Kisah Kaboa Saksi Siliwangi
Termasuk kayu *kaboa* yang dipercaya mengandung tuah khusus. Tuah “maung Sancang”. Jenis kayu mirip bakau ini, konon hanya tumbuh di hutan Sancang. Itu pun terbatas di sekitar muara Sungai Cipareang. Menurut Mang Andan — salah seorang narasumber folklor (ceritera rakyat) Kab. Garut untuk Tahun Buku Internasional Unesco, tahun 1972 — kayu *kaboa*menjadi saksi utama perjanjian antara Kiansantang dengan Prabu Siliwangi. Sambil memegang sepotong kayu *kaboa*, Prabu Siliwangi menyatakan kepada Kiansantang bahwa dirinya tidak akan dapat mengikuti ajakan Kiansantang karena akan “ngahiang” (lenyap tanpa bekas) bersama anak buahnya yang setia. “Setelah *ngahiang*, Prabu Siliwangi kadang-kadang menampakkan diri dalam wujud harimau putih dan menghuni Guha Garogol di tengah hutan Sancang. Para nelayan sering melihat harimau putih itu pada senja hari sedang *ngadakom*di puncak Karang Gajah. Karang tinggi besar di pantai curam penuh gelombang, sebelah timur muara Sungai Cipangisikan. Para pengikutnya berubah menjadi harimau belang memanjang,” kisah Mang Andan. Harimau belang memanjang inilah yang disebut “Maung Sancang” dan suka “bersemayam” di kayu *kaboa*. R.H. Mohammad Affandi, dalam bukunya “Bandung Baheula” (1969), bercerita tentang seorang penggemar tongkat. Dari ratusan tongkat miliknya, ada sebuah yang terbuat dari kayu *kaboa*. Tiap malam Jumat, tongkat itu sering menimbulkan suara gaduh. Waktu dicoba diintai, di ruang peyimpanan tongkat, tampak sesosok tubuh berbulu sedang duduk-duduk santai. Seekor harimau. Keesokan harinya, pemilik tongkat mendadak sakit keras. Atas anjuran seseorang, ia harus menjual atau memberikan tongkat kayu *kaboa* itu jika ingin segera sembuh. Tentu saja, anjuran itu dituruti. Selain ingin sembuh, ia juga takut jika di rumahnya ada tongkat “persemayaman” harimau. ========================================= http://rizkisudrajat.wordpress.com/kisah-kaboa/
