lolobana beurat birit urang mah kang masih keneh make prinsip nu mirip jeung UJ, mangan ora mangan sing penting ngumpul dan, ngabako is the best! KBS = kongres besar salawasna saumur2 gawena kongres weh... keun urusan aplikasi mah nomer 17 hehehe
--- In [email protected], jalakpakuan@... wrote: > > Urang sasak mirip2 urang minang teu beurat indit kaluar kampungna. Bedana > urang padang lumpat kana dagang urang sasak mah nyiar agama utamana ka saudi > arabia, akhir2 ieu ka malay jadi buruh sawit. Nu karasa ku kuring mah beuki > dieu urang sasak leuwih percaya diri ngigelan globalisasi. Ayeuna teges2 hiji > niley (vaue) nu diasah nyaeta "bersaing"! Ayeuna nyiasatan daripada gawe > buruh sawit di malay rek nyieun proyek perkebunan sawit jadi siap2 malay > leungiteun buruh sawit nu terampil. Pariwisata mah jelas kulantaran dipendet > bali ayeuna ngadeg sorangan, nyieun bandara internsional nu leuwih hade batan > bali nu kahateup hub penerbangan jadi lombok lain bali. Ari geus kitu sok ras > kaingetan ari urang sunda kumaha posisina? Ngabako bae kitu??? > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Ki Hasan <khs579@...> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 25 Aug 2011 21:53:38 > To: Ki Sunda<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang > Sunda<[email protected]> > Subject: [kisunda] Re: Tokoh - Tuan Guru Haji Hasanain Juaini > > Hasanain meraih penghargaan Magsaysay > > Heyder Affan > > BBC Indonesia > Terbaru 25 Agustus 2011 - 18:05 WIB > [image: Hasanain Juaini] > > Hasanain mengaku agama merupakan energi terbesar yang menggerakkan > kepeduliannya. > > Hasanain Juaini memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay 2011 karena > mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta > membangun kerukunan beragama. > > Penghargaan Ramon Magsaysay -yang sering disebut sebagai Nobel versi Asia > ini- diserahkan kepada Hasanain dan lima peraih lainnya di Kota Manila, > Filipina, Rabu 31 Agustus. > > Sebagai pemimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Lombok > Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat, kini namanya sejajar dengan tokoh-tokoh > seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang > juga pernah meraih penghargaan Ramon Magsaysay. > > Tahun ini, selain Hasanain, warga Indonesia lainnya yang juga memperoleh > penghargaan ini adalah Tri Mumpuni, yang memberdayakan masyarakat melalui > pembangkit listrik tenaga air yang ramah lingkungan. > > Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, pria kelahiran 1964 ini mengaku > bahwa energi terbesar yang memotivasinya dalam mengembangkan pesantrennya > adalah nilai-nilai agama. > > "Energi saya dari ajaran agama," jelas Hasanain Juaini di studio BBC di > Jakarta, sebelum berangkat ke Filipina. > > Melalui energi itulah, dia mampu menyulap lahan gundul di kawasan hutan > seluas lebih dari 33 hektar menjadi hijau dan berpohon lebat. > > Memakan waktu lebih dari 9 tahun, konservasi hutan dan ladang -yang > melibatkan santri serta warga sekitar- kini berdampak luas dan terus > berjalan. > > Komitmennya di bidang lingkungan ini juga dia praktekkan ketika > mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender dan kerukunan antar agama di > pesantren serta lingkungan di sekitarnya. > Awalnya amuk > > Sebagai pemimpin pondok pesantren yang mendalami nilai-nilai agama, alumni > Pondok Pesantren Gontor (1984) ini, menganggap kearifan terhadap lingkungan > sudah diatur dalam Al-Qur'an. > > "Kita sudah mendapatkan begitu banyak dari alam ini, maka kita harus tanya > pada diri seberapa banyak yang kita berikan kepada alam," ungkapnya, seraya > menyitir sebuah ayat dari kitab suci