Sainget HAMKA teh "Haji Abdul Malik Karim Amrullah", na jadi "Abdul Malik
Karim Abdullah" nya? Hehehe. Aya-aya wae ceuk "JK" Jarwo Kuat tea mah.

2011/11/9 Ki Hasan <[email protected]>

> Syafruddin dan Buya Hamka Pahlawan Nasional
> SELASA, 08 NOVEMBER 2011 | 17:35 WIB
>
>  *TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
> menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tujuh orang yang dianggap
> berjasa bagi bangsa. Tiga di antaranya Syafruddin Prawiranegara, Abdul
> Malik Karim Abdullah atau Buya Hamka dan Sri Susuhunan Pakubuwono X.
> Penyerahan gelar dilakukan di Istana Negara Jakarta, Selasa, 8 November
> 2011.
>
>
> Syafruddin Prawiranegara adalah Ketua Pemerintah Darurat Republik
> Indonesia yang berkedudukan di Sumatera Barat. Pemerintahan darurat
> didirikan setelah Belanda melakukan Agresi Militer ke-II dan menduduki ibu
> kota negara, Yogyakarta, pada 19 Desember 1949 dan menangkap Presiden
> Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta. Syafruddin diperintahkan oleh
> keduanya untuk mendirikan pemerintahan darurat. Mandat pemerintahan
> diserahkan kembali ke Soekarno-Hatta pada 13 Juli 1949.
>
> Putra Syafruddin, Farid Prawiranegara, mengatakan dirinya mensyukuri gelar
> pahlawan yang diberikan kepada orang tuanya. Tetapi, ia mengingatkan bahwa
> perjuangan Syafruddin belum selesai. "Masih banyak hal-hal yang perlu
> diperjuangkan. Ini merupakan warisan anak cucu yang nanti mudah-mudahan
> bisa melaksanakan," katanya ketika ditemui usai penyerahan gelar siang ini.
>
> Sementara Buya Hamka adalah ulama, aktivis politik, dan penulis yang sudah
> terjun ke dunia politik sejak 1925 serta ikut perang gerilya melawan
> Belanda di Medan pada 1945. Ia pernah menjadi Ketua Barisan Pertahanan
> Indonesia dan anggota Konstituante Masyumi pada 1947. Pada 1957 ia diangkat
> menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan pada
> 1981.
>
> Pakubuwono X diberi gelar pahlawan nasional karena peran-perannya semasa
> penjajahan Belanda. Empat orang lain yang dianugerahi gelar pahlawan
> nasional adalah pejuang dari Kalimantan Selatan Idham Chalid, pejuang dari
> Yogyakarta Ki Sarmidi Mangunsarkoro, pejuang dari Bali I Gusti Ketut Pudja,
> dan pejuang dari Yogyakarta Ignatius Joseph Kasimo.
>
> Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yang juga Ketua
> Dewan Gelar Djoko Suyanti mengatakan syarat khusus untuk mendapat gelar
> pahlawan nasional adalah pernah memmpin dan melakukan perjuangan bersenjata
> atau perjuangan politik atau perjuangan di bidang lain. "Untuk mencapai dan
> mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mengisi persatuan dan kesatuan
> bangsa," kata dia.
>
> Selain itu, mereka juga harus tidak pernah menyerah kepada musuh, serta
> melakukan pengabdian dan perjuangan sepanjang hidupnya, melahirkan gagasan
> kepemimpinan besar dan menghasilkan karya besar, memberikan konsistensi di
> dalam perjuangannya. Selain itu, perjuangannya harus bersifat nasional.
>
> *KARTIKA CANDRA*
>
>
> http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/11/08/brk,20111108-365516,id.html
>
> 2011/3/28 Ki Hasan <[email protected]>
>
>>
>> Presiden Prawiranegara yang Dilupakan
>>
>>
>> LIFE/James Burke
>> Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin
>> Dewan Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin
>> Simbolon.
>> Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin
>> Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di
>> Bukittinggi, melawan rezim Soekarno.
>>  Senin, 28 Maret 2011 | 06:52 WIB
>>
