he..he...he...

 

________________________________
 Dari: Irpan Rispandi <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Senin, 2 Januari 2012 13:11
Judul: Re: [kisunda] Re: Folklor - Maung Sancang?
 

 
   
 
Burung cendrawasih terancam punah,
harimau sancang terancam punah,
paus bungkuk terancam punah.

Iraha nya "manusia terancam punah"

he..he..he..

On 01/02/2012 01:05 PM, Ki Hasan wrote: 
  
>Adapun kisah lain dituturkan oleh  USEP ROMLI HM Penggerak Lembaga 
>Pemberdayaan Masyarakat Raksa Sarakan di Pedesaan Kecamatan Cibiuk, Garut. 
>Idiom kawas badak Cihea sering muncul untuk menggambarkan seseorang berjalan 
>bergegas, terburu-buru, tanpa melihat kiri dan kanan. Cihea adalah sebuah 
>kawasan hutan dan perkebunan di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Di 
>situ, konon pernah ada sebuah kerajaan kecil bernama Susuru, sezaman dengan 
>Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor). 
>Sisa-sisa gambaran Kerajaan Susuru, walaupun belum terbukti secara arkeologis, 
>masih tampak hingga sekarang di sepanjang aliran irigasi Sukarama yang berhulu 
>di Sungai Cisokan. Sisa-sisa tersebut, antara lain, berupa lapangan yang 
>disebut alun-alun dan tampian (tempat pemandian). 
>Hutan Cihea sendiri sudah lenyap ditelan perkembangan pembangunan, apalagi 
>badak penghuninya. Masih untung tercatat dalam babasan yang masih agak 
>terpelihara turun-temurun. 
>Hutan lain yang dihubungkan dengan satwa badak adalah Cipatujah di Kabupaten 
>Tasikmalaya. Sebuah personifikasi berbunyi kawas diseupah badak Cipatujah 
>menggambarkan keadaan benda yang hancur tak bersisa, hanya tinggal seupah 
>(sepah) atau ampas. Seperti badak Cihea, badak Cipatujah pun sudah lenyap tak 
>berbekas. 
>Badak di bagian selatan Garut mungkin bernasib lebih baik daripada badak Cihea 
>dan badak Cipatujah, paling tidak mengacu pada informasi pengarang Sunda 
>terkenal, Muhammad Ambri, dalam bukunya Numbuk di Sue yang diterbitkan pertama 
>kali oleh Balai Pustaka pada 1939. Di situ Ambri mengisahkan anak-anak sekolah 
>dari Bandung yang berwisata ke Pantai Cilauteureun, Samudra Hindia. 
>Sejak keberangkatan dari Bandung, selama di perjalanan dari Cisompet ke laut 
>hingga kepulangan kembali, mereka selalu dirundung malang. Salah satu 
>penyebabnya adalah acara perburuan badak yang dihadiri Kangjeng Dalem (bupati) 
>sehingga semua kuda tunggangan di tepi desa dan kecamatan terpakai oleh para 
>camat dan kuwu yang ikut berburu. 
>Kehebatan profil badak dan kegaduhan para pemburunya diper-oleh tokoh kuring 
>dari Suanta yang menjadi gundal (pembantu) Juragan Camat yang mendampingi 
>Kangjeng Dalem. Numbuk di Sue merupakan karya fiksi, tetapi cukup akurat 
>mengungkapkan keadaan alam tahun 1930-an yang masih serba sederhana dan 
>lingkungan alamnya masih terpelihara. Karena itu, masih banyak rawa di tengah 
>hutan tempat pangguyangan badak. Leuweung Sancang 
>Kawasan selatan Garut memang memiliki hutan legendaris, yaitu Leuweung 
>Sancang. Banyak kisah mengandung kepercayaan (mitos) yang menganggap Sancang 
>sebagai tempat tilem (menghilang) Prabu Siliwangi. Menurut cerita rakyat yang 
>berhasil dikumpulkan oleh panitia Hari Buku International Indonesia yang 
>diprakarsai Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB 
>(UNESCO) pada 1972, Prabu Siliwangi mubus (kabur menyelinap) ke arah selatan 
>karena dikejar-kejar anaknya, Kiansantang, agar masuk Islam. 
>Tiba di Hutan Sancang, ia bersama pengikut setianya menghilang. Prabu 
>Siliwangi mindarupa (berubah wujud) menjadi harimau putih, sedangkan 
>pengikutnya menjadi harimau belang manjang yang disebut maung Sancang. Warna 
>garis-garis hitam horizontal yang memanjang dari arah kepala ke bagian ekor 
>membedakan maung Sancang dengan maung Lodaya, penghuni asli Sancang yang 
>bergaris-garis hitam vertikal. 
>Konon harimau putih jelmaan Prabu Siliwangi bersemayam di sebuah goa besar 
>bernama Guha Garogol dan sesekali merenung menyendiri di puncak Karang Gajah 
>di dekat muara Sungai Cikaingan. Adapun maung Sancang mendiami rumpun-rumpun 
>kayu kaboa, sejenis pohon bakau, yang hanya terdapat di pantai Samudra Hindia 
>kawasan Sancang. 
>Hingga pertengahan tahun 1980-an, Hutan Sancang sebagai hutan tutupan suaka 
>margasatwa masih terbilang utuh, tetapi segera mengalami degradasi hebat 
>seiring dengan penyerobotan dan pembalakan liar pada tahun 1998. Salah satu 
>satwa liar penghuni Sancang, banteng, hilang lenyap tak berbekas. Mungkin 
>satwa itu kabur ke arah Hutan Pangandaran yang masih cocok untuk habitat 
>banteng atau mungkin bergelimpangan mati akibat dampak perusakan hutan. Nasib 
>banteng Sancang sangat mirip dengan nasib banteng Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, 
>yang juga rusak terkena penyelewengan eforia reformasi. 
>Area Hutan Sancang kini menyempit karena sebagian terkena pembangunan jalur 
>jalan lintas selatan. Kondisi keamanannya sangat rawan. Kekayaan flora dan 
>faunanya juga sangat menyusut. Selain kehilangan banteng, Sancang juga 
>kehilangan berbagai jenis burung langka, seperti rangkong dan julang, serta 
>harimau, baik maung Sancang maupun maung Lodaya. Jenis kayu werejit yang 
>getahnya mengandung racun keras ikut tumpas bersama kayu-kayu hutan tropis 
>heterogen lainnya. Yang masih tersisa dari Hutan Sancang mungkin hanya legenda 
>dan mitos, yang juga mulai tergerus waktu. Hutan tutupan 
>Lebih tragis lagi kondisi hutan tutupan Bojonglarang di dekat Pantai Jayanti, 
>Kabupaten Cianjur. Hutan itu nyaris habis akibat dijadikan lahan jalan jalur 
>lintas selatan dan tapak jembatan Sungai Cilaki. Orang-orang yang lewat 
>berkendara dari dan ke Jayanti rata-rata tidak mengetahui bahwa tanah yang 
>mereka injak-injak adalah bekas hutan tutupan yang hingga tahun 1990-an 
>merupakan leuweung ganggong simagonggong, leuweung si sumenem jati. Hutan 
>lebat dipenuhi aneka pohon dan binatang penghuninya. 
>Setelah hutan-hutan besar, terkenal, dan penuh legenda seperti Cihea, 
>Cipatujah, Sancang, Cikepuh, dan Bojonglarang sirna dari perbendaharaan 
>geografi Tatar Sunda, hutan mana lagi akan menyusul mulang ka kalanggengan? 
>Mungkin sekarang giliran hutan kota Babakan Siliwangi, yang sedang 
>diperebutkan para pencinta lingkungan dan pencinta keuntungan yang cenderung 
>mendapatkan dukungan penuh Wali Kota Dada Rosada. Mungkin saja, walaupun hati 
>nurani semua pihak menyatakan jangan dan tidak. 
>http://rizkisudrajat.wordpress.com/kisah-kaboa/
>  
> 
  
      

Kirim email ke