Mas Faqih....di Indonesia, meski sudah banyak duit dikorupsi tapi gak 
pernah terbukti tuh ada "koruptor"....:)

Saya kira masalahnya bermuara pada banyak hal dalam NU yang masih 
menjadi -meminjam istilah mas ulil- wilayah "abu-abu". Sekian aturan-
aturan, kriteria-kriteria, definisi-definisi menjadi "teks" yang 
masih muawwal (multi interpretatif). 

Di samping itu, tentu juga masih banyak hal dalam NU sampai saat ini 
dan entah sampai kapan masih saja di "awang-awang", masih belum 
disepakati -kontraversial- dan belum dijadikan aturan baku, di ad-art 
kan.

Saya kira, NU perlu mengatasi semua itu secepatnya dan kemudian 
diartikulasikan secara konsekwen, tegas dan nyata. Hasilnya adalah 
supremasi ad-art bahkan transformasi pola pandang, world view, 
seluruh warga NU. Jika perlu, sediakan dan jelaskan metodologi khusus 
untuk membaca ad-art. 

Lolosnya HM menjadi ketua PBNU kembali adalah karena figur Mbah Sahal 
yang kurang berani dan tegas, seharusnya HM bisa terjerat karena 
pertimbangan moral, track-record secara makro dan mikro dst. Bukan 
Mbah Sahal yang menjerat tapi artikulasi ad-art secara tegas dan 
ijtihad yang berani.