>> *JAKARTA, KOMPAS.com *— Kiprah tokoh Sjafruddin Prawiranegara yang
>> berperan penting di era Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kini
>> diangkat ke dalam novel. Penulisnya, Akmal Nasery Basral, menggarapnya
>> dengan judul *Presiden Prawiranegara*.
>>
>> Akmal, novelis kelahiran Jakarta, 28 April 1968, menekuni dunia
>> jurnalistik selama 16 tahun, di antaranya sebagai wartawan *Tempo*.* *
>>
>> "Saya ingin menggambarkan sebagai novelis bahwa ada satu masa dalam
>> kehidupan Pak Sjafruddin yang selama ini kurang dijelaskan," kata Akmal
>> seusai acara peluncuran bukunya di Jakarta, Minggu (27/3/2011).
>>
>> Akmal melihat Sjafruddin sebagai pemimpin yang prorakyat dan memiliki
>> pengorbanan yang tidak kenal pamrih. Namun, ia tak banyak dikenalkan di
>> sekolah, sebagaimana nama Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan H Agus Salim.
>>
>> Padahal, katanya, Sjafruddin Prawiranegara pernah menjadi menteri
>> keuangan, gubernur pertama Bank Indonesia, dan ada banyak jabatan lagi.
>> Akmal termasuk yang menempatkan Sjafruddin sebagai salah satu Presiden RI.
>>
>> "Sebetulnya, kalaupun pemerintah tidak menulis itu sebagai presiden tapi
>> Ketua PDRI, mestinya tetap bisa ditulis, yang masih menjadi masalah adalah
>> sebutan presidennya, tapi sebetulnya ia kepala negara setelah Bung Karno,"
>> ujarnya.
>>
>> Menurut dia, 10 tahun setelah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia
>> (PDRI), ada problem manajemen nasional sehingga muncul Pemerintahan
>> Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).  Pemerintah pusat menganggap PRRI
>> sebagai pemberontakan.
>>
>> Keterlibatan Sjafruddin dalam PRRI itu membuat peran pentingnya hilang
>> selama era Orde Lama ataupun Orde Baru. Sjafruddin bahkan ikut meneken
>> Petisi 50 bersama Ali Sadikin dan oleh Orde Baru hal itu juga dianggap
>> sebagai upaya makar.
>>
>> Bagi Akmal, reputasi Sjafruddin di era kemerdekaan itu tak seharusnya
>> membuat dia juga dicoret dari daftar nama Presiden RI. Ia mencontohkan,
>> mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon pernah terbukti salah dalam
>> skandal Watergate, tetapi dalam sejarah tetap diakui sebagai presiden.
>>
>> Akmal mengungkapkan, Sjafruddin pun tidak mendapat penghargaan pahlawan
>> nasional. Namun, namanya dipakai sebagai nama menara di kompleks kantor
>> Bank Indonesia dan nama gedung di kantor Kementerian Pertahanan karena ia
>> pernah menjadi menteri pertahanan dalam kabinet PDRI. "Itu, kan, lucu. Ada
>> bagian pemerintah yang mengakui, tetapi secara legitimasi tidak diakui,"
>> ujarnya.
>>
>> Sementara itu, politisi Fadli Zon yang juga menjadi narasumber dalam
>> peluncuran buku novel itu mengatakan, Akmal berhasil mengangkat periode
>> sejarah yang terlupakan atau bahkan mungkin dilupakan melalui judul yang
>> cukup provokatif.
>>
>> "Kalau Pemerintah RI tak mau mengakui Sjafruddin sebagai pahlawan, saya
>> kira itu keliru besar. Penentuan pahlawan itu bukan lewat lobi atau tekanan
>> politik, tetapi melalui suatu kajian, dan peran PDRI itu amat penting,"
>> katanya.
>>
>> Sementara putri kedua Sjafruddin, Sofiah Y Prawiranegara, yang juga
>> menjadi narasumber, bercerita, mendiang ayahnya juga senang musik. Ia
>> pernah menciptakan mars Masyumi.
>>
>> Masyumi adalah Majelis Syuro Muslimin Indonesia, partai politik yang
>> dilarang Orde Lama dan dilanggengkan oleh Orde Baru.
>>
>> *Dapatkan artikel ini di URL:*
>>
>> http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/28/0652185/Presiden.Prawiranegara.yang.Dilupakan
>>
>>
>>
>>
>

Kirim email ke