Surat Jembatan Sembilan:
       
       
      TANAHAIR NILAI PILIHAN       
       
       
      Agustus 2005 lalu, di Pusat Dokumentasi Sastra  H.B.Jassin , Taman Ismail 
Marzuki Jakarta, untuk filem dokumenter yang sedang  ia buat , penyair Putu Oka 
Sukanta, menanyaiku:Apakah Anda  dendam pada Soeharto? Pertanyaan senada bahkan 
 serupa telah diajukan juga oleh Ishadi S.K,   Presiden PT. Televisi 
Transformasi Indonesia ,  ketika berjumpa di Paris. Baik kepada Putu  Oka 
Sukanta mau pun kepada Ishadi S.K. jawaban saya sama  bahwa saya tidak 
mempunyai dendam, saya  mau keadilan ditegakkan, walau pun saya telah  
diperlakukan tidak adil , kewarganegaraan dihilangpaksakan  dan untuk 
memeperolehnya  kembali, untuk mendapatkan kembali  kewarganegaraan Indonesia 
itu saya dibebani syarat-syarat yang tidak sederhana.  Bahkan orang nomor satu 
propinsi yang membanggakan gelar sarjana hukumnya  sempat mengatakan saya 
sebagai ‘mengkhianati Indonesia’ ketika saya dalam  keadaan stateless, 
staatloos, mengambil kewarganegaraan Perancis. Orang nomor  satu propinsi dan 
yang sarjana hukum itu
 dalam kesimpulannya lupa sejarah dan  latarbelakang mengapa demikian terjadi, 
bukan hanya terhadap diri saya tetapi  juga terhadap sekian banyak mahasiswa 
dan orang-orang yang menolak mengutuk  Presiden Soekarno pada masa meletusnya 
Tragedi Nasional September 1965.  Yang lebih hebat bahwa pihak kehakiman  
Palangka Raya pernah meragukan apakah saya benar dilahirkan di Katingan  
sementara ia tahu lataqrbelakang keluarga saya. Menjawab orang pertama  
kehakiman Palangka Raya yang juga orang `Kalteng, saya katakan bahwa orang se  
Katingan bisa menjadi saksi untuk menjawab keraguan Anda, termasuk orang-orang  
yang turut memperjuangkan pengibaran Merah Putih di propinsi ini jauh sebelum  
Anda lahir, dengan mengadaikan kepala mereka. Dari sikap dan keraguan begini,  
saya sangat merasakan adanya kepongahan kekuasaan yang merasa memonopoli hak  
keindonesiaan, menjadi Indonesia,  hak  kewarganegaraan Indonesia, dan bahkan 
memonopoli kebenaran .   Saya mengkhawatirkan bahwa perasaan  memonopoli
 ini hanya merusak dan menghancurkan Republik dan Indonesia serta  menyanggah 
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. 
       
       
      Dalam hubungan ini, waktu berada   di Yogya, ada seorang sarjana lulusan 
Gadjah Mada dan kemudian menjadi  pengajar di universitas terkemuka ini 
menyatakan bahwa keinginan pulang dan  memiliki kembali kewarganegaraan 
Indonesia  dinilainya sebagai ‘kelelahan dan ingin mati di Indonesia’.  
Menjawab pertanyaan yang diajukan di forum  Universitas Atmajaya Yogyakarta 
ini, saya katakan bahwa secara semangat  sebenarnya saya ingin hidup tanpa 
mati, bukan hanya sekedar ‘ingin hidup seribu  tahun lagi’,  dan ketika memilih 
nilai  republiken dan keindonesiaan – bagian dari nilai-nilai republiken itu – 
saya  tidak menghiraukan kelelahan.  
       
       
      Pertanyaan begini kunilai tidak lepas dari hasrat pada kemapanan dan  
dari kedudukan mapan sang penanya yang mengukur besar kecil baju orang lain  
dari apa yang ia kenakan, kedangkalan melihat manusia dan pertarungan untuk  
esok.  Bahkan barangkali , esok itu sudah  tidak ada padanya. Jika ia seorang 
penyair, dengan pertanyaan demikian ia tidak  lain dari seorang yang sudah mati 
selagi masih hidup. Paling tidak hilang  kesadaran kepenyairannya.
       
       
      Yang lebih menyedihkan adalah pernyataan seorang wartawan daerah yang  
mengatakan bahwa ‘apa sih gerangan sulitnya pulang ke tanahair bagi Anda. Hutan 
 dan gunung cukup luas untuk Anda bersembunyi’ .   Menjawab pertanyaan dan 
pernyataan ini, saya katakana bahwa saya pulang  untuk untuk mati tapi untuk 
hidup dan lebih-lebih bukan untuk bersembunyi,  sambil menahan diri untuk tidak 
menelanjangi kedunguan pernyataan dan  pertanyaan demikian.
       
