Adapun kisah lain dituturkan oleh  *USEP ROMLI HM Penggerak Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Raksa Sarakan di Pedesaan Kecamatan Cibiuk, Garut.*

Idiom kawas badak Cihea sering muncul untuk menggambarkan seseorang
berjalan bergegas, terburu-buru, tanpa melihat kiri dan kanan. Cihea adalah
sebuah kawasan hutan dan perkebunan di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten
Cianjur. Di situ, konon pernah ada sebuah kerajaan kecil bernama Susuru,
sezaman dengan Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor).

Sisa-sisa gambaran Kerajaan Susuru, walaupun belum terbukti secara
arkeologis, masih tampak hingga sekarang di sepanjang aliran irigasi
Sukarama yang berhulu di Sungai Cisokan. Sisa-sisa tersebut, antara lain,
berupa lapangan yang disebut alun-alun dan tampian (tempat pemandian).

Hutan Cihea sendiri sudah lenyap ditelan perkembangan pembangunan, apalagi
badak penghuninya. Masih untung tercatat dalam babasan yang masih agak
terpelihara turun-temurun.

Hutan lain yang dihubungkan dengan satwa badak adalah Cipatujah di
Kabupaten Tasikmalaya. Sebuah personifikasi berbunyi kawas diseupah badak
Cipatujah menggambarkan keadaan benda yang hancur tak bersisa, hanya
tinggal seupah (sepah) atau ampas. Seperti badak Cihea, badak Cipatujah pun
sudah lenyap tak berbekas.

Badak di bagian selatan Garut mungkin bernasib lebih baik daripada badak
Cihea dan badak Cipatujah, paling tidak mengacu pada informasi pengarang
Sunda terkenal, Muhammad Ambri, dalam bukunya Numbuk di Sue yang
diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada 1939. Di situ Ambri
mengisahkan anak-anak sekolah dari Bandung yang berwisata ke Pantai
Cilauteureun, Samudra Hindia.

Sejak keberangkatan dari Bandung, selama di perjalanan dari Cisompet ke
laut hingga kepulangan kembali, mereka selalu dirundung malang. Salah satu
penyebabnya adalah acara perburuan badak yang dihadiri Kangjeng Dalem
(bupati) sehingga semua kuda tunggangan di tepi desa dan kecamatan terpakai
oleh para camat dan kuwu yang ikut berburu.

Kehebatan profil badak dan kegaduhan para pemburunya diper-oleh tokoh
kuring dari Suanta yang menjadi gundal (pembantu) Juragan Camat yang
mendampingi Kangjeng Dalem. Numbuk di Sue merupakan karya fiksi, tetapi
cukup akurat mengungkapkan keadaan alam tahun 1930-an yang masih serba
sederhana dan lingkungan alamnya masih terpelihara. Karena itu, masih
banyak rawa di tengah hutan tempat pangguyangan badak. Leuweung Sancang

Kawasan selatan Garut memang memiliki hutan legendaris, yaitu Leuweung
Sancang. Banyak kisah mengandung kepercayaan (mitos) yang menganggap
Sancang sebagai tempat tilem (menghilang) Prabu Siliwangi. Menurut cerita
rakyat yang berhasil dikumpulkan oleh panitia Hari Buku International
Indonesia yang diprakarsai Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 1972, Prabu Siliwangi mubus (kabur menyelinap)
ke arah selatan karena dikejar-kejar anaknya, Kiansantang, agar masuk Islam.

Tiba di Hutan Sancang, ia bersama pengikut setianya menghilang. Prabu
Siliwangi mindarupa (berubah wujud) menjadi harimau putih, sedangkan
pengikutnya menjadi harimau belang manjang yang disebut maung Sancang.
Warna garis-garis hitam horizontal yang memanjang dari arah kepala ke
bagian ekor membedakan maung Sancang dengan maung Lodaya, penghuni asli
Sancang yang bergaris-garis hitam vertikal.

Konon harimau putih jelmaan Prabu Siliwangi bersemayam di sebuah goa besar
bernama Guha Garogol dan sesekali merenung menyendiri di puncak Karang
Gajah di dekat muara Sungai Cikaingan. Adapun maung Sancang mendiami
rumpun-rumpun kayu kaboa, sejenis pohon bakau, yang hanya terdapat di
pantai Samudra Hindia kawasan Sancang.

Hingga pertengahan tahun 1980-an, Hutan Sancang sebagai hutan tutupan suaka
margasatwa masih terbilang utuh, tetapi segera mengalami degradasi hebat
seiring dengan penyerobotan dan pembalakan liar pada tahun 1998. Salah satu
satwa liar penghuni Sancang, banteng, hilang lenyap tak berbekas. Mungkin
satwa itu kabur ke arah Hutan Pangandaran yang masih cocok untuk habitat
banteng atau mungkin bergelimpangan mati akibat dampak perusakan hutan.
Nasib banteng Sancang sangat mirip dengan nasib banteng Cikepuh, Kabupaten
Sukabumi, yang juga rusak terkena penyelewengan eforia reformasi.

Area Hutan Sancang kini menyempit karena sebagian terkena pembangunan jalur
jalan lintas selatan. Kondisi keamanannya sangat rawan. Kekayaan flora dan
faunanya juga sangat menyusut. Selain kehilangan banteng, Sancang juga
kehilangan berbagai jenis burung langka, seperti rangkong dan julang, serta
harimau, baik maung Sancang maupun maung Lodaya. Jenis kayu werejit yang
getahnya mengandung racun keras ikut tumpas bersama kayu-kayu hutan tropis
heterogen lainnya. Yang masih tersisa dari Hutan Sancang mungkin hanya
legenda dan mitos, yang juga mulai tergerus waktu. Hutan tutupan

Lebih tragis lagi kondisi hutan tutupan Bojonglarang di dekat Pantai
Jayanti, Kabupaten Cianjur. Hutan itu nyaris habis akibat dijadikan lahan
jalan jalur lintas selatan dan tapak jembatan Sungai Cilaki. Orang-orang
yang lewat berkendara dari dan ke Jayanti rata-rata tidak mengetahui bahwa
tanah yang mereka injak-injak adalah bekas hutan tutupan yang hingga tahun
1990-an merupakan leuweung ganggong simagonggong, leuweung si sumenem jati.
Hutan lebat dipenuhi aneka pohon dan binatang penghuninya.

Setelah hutan-hutan besar, terkenal, dan penuh legenda seperti Cihea,
Cipatujah, Sancang, Cikepuh, dan Bojonglarang sirna dari perbendaharaan
geografi Tatar Sunda, hutan mana lagi akan menyusul mulang ka kalanggengan?

Mungkin sekarang giliran hutan kota Babakan Siliwangi, yang sedang
diperebutkan para pencinta lingkungan dan pencinta keuntungan yang
cenderung mendapatkan dukungan penuh Wali Kota Dada Rosada. Mungkin saja,
walaupun hati nurani semua pihak menyatakan jangan dan tidak.

http://rizkisudrajat.wordpress.com/kisah-kaboa/

Kirim email ke