sekian dulu,
anismasduki 


--- In [EMAIL PROTECTED], "Muhammad.Faqih" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kalau memang masalahnya hanya "10 orang koruptor", kenapa tidak 
diselesaikan 
> di pengadilan saja. Itulah makna kedaulatan hukum yang sebenarnya.
> Kiyai Sahal sebagai Rais Am memang punya hak untuk memveto menolak 
calon Ketua 
> Umum, tetapi ketidak sediaan Kiyai Sahal untuk menggunakan hak veto 
nya, 
> merupakan indikasi bahwa beliau menginginkan tegaknya demokrasi di 
NU.
> 
> Apa nggak begitu mas Anis Masduki?
> 
> Salam,
> 
> 
> >===== Original Message From "Anis Masduki" <[EMAIL PROTECTED]> =====
> >Memahami Arti Sebuah Kongres
> >
> >Oleh: Abdurrahman Wahid
> >
> >Muktamar NU ke-31 di Boyolali, untuk selanjutnya kita namai 
kongres,
> >baru saja usai. Ternyata menjawab pernyataan penulis dalam sebuah
> >tulisan beberapa waktu yang lalu, bahwa kongres tersebut mempunyai
> >dua wajah. Namun hal yang sama sekali tidak penulis perkirakan, 
yaitu
> >bahwa para sesepuh NU memerintahkan penulis untuk mendirikan sebuah
> >organisasi baru di luar NU formal yang ada. Penulis merasa sangat
> >sedih sekaligus sangat bangga dengan penunjukan tersebut. Sangat
> >sedih, karena ia harus meninggalkan NU yang selama ini dilayaninya
> >dengan menjadi pengurus sejak 1979. Sejak hasil Muktamar NU ke-26
> >tersebut, segera penulis menjadi Khatib Awal PBNU di bawah sang 
kakek
> >KH. Bisri Syansuri sebagai Rais ` Aam. Kemudian NU terbelah dua, 
blok
> >Situbondo di bawah pimpinan KH. As'ad Samsul Arifin dan blok Cipete
> >di bawah pimpinan DR. Idham Chalid.
> >
> >Pertentangan antara kedua blok itu berjalan secara "lucu", karena
> >dengan sekretariat tetap satu, berkantor dan menggunakan alamat 
yang
> >sama dan hanya berbeda dalam nomor surat saja. Penulis menjadi 
orang
> >yang mengendalikan pihak blok Situbondo, dan H. Chalid Mawardi
> >mengendalikan pihak blok Cipete. Sedangkan DR. Fahmi Syaifuddin
> >Almarhum menjadi perantara antara kami berdua. Karena antara 
penulis
> >dan H. Chalid Mawardi tidak pernah ada pertentangan (bahkan terikat
> >hubungan kekeluargaan karena perkawinan), maka NU `aman-aman' saja.
> >Hal inilah yang sebenarnya penulis ingini, agar terjadi dalam
> >hubungan antara KH. M. Sahal Mahfudz sebagai Rais `Aam dan penulis
> >sendiri untuk selanjutnya. Kalau ini terjadi, toch pada akhirnya
> >penulis dan teman-teman lain di lingkungan NU (yang pada waktu itu
> >sudah dapat `menumbuhkan keberanian') dapat memperbaiki NU secara
> >pasti.
> >
> >Dalam pertemuan antara penulis dan Dr. KH. A. M Sahal Mahfudz di
> >jalan Adi Sucipto (dekat Manahan Solo) penulis bertanya kepadanya,
> >dapatkah beliau melarang KH. Drs. Hasyim Muzadi untuk menjadi salah
> >seorang anggota Pengurus Besar Nahdlatul `Ulama (PBNU) periode 
2004-
> >2009? Ia menjawab tidak dapat melakukan hal itu apapun alasannya. 
Itu
> >berarti ia `merelakan' perpecahan dalam tubuh NU yang penulis
> >harapkan pada waktunya dapat diselesaikan dengan tetap berpegang
> >kepada perintah tertulis para sesepuh (baca: Ulama Sepuh) untuk
> >mendirikan organisasi baru, yang berarti juga benar-benar 
menjadikan
> >NU terbagi dua, pihak struktural (dalam hal ini PBNU dibawah 
pimpinan
> >Dr. KH. AM Sahal Mahfudz), dan organisasi baru yang
> >penulis "jalankan" dipimpin para sesepuh itu.
> >
> >Persolannya sederhana saja: dapatkah beberapa ulama yang memimpin
> >PBNU sekarang "mengendalikan" organisasi tersebut, dan "tidak
> >dikalahkan" oleh kesepuluh orang (yang sebagian bermasalah sudah
> >lebih dari 3 kali menjadi anggota PBNU, masalah kejujuran moral dan
> >kepremanan yang "melecehkan" para sesepuh) yang dipimpin oleh Drs. 
H.
> >Hasjim Muzadi itu? Sekarang yang terpenting adalah bagaimana 
menjaga
> >agar kedua organiasi itu tidak berbenturan, karena hal itu akan
> >mengakibatkan keterpecah-belahan yang dilarang oleh kitab suci Al-
> >Qur'an, yaitu dalam ayat "Berpeganglah kalian pada tali Allah 
secara
> >keseluruhan, dan jangan terpecah belah" (Wa'tashimu bi habli Allahi
> >Jami'an wala tafarraqu).
> >
> >Mengapakah adanya kedua organisasi dapat `dibiarkan' di kalangan
> >Nahdliyin? Karena kitab suci kaum muslimin juga yang
> >mengatakan: "Sesungguhnya telah ku-ciptakan kalian lelaki dan
> >perempuan, dan ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
> >bangsa agar saling mengenal" (Inna khlaqnakum min dzakarin wa untsa
> >wa ja`alnakum syu`uban wa qabaila li ta`arafu) hingga akhir ayat.
> >Jadi, masalahnya sekarang bagaimana kedua organisasi dapat berbeda
> >tanpa membuat kaum Nahdliyin terpecah. Disinilah kearifan penulis 
dan
> >Dr. KH. A M Sahal sekali lagi diuji. Karena Drs. KH Hasyim Muzadi
> >tidak seperti DR. KH. Idham Chalid yang bersedia mengalah kepada 
para
> >sesepuh NU dalam Muktamar ke-27 di Asembagus, dengan tidak
> >mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU sehingga keutuhan
> >organisasi "dapat diselamatkan".
> >