      Pernyataan-pernyataan, keraguan dan pertanyaan-pertanyaan di atas  bagi  
saya memperlihatkan adanya defisit  rasa keadilan, minimnya pengetahuan sejarah 
dan politik, cacatnya hati nurani  serta kemanusiaan di negeri ini.  Karena  
itu ketika menjawab pertanyaan Putu Oka Sukanta, sang penyair, dan Ishadi S.K.  
yang Presiden PT Televisi Transformasi Indonesia, saya katakan bahwa saya tidak 
 mempunyai dendam, yang saya inginkan adalah keadilan, nilai republiken dan  
nilai-nilai manusiawi ditegakkan di negeri ini dan di mana pun. Nilai-nilai ini 
berlaku pada siapa saja, juga pada Soeharto. Kekalahan,  kejatuhan sehingga 
membuat saya jadi anak kembara, tidak meninggalkan dendam  tapi saya lihat 
sebagai resiko dari suatu pilihan nilai.  Yang memilih punya keniscayaan untuk  
menyetiai pilihan dan kata sebagai takaran kadar kesungguhan akan pilihan. 
Memilih dan mencintai  pilihan tapi tidak mencintainya sama dengan kemunafikan. 
 Artinya pertama-tama kita memilih kemudian  menyetiai dan
 mencoba dengan segala daya mewujudkannya. Airmata dan darah  adalah bagian 
dari pilihan dan setia ini. Ujud dari suatu kadar pilihan dan  kesetiaan. 
Karena itu saya bisa mengormati Ferdinand Celine yang pro nazi  Hitler atau 
Taufiq Ismail yang anti komunis , sekalipun saya tidak menyetujui  mereka. Jika 
orang-orang yang berbeda pilihan nilai ini bisa berdialog tenang  dan sehat, 
barangkali dari jumpa demikian akan didapatkan masukan berharga bagi  banyak 
orang. Melalui dialog demikian argumen akan berhadapan dengan argumen,  data 
berhadapan dengan data.   
       
       
      Dalam hal ini masyarakat sastra Perancis tetap mencatat Ferdinand  Celine 
sebagai pengarang besar mereka sekalipun tidak menyetujui sikap dan  pandangan 
Celine.  Dengan sikap ini saya  melihat Perancis menyetiai sikap seorang free 
thinker bahkan  Le Pen, tokoh utama partai Front Nasional  yang 
berkencenderungan neo-nazi sempat menjadi calon presiden Perancis  tandingan 
Jacques Chirac dalam pemilu yang lalu. Penghormatan pada free thinker  dan 
pilihan ini, di Perancis juga ditunjukkan oleh adanya sistem kohabatasi  dalam 
mengelola negara dan negeri.   Kohabitasi artinya dua kelompok politik berbeda 
pandang mengelola  bersama negara dan negeri sesuai dengan ketentuan konstitusi 
yang dijadikan  patokan ‘aturan main’.
       
       
      Dengan ini saya sedang mengatakan bahwa pilihan nilai adalah yang  
pertama dan daya resistensi adalah langkah lanjut, atau tahap berikut dari  
pilihan dan cinta,  yang menunjukkan  munafik tidaknya kita pada pilihan nilai 
itu, artinya kadar dari suatu pilihan.  Sebab ada yang tidak berani 
menyetiainya dengan segala resiko. Resiko bisa  memudarkan pilihan dan cinta.
       
       
      Kasus penyair Aime Cesaire yang menolak bertemu dengan  Sarkozy karena 
menanggap kolonialisme itu  berjasa, bagi saya sebuah kasus yang berkata 
banyak. Aime Cesaire bersiteguh  pada pendirian anti kolonialisme, penindasan 
dan penghisapan, kesetaraan anak  manusia seperti yang tertuang dalam ide 
republiken.  Tapi di pihak lain, Aime Cesaire juga agaknya  tidak menyokong 
gerakan kemerdekaan Martinik dan Guadalup. 
       
       
      Dari sikap penyair Aime Cesaire ini  dalam benak saya lalu muncul 
pertanyaan:  Mengapa Aime Cesaire bersikap demikian? 
       
       
      Saya hanya bisa menduga-duga berdasarkan sedikit  pengetahuan akan 
riwayat hidup sang penyair, bahwa sikap demikian,  muncul dari pandangan bahwa 
etnik, bangsa  bahkan agama hanyalah perbatasan semua bagi nilai-nilai 
republiken dan  kemanusiaan. Perbatasan semu ini dilahirkan oleh kondisi 
tertentu dan sejarah  tertentu yang patut diperhitungkan. Dengan dugaan ini, 
saya sampai pada  kesimpulan  filosof  Perancis, Paul Ricoeur, yang baru 
meninggal  Mei 2005 lalu, bahwa pada galibnya ‘kemanusiaan itu tunggal’.  
‘Tunggal’ artinya tidak punya tanahair.  Kemanusiaan adalah tanahair anak 
manusia itu  sendiri sementara nilai anti kemanusiaan punya tanahair sendiri 
lagi .  Dua nilai ini saling rebutan wilayah dan  pengikut.  Bisakah ada 
kohabitsi antara  kedua nilai ini? 
       
      Jika demikian maka pertanyaan inti saya menjadi:  Di manakah tanahair 
nilai pilihan? Apakah nilai pilihan dan kemanusiaan itu  mempunyai tanahair? 
       
       
      Kemunafikan adalah hutan rimbun sering dijadikan  tempat sembunyi aman 
bagi ketidaksetiaan yang pengecut dalam membela nilai  apalagi jika sedang dan 
sudah berhadapan dengan resiko, lebih-lebih di hadapan  ajal. Kemunafikan  
sering membuat kita tak segan bermuka dua pada hakekat diri. Di hutan rimbun  
ini nilai pilihan dibantai, dimasakre, sehingga jika menggunakan ungkapan  
Rendra, bukan hanya ‘tubuhku yang seperti anjing’ tapi juga ‘jiwaku’. Puisi 
murni  pun tak lagi bisa ditulis.***
        
       
      Paris, Desember 2005.
      JJ.Kusni
    

                
---------------------------------
Yahoo! Mail - now with Autocomplete that helps fill email addresses. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke