Jelang Hari Pahlawan
Mr. Sjafruddin Prawiranegara bukan Pemberontak

Selasa, 08/11/2011 - 19:49

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah akhirnya memberikan gelar Pahlawan Nasional
kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Gelar itu bisa diraih setelah melalui
perjuangan panjang. Sebab, pengajuannya sudah dilakukan sejak tahun 2007,
namun ditolak pemerintah pusat.

Penolakan tersebut diduga ada hubungannya dengan stigma yang melekat dalam
benak pemerintah bahwa diproklamasikannya Pemerintah Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) yang diketuai oleh Mr Sjafruddin adalah pemberontakan.

Pihak keluarga merasa gembira dan bersyukur atas pemberian tersebut. Akan
tetapi, setelah gelar Pahlawan Nasional diterima, masih ada yang perlu
diteruskan, yaitu perjuangan almarhum Sjafruddin Prawiranegar belum selesai.

“Kami patut bersyukur dan bergembira. Alhamdulillah, meskipun Ayah tidak
mengharapkan itu, tetapi gelar itu sebagai wujud pengakuan terhadap
perjuangan ayah,” kata Aisyah Prawiranegara, putri Sjafruddin Prawiranegara
kepada “PRLM” seusai menerima gelar yang disampaikan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/11).

Gelar Pahlawan Nasional kepada Sjafruddin diterima Farid Prawiranegara dari
Presiden Yudhoyono.

Selain Aisyah, empat anak Sjafruddin lainnya juga hadir, yaitu Faridah,
Rasyid, Salvyah dan Farid. Sedangkan tiga lainnya, yaitu Chalid, Yazid dan
Chalidah tidak hadir, karena terbatas sesuai undangan yang dikirimkan.

Tampak juga mendampingi keluarga ini adalah Kepala Dinas Sosial Jawa Barat
Hj. Tati Iriani yang mewakili Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Ketua Panitia
Seabad Mr.Sjafruddin Prawiranegara, A.M.Fatwa dan Sejarawan Hj. Nina
Herlina Lubis. (A-75/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/164929

2011/3/28 Ki Hasan <[email protected]>

>
> Presiden Prawiranegara yang Dilupakan
>
>
> LIFE/James Burke
> Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin
> Dewan Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin
> Simbolon.
> Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin
> Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di
> Bukittinggi, melawan rezim Soekarno.
>  Senin, 28 Maret 2011 | 06:52 WIB
>
> *JAKARTA, KOMPAS.com *— Kiprah tokoh Sjafruddin Prawiranegara yang
> berperan penting di era Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kini
> diangkat ke dalam novel. Penulisnya, Akmal Nasery Basral, menggarapnya
> dengan judul *Presiden Prawiranegara*.
>
> Akmal, novelis kelahiran Jakarta, 28 April 1968, menekuni dunia
> jurnalistik selama 16 tahun, di antaranya sebagai wartawan *Tempo*.* *
>
> "Saya ingin menggambarkan sebagai novelis bahwa ada satu masa dalam
> kehidupan Pak Sjafruddin yang selama ini kurang dijelaskan," kata Akmal
> seusai acara peluncuran bukunya di Jakarta, Minggu (27/3/2011).
>
> Akmal melihat Sjafruddin sebagai pemimpin yang prorakyat dan memiliki
> pengorbanan yang tidak kenal pamrih. Namun, ia tak banyak dikenalkan di
> sekolah, sebagaimana nama Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan H Agus Salim.
>
> Padahal, katanya, Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi menteri
> keuangan, gubernur pertama Bank Indonesia, dan ada banyak jabatan lagi.
> Akmal termasuk yang menempatkan Sjafruddin sebagai salah satu Presiden RI.
>
> "Sebetulnya, kalaupun pemerintah tidak menulis itu sebagai presiden tapi
> Ketua PDRI, mestinya tetap bisa ditulis, yang masih menjadi masalah adalah
> sebutan presidennya, tapi sebetulnya ia kepala negara setelah Bung Karno,"
> ujarnya.
>
> Menurut dia, 10 tahun setelah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
> (PDRI), ada problem manajemen nasional sehingga muncul Pemerintahan
> Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).  Pemerintah pusat menganggap PRRI
> sebagai pemberontakan.
>
> Keterlibatan Sjafruddin dalam PRRI itu membuat peran pentingnya hilang
> selama era Orde Lama ataupun Orde Baru. Sjafruddin bahkan ikut meneken
> Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan oleh Orde Baru hal itu juga dianggap
> sebagai upaya makar.
>
> Bagi Akmal, reputasi Sjafruddin di era kemerdekaan itu tak seharusnya
> membuat dia juga dicoret dari daftar nama Presiden RI. Ia mencontohkan,
> mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon pernah terbukti salah dalam
> skandal Watergate, tetapi dalam sejarah tetap diakui sebagai presiden.
>
> Akmal mengungkapkan, Sjafruddin pun tidak mendapat penghargaan pahlawan
> nasional. Namun, namanya dipakai sebagai nama menara di kompleks kantor
> Bank Indonesia dan nama gedung di kantor Kementerian Pertahanan karena ia
> pernah menjadi menteri pertahanan dalam kabinet PDRI. "Itu, kan, lucu. Ada
> bagian pemerintah yang mengakui, tetapi secara legitimasi tidak diakui,"
> ujarnya.
>
> Sementara itu, politisi Fadli Zon yang juga menjadi narasumber dalam
> peluncuran buku novel itu mengatakan, Akmal berhasil mengangkat periode
> sejarah yang terlupakan atau bahkan mungkin dilupakan melalui judul yang
> cukup provokatif.
>
> "Kalau Pemerintah RI tak mau mengakui Sjafruddin sebagai pahlawan, saya
> kira itu keliru besar. Penentuan pahlawan itu bukan lewat lobi atau tekanan
> politik, tetapi melalui suatu kajian, dan peran PDRI itu amat penting,"
> katanya.
>
> Sementara putri kedua Sjafruddin, Sofiah Y Prawiranegara, yang juga
> menjadi narasumber, bercerita, mendiang ayahnya juga senang musik. Ia
> pernah menciptakan mars Masyumi.
>
> Masyumi adalah Majelis Syuro Muslimin Indonesia, partai politik yang
> dilarang Orde Lama dan dilanggengkan oleh Orde Baru.
>
> *Dapatkan artikel ini di URL:*
>
> http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/28/0652185/Presiden.Prawiranegara.yang.Dilupakan
>
>
>
>

Kirim email ke