itu. > > Selain nilai agama, Hasanain juga menggunakan pendekatan kultur dan ekonomi. > > > Namun menurutnya, tanggungjawab terhadap alam tidak berhenti pada dirinya > sendiri. > > "Lalu, bagaimana kewajiban keluarga saya, lalu bagaimana tanggungjawab > saudara saya, tanggungjawab murid-murid saya dan tanggungjawab masyarakat > saya," katanya. > > Dari dorongan itulah, ayah empat anak ini tergerak, yang kemudian dia > tularkan kepada santri dan warga sekitar. > > Namun usaha ini tidak mudah. > > Pemahaman agama, juga kultur, ternyata tidak cukup untuk meyakinkan warga > sekitar pesantren. > > "Saya terpaksa membawa kalkulator ke mana-mana," katanya mengenang upayanya > meyakinkan warga tentang nilai ekonomi jika mereka mau melakukan > penghijauan. > > Tidak berhenti di situ. Lulusan Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas > Mataram (2006) ini harus memberikan contoh langsung agar orang-orang itu > mengikuti langkahnya. > > "Akhirnya, saya singsingkan lengan baju, saya turun langsung dan bekerja," > ungkapnya. > > "Saya sendiri mengatakan, sembilan tahun lalu bukan kerja, tapi *ngamuk*. > Melihat tanah tinggal ampasnya saja," jelasnya, seraya mengenang peristiwa > saat-saat dia baru pulang ke rumah pukul dua dini hari, setelah waktunya > dihabiskan di hutan. > > Secara jujur dia mengaku pernah putus asa, ketika dihadapkan situasi sulit. > Tapi, katanya buru-buru, "Kita bangkit melawan itu". > > "Dari segi materi saja, saya hitung uang saya sekitar Rp4,3 miliar habis. > Tidak mungkin saya tidak melanjutkannya. Saya harus lanjutkan". > > Sekarang, setelah lahan menjadi hijau, Hasanain bertambah semangat. "Dan > penghargaan Magsaysay membuat saya harus bekerja lebih keras lagi". > Berutang kepada perempuan > > Salah-satu alasan Yayasan Magsaysay menganggap Hasanain layak diberi > penghargaan adalah karena komitmennya dalam mempromosikan kesetaraan gender > di pesantren yang dipimpinnya. > > Di pondok pesantren yang didirikan tahun 1996 itu, Hasanain menerima dan > mendidik santri putri sekitar 400 siswa, selain sekitar 500 santri putra. > [image: Santri putri] > > Posisi santri putri lebih ditinggikan ketimbang santri putra. > > Dalam mendidik murid-muridnya, Hasanain mengaku tidak membeda-bedakan antara > santri putra dan putri. > > "Bahkan, karena kita merasa berutang agak lama kepada perempuan, (kita) agak > lebih ditinggikan tensinya kepada perempuan," ungkapnya. > > "Harus ada proteksi sedikit," katanya lagi. > > Dia lantas memberi contoh program komputerisasi yang diterapkan di > pesantrennya. "Saya dahulukan yang perempuan (untuk memperoleh fasilitas > komputer)". > > Secara rutin, Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini di Propinsi Nusa > Tenggara Barat ini juga mengundang sejumlah tokoh perempuan -mulai menteri > hingga bupati perempuan- ke pesantrennya, agar dapat memotivasi para murid > perempuannya. > > "Hal yang sama tidak saya berikan kepada (murid) lelaki," katanya, > terus-terang. > > Menurut Hasanain, selain didasari ajaran agama ("...tiang negara itu adalah > wanita," katanya), pilihannya lebih mendahulukan kepentingan santri putri, > karena contoh langsung dari orang tuanya. > > "Bapak saya sangat memuliakan ibu dan istrinya," Hasanain mulai bercerita. > > Suatu saat, ibunya yang mengalami stroke, meminta agar sang suami menikah > kembali, agar ada yang merawatnya. > > Tetapi apa jawaban sang ayah? "Ayah saya mengatakan: 'Di saat kamu sudah > tua, lemah, saya harus membuktikan kamu telah memilih orang yang tepat." > > Sang ayah, Haji Muhammad Djuaini, akhirnya tetap menemani ibunya, Hajjah > Jahrah, hingga 12 kemudian, sebelum ibunya akhirnya meninggal. > > "Contoh hidup dari orang tua itulah yang saya lakukan (sekarang)," kata > Hasanain agak tersendat, dan matanya membasah. > Berlatih hadapi perbedaan > > Kepada BBC Indonesia, Hasanain menyinggung pula masalah konflik antar umat > beragama di Indonesia, yang disebutnya terjadi karena masyarakat tidak > terlatih untuk menghadapi perbedaan. > > "Akibatnya, ya akan terus terjadi (kasus-kasus kekerasan atas nama agama) > seperti itu," kata Hasanain, yang sejak 4 tahun lalu dipercaya menjabat > Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama di Kabupaten Lombok Barat, NTB. > > Hal ini dia tegaskan ketika BBC Indonesia menanyakan komentarnya tentang > ledakan bom di sebuah pesantren di Desa Senolo, Kecamatan Bolo Kabupaten > Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat, bulan Juli lalu. > [image: Pesantren] > > Di pesantren yang dikelolanya, Hasanain acap menerima tamu dari > negara-negara barat. > > Ledakan yang menewaskan salah-seorang guru pesantren itu, diawali kasus > pembunuhan anggota polisi setempat yang diduga dilakukan salah-seorang > santri pesantren di wilayah tersebut. > > Padahal selama ini, kekerasan yang melibatkan pesantren jarang terjadi di > Propinsi NTB. > > Walaupun tidak memahami latar kasus tersebut, Hasanain menilai, persoalan > ini tidak terlepas dari sikap masyarakat yang tidak terlatih menerima adanya > perbedaan. > > "Inilah unsur yang tidak banyak kita lakukan," katanya. > > "Lalu tiba-tiba kita mengharapkan orang bisa hidup damai...Ini yang > dinamakan mimpi di siang bolong," katanya lagi, agak masygul > > Tetapi, tentu saja, Hasanain tidak berhenti menilai semata. > Dialog yang tak terbayang > > Dengan melibatkan para santrinya serta umat agama lain, Hasanain mengaku > pernah menggelar dialog terbuka tentang keagamaan melalui acara perkemahan. > > "Saya mengajak mereka dialog yang '*nggak kebayang*," ungkapnya. > > Dalam acara itu, peraih *Ashoka International Award for Best Fellow in > Religion and Women Empowerment* (2003) ini mempersilakan anak-anak itu > berdialog secara terbuka. > > "Saya kumpulkan mereka, lalu saya tanya: 'Hei teman, Muslim apa yang paling > kamu '*nggak* suka terhadap kegiatan teman-teman Hindu? Mereka menjawab: 'ya > misalnya, waktu kita lebaran lalu bertepatan ada Nyepi, kita nggak bisa > ramai-ramai'. > > "Lalu kepada teman Hindhu, saya tanya pula: 'Apa yang kamu paling nggak suka > terhadap Islam? Mereka jawab: 'Tengah malam, misalnya waktu kita enak tidur, > mereka terlalu cepat menghidupkan (kaset) mengajinya'. > > Curahan hati seperti ini, menurutnya, penting agar anak-anak itu akhirnya > mengetahui apa yang dipikirkan atau dirasakan para penganut agama yang > berbeda itu. > > "Nanti akan berproses, dan mereka akan memberi hati, setelah mereka tahu > dulu," ungkap Hasanain. > > "Sekarang ini 'kan mereka nggak tahu (apa yang dirasa baik atau buruk)..." > Desa madani > > Prihatin terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang disebutnya tidak > terlatih menerima perbedaan, Hasanain terobsesi mendirikan semacam desa yang > dihuni berbagai umat beragama. > > Secara agak bersemangat, Hasanain membayangkan desa itu nantinya dapat > mendidik masyarakat menghormati pluralitas. > > Selain penanaman bibit tanaman, para santri dididik terbuka soal hubungan > antar agama. > > Di dalam desa itu, warganya yang berbeda agama bisa melakukan musyawarah, > saling berkasih sayang, serta kerjasama. > > "Saya ingin membuat *prototipe* dari desa madani, " ungkapnya. > > Dia menyebut gagasan pendirian desa plural itu sebagai desa madani, karena > ingin mencontoh desa yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad di masa awal > Islam di tanah Arab, lebih dari seribu tahun lalu. > > "Desa yang dibangun Rasulullah, yang plural (seperti) itu," katanya, > setengah menganalisa. > > "Itu yang contoh yang bisa diangkat sekarang. Tidak ada yang *an > sich*muslim semua, atau tidak ada yang namanya > *moslem village*," katanya berterus-terang. > > Bahkan menurutnya, praktek hidup secara plural juga ditunjukkan para > pemimpin Islam setelah Nabi Muhammad wafat. > > "Para kalifah itu, di rumahnya tidak hanya satu agamanya," ungkap Hasanain, > yang lulus dari Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, di > Jakarta tahun 1995. > > "Kalau di rumahnya ada non muslimnya, bagaimana di desa atau di kotanya? > Fakta yang pernah itu plural," tegasnya. > > Menurutnya, dalam kehidupan luas sekarang ini, tidak bisa dihindari hidup > dengan orang yang berbeda. > > "Maka desa yang ideal yang bisa mengajarkan anggotanya bagaimana hidup dalam > perbedaan, itulah yang saya impikan," ulang Hasanain. > Mengapa pesantren > > Dunia pesantren rupanya sudah mendarah-daging pada sosok Hasanain. > > Setelah mengenyam pendidikan dasar agama di kampung halamannya di Desa > Lembuak, Kecamatan Narmada, di Lombok Barat, dia dikirim ke Pondok Pesantren > Gontor, Jawa Timur. > > Hasanain dibesarkan dalam keluarga santri. > > Di pesantren yang menggunakan kurikulum moderen itulah, Hasanain banyak > memperoleh 'ilmu', yang kelak bermanfaat ketika dia mendirikan pesantren di > kampung halamannya. > > Lulus dari lembaga pendidikan itu dan meraih sarjana hukum, dia kemudian > mendirikan Pondok Pesantren Nurul Haramain di kampung halamannya tahun 1996. > > "Semua keluarga saya adalah guru," jawabnya, ketika ditanya BBC Indonesia > tentang pilihannya menjadi Tuan Guru, panggilan hormat seperti kiayi di > Pulau Jawa. > > Pilihannya menjadi pendidik di lembaga pesantren, juga tidak terlepas dari > keyakinannya bahwa pendidikan merupakan jalan strategis untuk memajukan > bangsa. > Bagaimana dipahami awam > > Sebagai pemimpin pondok pesantren yang terlibat berbagai kegiatan sosial, > Hasanain terlatih berhadapan langsung dengan masyarakat awam. > > Ini bisa terlihat dari kemampuannya -selama lebih dari sembilan tahun- > memotivasi warga untuk terlibat dalam program penghijauan wilayah yang > gundul. > > "Pionir itu," kata Hasanain, "harus mengambil bagian yang paling berat, > bagian paling susah, dan bagian paling berisiko." > > Menurutnya, kalau peran itu tidak diambil, maka jangan bermimpi ada orang > yang mengikuti langkahnya. > > Dia mencontohkan seorang menteri transmigrasi Malaysia, yang begitu pensiun, > langsung bertransmigrasi. > > "Dia tunjukkan kepada masyarakat, bahwa transmigrasi itu menjanjikan," > katanya. > > Sebaliknya di Indonesia, ungkapnya, tidak ada mantan menteri yang setelah > pensiun lalu langsung transmigrasi. "Makanya jadi *nonsens*," tandasnya. > > "Nah, itu saya beritahu. Matangkan di tengah masyarakat konsep yang kita > yakini benar, itu nanti ada perbaikan di tengah masyarakat." > > Hasanain kemudian mengkritik sebagian pemikir Islam di Indonesia, yang > disebutnya gagal menerjemahkan pemikirannya sehingga bisa dipahami > masyarakat bawah. > > "Karena pelakunya terlalu banyak bicara, diskusi," katanya, seraya > menambahkan, seharusnya yang didiskusikan adalah nilai dasarnya semata. > > "Selebihnya lakukan di tengah masyarakat, agar anda menemukan cara, agar > kita menemukan kiat, celah-celah yang memungkinkan itu bisa dilakukan dengan > baik," jelasnya, dalam wawancara yang berlangsung usai buka puasa. > Link BBC > > BBC © 2011 > > http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/08/110825_tokohhasanainjuaini.shtml?print=1 > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
