mendapatkan begitu banyak dari alam ini, maka kita harus tanya
pada diri seberapa banyak yang kita berikan kepada alam," ungkapnya, seraya
menyitir sebuah ayat dari kitab suci itu.
Selain nilai agama, Hasanain juga menggunakan pendekatan kultur dan ekonomi.
Namun menurutnya, tanggungjawab terhadap alam tidak berhenti pada dirinya
sendiri.
"Lalu, bagaimana kewajiban keluarga saya, lalu bagaimana tanggungjawab
saudara saya, tanggungjawab murid-murid saya dan tanggungjawab masyarakat
saya," katanya.
Dari dorongan itulah, ayah empat anak ini tergerak, yang kemudian dia
tularkan kepada santri dan warga sekitar.
Namun usaha ini tidak mudah.
Pemahaman agama, juga kultur, ternyata tidak cukup untuk meyakinkan warga
sekitar pesantren.
"Saya terpaksa membawa kalkulator ke mana-mana," katanya mengenang upayanya
meyakinkan warga tentang nilai ekonomi jika mereka mau melakukan
penghijauan.
Tidak berhenti di situ. Lulusan Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Mataram (2006) ini harus memberikan contoh langsung agar orang-orang itu
mengikuti langkahnya.
"Akhirnya, saya singsingkan lengan baju, saya turun langsung dan bekerja,"
ungkapnya.
"Saya sendiri mengatakan, sembilan tahun lalu bukan kerja, tapi *ngamuk*.
Melihat tanah tinggal ampasnya saja," jelasnya, seraya mengenang peristiwa
saat-saat dia baru pulang ke rumah pukul dua dini hari, setelah waktunya
dihabiskan di hutan.
Secara jujur dia mengaku pernah putus asa, ketika dihadapkan situasi sulit.
Tapi, katanya buru-buru, "Kita bangkit melawan itu".
"Dari segi materi saja, saya hitung uang saya sekitar Rp4,3 miliar habis.
Tidak mungkin saya tidak melanjutkannya. Saya harus lanjutkan".
Sekarang, setelah lahan menjadi hijau, Hasanain bertambah semangat. "Dan
penghargaan Magsaysay membuat saya harus bekerja lebih keras lagi".
Berutang kepada perempuan
Salah-satu alasan Yayasan Magsaysay menganggap Hasanain layak diberi
penghargaan adalah karena komitmennya dalam mempromosikan kesetaraan gender
di pesantren yang dipimpinnya.
Di pondok pesantren yang didirikan tahun 1996 itu, Hasanain menerima dan
mendidik santri putri sekitar 400 siswa, selain sekitar 500 santri putra.
[image: Santri putri]
Posisi santri putri lebih ditinggikan ketimbang santri putra.
Dalam mendidik murid-muridnya, Hasanain mengaku tidak membeda-bedakan antara
santri putra dan putri.
"Bahkan, karena kita merasa berutang agak lama kepada perempuan, (kita) agak
lebih ditinggikan tensinya kepada perempuan," ungkapnya.
"Harus ada proteksi sedikit," katanya lagi.
Dia lantas memberi contoh program komputerisasi yang diterapkan di
pesantrennya. "Saya dahulukan yang perempuan (untuk memperoleh fasilitas
komputer)".
Secara rutin, Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini di Propinsi Nusa
Tenggara Barat ini juga mengundang sejumlah tokoh perempuan -mulai menteri
hingga bupati perempuan- ke pesantrennya, agar dapat memotivasi para murid
perempuannya.
"Hal yang sama tidak saya berikan kepada (murid) lelaki," katanya,
terus-terang.
Menurut Hasanain, selain didasari ajaran agama ("...tiang negara itu adalah
wanita," katanya), pilihannya lebih mendahulukan kepentingan santri putri,
karena contoh langsung dari orang tuanya.
"Bapak saya sangat memuliakan ibu dan istrinya," Hasanain mulai bercerita.
Suatu saat, ibunya yang mengalami stroke, meminta agar sang suami menikah
kembali, agar ada yang merawatnya.
Tetapi apa jawaban sang ayah? "Ayah saya mengatakan: 'Di saat kamu sudah
tua, lemah, saya harus membuktikan kamu telah memilih orang yang tepat."
Sang ayah, Haji Muhammad Djuaini, akhirnya tetap menemani ibunya, Hajjah
Jahrah, hingga 12 kemudian, sebelum ibunya akhirnya meninggal.
"Contoh hidup dari orang tua itulah yang saya lakukan (sekarang)," kata
Hasanain agak tersendat, dan matanya membasah.
Berlatih hadapi perbedaan
Kepada BBC Indonesia, Hasanain menyinggung pula masalah konflik antar umat
beragama di Indonesia, yang disebutnya terjadi karena masyarakat tidak
terlatih untuk menghadapi perbedaan.
"Akibatnya, ya akan terus terjadi (kasus-kasus kekerasan atas nama agama)
seperti itu," kata Hasanain, yang sejak 4 tahun lalu dipercaya menjabat
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Lombok Barat, NTB.
Hal ini dia tegaskan ketika BBC Indonesia menanyakan komentarnya tentang
ledakan bom di sebuah pesantren di Desa Senolo, Kecamatan Bolo Kabupaten
Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat, bulan Juli lalu.
[image: Pesantren]
Di pesantren yang dikelolanya, Hasanain acap menerima tamu dari
negara-negara barat.
Ledakan yang menewaskan salah-seorang guru pesantren itu, diawali kasus
pembunuhan anggota polisi setempat yang diduga dilakukan salah-seorang
santri pesantren di wilayah tersebut.
Padahal selama ini, kekerasan yang melibatkan pesantren jarang terjadi di
Propinsi NTB.
Walaupun tidak memahami latar kasus tersebut, Hasanain menilai, persoalan
ini tidak terlepas dari sikap masyarakat yang tidak terlatih menerima adanya
perbedaan.
"Inilah unsur yang tidak banyak kita lakukan," katanya.
"Lalu tiba-tiba kita mengharapkan orang bisa hidup damai...Ini yang
dinamakan mimpi di siang bolong," katanya lagi, agak masygul
Tetapi, tentu saja, Hasanain tidak berhenti menilai semata.
Dialog yang tak terbayang
Dengan melibatkan para santrinya serta umat agama lain, Hasanain mengaku
pernah menggelar dialog terbuka tentang keagamaan melalui acara perkemahan.
"Saya mengajak mereka dialog yang '*nggak kebayang*," ungkapnya.
Dalam acara itu, peraih *Ashoka International Award for Best Fellow in
Religion and Women Empowerment* (2003) ini mempersilakan anak-anak itu
berdialog secara terbuka.
"Saya kumpulkan mereka, lalu saya tanya: 'Hei teman, Muslim apa yang paling
kamu '*nggak* suka terhadap kegiatan teman-teman Hindu? Mereka menjawab: 'ya
misalnya, waktu kita lebaran lalu bertepatan ada Nyepi, kita nggak bisa
ramai-ramai'.
"Lalu kepada teman Hindhu, saya tanya pula: 'Apa yang kamu paling nggak suka
terhadap Islam? Mereka jawab: 'Tengah malam, misalnya waktu kita enak tidur,
mereka terlalu cepat menghidupkan (kaset) mengajinya'.
Curahan hati seperti ini, menurutnya, penting agar anak-anak itu akhirnya
mengetahui apa yang dipikirkan atau dirasakan para penganut agama yang
berbeda itu.
"Nanti akan berproses, dan mereka akan memberi hati, setelah mereka tahu
dulu," ungkap Hasanain.
"Sekarang ini 'kan mereka nggak tahu (apa yang dirasa baik atau buruk)..."
Desa madani
Prihatin terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang disebutnya tidak
terlatih menerima perbedaan, Hasanain terobsesi mendirikan semacam desa yang
dihuni berbagai umat beragama.
Secara agak bersemangat, Hasanain membayangkan desa itu nantinya dapat
mendidik masyarakat menghormati pluralitas.
Selain penanaman bibit tanaman, para santri dididik terbuka soal hubungan
antar agama.
Di dalam desa itu, warganya yang berbeda agama bisa melakukan musyawarah,
saling berkasih sayang, serta kerjasama.
"Saya ingin membuat *prototipe* dari desa madani, " ungkapnya.
Dia menyebut gagasan pendirian desa plural itu sebagai desa madani, karena
ingin mencontoh desa yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad di masa awal
Islam di tanah Arab, lebih dari seribu tahun lalu.