> >Sudah tentu hal ini berarti kesediaan untuk bertemu dan berbicara
> >antara para sesepuh, yang memerintahkan berdirinya organiasi baru 
itu
> >dengan para ulama yang mendukung PBNU. Cukup banyak kegiatan yang
> >dapat dihadiri kedua belah pihak bersama-sama, tanpa harus bertolak
> >belakang antara mereka dalam gerak kehidupan sehari-hari. Ini 
berarti
> >kesediaan untuk bersilahturahmi antara kedua belah pihak, dengan
> >menggunakan berbagai "kesempatan", seperti berbagai peringatan 
hari-
> >hari besar, acara perhelatan (seperti perkawinan) dan hari-hari
> >peringatan nasional. Sudah tentu, kehidupan pondok pesantren dan
> >hubungan kekeluargaan sangat dekat antara para warga pondok
> >pesantren, akan menjadi wahana komunikasi antar warga seperti yang
> >dimaksudkan itu. Hal-hal semacam inilah yang dapat menjadi penjaga
> >hubungan antar warga NU sendiri seperti dikemukakan diatas.
> >
> >Mengapakah penulis mengemukakan hal itu? Karena melihat beberapa
> >indikator yang obyektif seperti akan berakhirnya krisis multi-
dimensi
> >pada ujung tahun ini. Nah, apa yang akan menjadi kesudahan dan 
proses
> >itu? Jawabnya adalah salah satu antara dua hal berikut: kita tetap
> >menjadi bangsa yang kecil, lemah dan miskin, atau mengatasi krisis
> >itu sehingga kita mampu menciptakan bangsa yang kuat dan negara 
yang
> >besar. Sudah tentu kita ingin yang berjalan adalah jawaban kedua.
> >Munculnya kemampuan untuk menjadi bangsa yang besar dan negara yang
> >kuat, adalah kalau benar-benar kita menuju kepada tegaknya 
demokrasi
> >yang harus diwujudkan dalam bentuk kedaulatan hukum yang tuntas,
> >perlakuan sama pada seluruh warga negara tanpa pandang bulu asal-
usul
> >mereka, kemerdekaan berbicara pendapat, pengembangan SDM yang 
memadai
> >dan keadaan yang mantap dalam kehidupan bersama para anak bangsa.
> >
> >Untuk mencapai sasaran-sasaran diatas diperlukan hal yang sama
> >diantara para warga NU. Karena itu prioritas tindakan-tindakan
> >yang "harus" kita ambil adalah memelihara keutuhan NU baik secara
> >kolektif maupun individual diantara para warganya. Penulis tidak
> >dapat melukiskan dengan tepat tindakan apa yang dilakukan untuk
> >menuju ke arah itu, yang baru terasa makna dan artinya dikala
> >ada "ancaman-ancaman perpecahan" tersebut. Penulis menyadari, 
menjaga
> >terlaksananya sekian macam kegiataan untuk mencapai keadaan itu
> >tidaklah mudah. Apalagi di kalangan warga NU yang demikian 
heterogen
> >dan memiliki pola hidup yang memang tidak "di desain" untuk itu.
> >Memang benar klaim bahwa NU adalah gerakan Islam terbesar di 
seluruh
> >dunia, yang mengharuskan kita untuk mencari unsur-unsur yang
> >membuatnya besar. Dan itulah yang tampak dalam berbagai kegiatan 
yang
> >semula tidak dirasakan sebagai demikian.
> >
> >Jelaslah dengan demikian bahwa arti kehadiran NU menjadi sangat
> >penting, kalau kita menginginkan keadaan dimana kita menjadi bangsa
> >yang kuat dan negara yang besar. Sudah tentu NU yang bersatu,
> >sehingga tenaga dan kekuatannya tidak terpencar-pencar dan terfokus
> >seperti yang kita perlukan. Hal ini hanya akan dapat tercapai jika
> >secara sadar warga NU menghindarkan diri dari keterpecah-belahan. 
Dan
> >untuk menghindari hal itu, tidak berarti mereka harus melakukan 
upaya
> >penyeragaman (uniformisasi) kehidupan mereka dalam segenap 
aspeknya.
> >Kita percaya para warga NU cukup dewasa, sehingga mereka tidak akan
> >melakukan tindakan-tindakan yang akan memecah-belah organiasi yang
> >mereka cintai itu. Dan yang akan menjalani proses alami menuju 
kepada
> >perbenturan bangsa yang kuat dan negara yang besar. Proses yang
> >berintikan upaya melestarikan apa yang kita inginkan untuk masa
> >depan, dan membuang apa yang mungkin mengganggu kita saat itu 
adalah
> >sebuah proses sejarah yang terjadi dimanapun, bukan?
> >
> >
> >
> >--- In [EMAIL PROTECTED], "Muhammad.Faqih"
> ><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >> >===== Original Message From "nur munir" <[EMAIL PROTECTED]> =====
> >> >Alhamdulillah,
> >> >tapi.....nanti lain kali kalau sudah beramal jangan ditunjuk-
> >tunjukkan lagi
> >> >yaa
> >> >yang ikhlas saja.
> >> >wassalamu'alaikum
> >>
> >> Yang beramal itu Pak Ghoffar, pak Kusno, Pak Agus, Mas Ifan,
> >delegasi NU UK.
> >> Yang menunjuk-nunjukkan dan menyombong-nyombongkana dan ya ria
> >adalah saya.
> >>
> >> Tanyakan Gusti Allah, apakah mereka masih diberi pahala.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> 
>_____________________________________________________________________
_
> >http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU 
Mesir dan 
> KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> >~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> >Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal 
Anda harus 
> meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> >[EMAIL PROTECTED]
> >
> >Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke