Sumuhun, kaayaan guru honorer teu dibayar teh tos aya sataun. Kuring ngobrol 
langsung sareng salah saurang pengajar/kepsek nu gaduh guru honorer
Sakitu honorer dihonor mung 150rb-an, ni hesebeleke rek narima honor teh. Jang 
ongkos ge biheung cukup.
Acan engke teh sok aya potongan mun rapelna lila kieu mah
Beu


Sent from BelekBek®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 16 Sep 2011 19:48:25 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] Re: Atikan - Program Nyitak 500 Doktor Luar Nagri 
Pemprop Sulawesi Selatan

Beu masih keneh kieu geuning di lembur urang mah

========
Jumat, 16 September 2011
 Dana Fungsional Tahun 2009-2011 Belum juga Cair  *500 Guru Honorer Kab.
Bandung ”Bergolak"*
  CICALENGKA,(GM)-
Lebih dari 500 guru honorer SD negeri dan swasta di Kab. Bandung siap
berontak. Mereka kecewa dan sakit hati karena kurang mendapat perhatian
terkait dana fungsional yang hingga kini belum cair.

"Ketika kami menanyakannya kepada dinas terkait di Pemkab Bandung,
jawabannya selalu menyakitkan," kata Sekjen Forum Honorer Indonesia Kab.
Bandung, sekaligus guru honorer SDN Pinggirsari 2, Desa Cihawuk, Kec.
Kertasari, Kab. Bandung, Drs. Ahmad Lutfi ketika menghubungi "GM" di
Cicalengka, Kamis (15/9).

Didampingi pengurus Persatuan Guru Honorer Indonesia (PGHI) Kec. Kertasari,
Nasrudin, Ahmad mengatakan, para guru honorer kecewa terhadap kebijakan
pemerintah yang dinilai kurang profesional dalam menggulirkan dana
fungsional kepada yang berhak.

Sejak digulirkan pada 2009-2011, masih ada guru honorer yang gigit jari.
Untuk semester I (enam bulan) 2009, dana fungsional yang dicairkan Rp 1,2
juta/orang. Memasuki 2010-2011 naik menjadi Rp 1,7 juta. "Dari sekitar 4.500
guru honorer SD di Kab. Bandung, yang belum menerima dana fungsional sekitar
500 pengajar," katanya.

Padahal ratusan guru tersebut sudah memenuhi kewajiban dan menyerahkan nomor
unit pendidikan dan tenaga kependidikan (NUPTK) serta nomor rekening.

"Tetapi ketika ditanyakan kepada dinas yang berwenang di Soreang, jawabannya
selalu tidak jelas. Katanya ada permasalahan dan kesalahan dalam NUPTK dan
nomor rekening bank mereka. Dana baru cair kika kesalahan nomor rekening ini
diperbaiki. Jawabannya itu-itu saja. Para guru honorer pun merasa
diperlakukan tidak adil," katanya.

Menurutnya, nasib mereka kurang mendapat perhatian. "Seharusnya pemerintah
memberikan penjelasan yang bisa dimengerti. Para guru honorer yang NUPTK dan
nomor rekening banknya salah juga sudah memperbaikinya," katanya.

*Siap berontak*

Dikatakan Ahmad, hingga saat ini tidak ada kepastian mengenai pencairan dana
fungsional tersebut. Ketidakjelasan ini mulai dirasakan sejak 9 Agustus
lalu. "Jika tetap belum mendapat kepastian, jelas kami siap melakukan
gerakan," tandasnya.

Menurutnya, dana fungsional merupakan kebanggaan sekaligus kebahagiaan bagi
para guru honorer. Sebab setiap bulan upah mereka jauh dari standar. Apalagi
mereka yang mengajar di wilayah pinggiran seperti Kec. Kertasari, Ibun,
Pacet, Pangalengan, dan kecamatan lainnya.

"Ada yang sudah mengabdi belasan tahun. Sedangkan guru PNS, paling hanya
satu tahun saja mengajar di SD pinggiran, setelah itu buru-buru mengurus
kepindahan. Karena itu pemerintah jangan memandang guru honorer sebelah
mata. Mereka sama mengajar dan mendidik generasi muda," katanya. (B.105)**
http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110916113823&idkolom=jatinangor

Kirim email ke