"Desa yang dibangun Rasulullah, yang plural (seperti) itu," katanya,
setengah menganalisa.
"Itu yang contoh yang bisa diangkat sekarang. Tidak ada yang *an
sich*muslim semua, atau tidak ada yang namanya
*moslem village*," katanya berterus-terang.
Bahkan menurutnya, praktek hidup secara plural juga ditunjukkan para
pemimpin Islam setelah Nabi Muhammad wafat.
"Para kalifah itu, di rumahnya tidak hanya satu agamanya," ungkap Hasanain,
yang lulus dari Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, di
Jakarta tahun 1995.
"Kalau di rumahnya ada non muslimnya, bagaimana di desa atau di kotanya?
Fakta yang pernah itu plural," tegasnya.
Menurutnya, dalam kehidupan luas sekarang ini, tidak bisa dihindari hidup
dengan orang yang berbeda.
"Maka desa yang ideal yang bisa mengajarkan anggotanya bagaimana hidup dalam
perbedaan, itulah yang saya impikan," ulang Hasanain.
Mengapa pesantren
Dunia pesantren rupanya sudah mendarah-daging pada sosok Hasanain.
Setelah mengenyam pendidikan dasar agama di kampung halamannya di Desa
Lembuak, Kecamatan Narmada, di Lombok Barat, dia dikirim ke Pondok Pesantren
Gontor, Jawa Timur.
Hasanain dibesarkan dalam keluarga santri.
Di pesantren yang menggunakan kurikulum moderen itulah, Hasanain banyak
memperoleh 'ilmu', yang kelak bermanfaat ketika dia mendirikan pesantren di
kampung halamannya.
Lulus dari lembaga pendidikan itu dan meraih sarjana hukum, dia kemudian
mendirikan Pondok Pesantren Nurul Haramain di kampung halamannya tahun 1996.
"Semua keluarga saya adalah guru," jawabnya, ketika ditanya BBC Indonesia
tentang pilihannya menjadi Tuan Guru, panggilan hormat seperti kiayi di
Pulau Jawa.
Pilihannya menjadi pendidik di lembaga pesantren, juga tidak terlepas dari
keyakinannya bahwa pendidikan merupakan jalan strategis untuk memajukan
bangsa.
Bagaimana dipahami awam
Sebagai pemimpin pondok pesantren yang terlibat berbagai kegiatan sosial,
Hasanain terlatih berhadapan langsung dengan masyarakat awam.
Ini bisa terlihat dari kemampuannya -selama lebih dari sembilan tahun-
memotivasi warga untuk terlibat dalam program penghijauan wilayah yang
gundul.
"Pionir itu," kata Hasanain, "harus mengambil bagian yang paling berat,
bagian paling susah, dan bagian paling berisiko."
Menurutnya, kalau peran itu tidak diambil, maka jangan bermimpi ada orang
yang mengikuti langkahnya.
Dia mencontohkan seorang menteri transmigrasi Malaysia, yang begitu pensiun,
langsung bertransmigrasi.
"Dia tunjukkan kepada masyarakat, bahwa transmigrasi itu menjanjikan,"
katanya.
Sebaliknya di Indonesia, ungkapnya, tidak ada mantan menteri yang setelah
pensiun lalu langsung transmigrasi. "Makanya jadi *nonsens*," tandasnya.
"Nah, itu saya beritahu. Matangkan di tengah masyarakat konsep yang kita
yakini benar, itu nanti ada perbaikan di tengah masyarakat."
Hasanain kemudian mengkritik sebagian pemikir Islam di Indonesia, yang
disebutnya gagal menerjemahkan pemikirannya sehingga bisa dipahami
masyarakat bawah.
"Karena pelakunya terlalu banyak bicara, diskusi," katanya, seraya
menambahkan, seharusnya yang didiskusikan adalah nilai dasarnya semata.
"Selebihnya lakukan di tengah masyarakat, agar anda menemukan cara, agar
kita menemukan kiat, celah-celah yang memungkinkan itu bisa dilakukan dengan
baik," jelasnya, dalam wawancara yang berlangsung usai buka puasa.
Link BBC
BBC © 2011
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/08/110825_tokohhasanainjuaini.shtml?print=1