Peraih Ramon Magsaysay Gadaikan Medali
Selasa, 20 September 2011 | 13:43 WIB

<http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/09/20/brk,20110920-357217,id.html#>
 [image: foto]

Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Nurul
Haramain di Lombok Barat. TEMPO/ Supriyantho Khafid
 *TEMPO Interaktif*, *Mataram* - Peraih Ramon Magsaysay Award (RMA) 2011
Tuan Guru Haji Hasanain Juaini menawarkan medali emas yang diraihnya untuk
dijadikan agunan pinjaman.

Langkah itu diambil lantaran dia memerlukan biaya untuk pengembangan Pondok
Pesantren Nurul Haramain Putri Narmada Lombok Barat. “Saya tidak tahu
kira-kira berapa besar pinjaman dana yang bisa diberikan,’’ katanya kepada *
Tempo* di rumahnya, Selasa, 20 September 2011.

Sebagai peraih Ramon Magsaysay Award, Hasanain diberikan medali emas seberat
0,5 kilogram. Jika per gram emas dihargai Rp 500 ribu, nilainya mencapai
sekitar Rp 250 juta.

Selain itu Hasanain juga mendapatkan uang sebesar US$ 50 ribu dari hadiah
RMA 2011 itu. Hadiah itu sudah habis untuk membiayai pembelian tanah lahan
pembibitan tanaman dan membayar utang pembiayaan bahan bangunan fasilitas
kompleks pondok pesantrennya.

Saat ini jumlah semua santriwati Madrasah Tsanawiyah (MTS) dan Madrasah
Aliyah (MA) sebanyak 554 orang. Santriwati MTS sebanyak 318 dan santriwati
MA sejumlah 236 orang. Di lingkungan pondoknya ia menyiapkan 18 spot akses
Internet untuk keperluan belajar di ruang kelas dan juga santri yang
memiliki *laptop*.

Berkat dimuatnya kesuksesan Hasanain meraih RMA 2011 di *Tempo Edisi Bahasa
Inggris*, ia telah mendapatkan tawaran beasiswa program doktor Studi Islam
di University of Oxford (UO). Ia sudah mengisi formulir dan mengirimkannya
ke universitas itu. ‘’Ilmu itu harus dihormati,’’ ujar pria 48 tahun itu.

Setelah menerima RMA 2011 di bidang lingkungan dan menumbuhkan sikap
toleransi masyarakat sekitar pondok pesantren, Hasanain bersama mitranya di
berbagai negara akan membentuk Asosiasi Guru se-Asia. Program kerjanya
adalah mengangkat para pahlawan nasional masing-masing negara menjadi
panutan generasi mudanya. ‘’Sekarang ini banyak yang tidak mengenal
pahlawannya,’’ ujar Hasanain yang juga dijadikan warga kehormatan Kota
Manila, Filipina, itu.

Selanjutnya asosiasi tersebut melestarikan tradisi lokal dengan cara
melibatkan anak-anak dalam kegiatan masyarakat. Misalnya, anak-anak dikirim
ke desa untuk membantu petani menanam padi. “Asosiasi juga ingin menanamkan
cinta negara dan cinta Asia,’’ katanya.

*SUPRIYANTHO KHAFID

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/09/20/brk,20110920-357217,id.html
*

Kirim email ke