Mas Nagan,
Saya belum seberapa faham ihwal gagasan anda. Kenapa mesti distandarkan?
Standar bagaimana yang anda maksud? Apakah standar lulusan pesantren saja
tidak cukup? Mungkin bisa lebih dijelaskan. Saya sepakat dengan semangat
anda, barangkali menjadi diskusi yang menarik.

trims


On 4/11/07, nagan singosari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   saya pernah bertemu dengan pak Samsul Islam yang merupakan salah satu
> murid kesayangannya Gus Ud.
> Dia pernah cerita bahwa dahulu saat ada seseorang Ahli Ilmu mau mengajar
> sesuatu keilmuan di Masjid Jami' Malang, ada tim yang terdiri dari beberapa
> kiai yang menguji orang tersebut.
> Orang tersebut berdiri di depan para kiai itu. Dan para kiai memberikan
> pertanyaan-pertanyaan segala sesuatu tentang keilmuan tersebut. Bila orang
> tersebut lolos maka orang tersebut mendapat rekomendasi untuk
> mengajarkannya.
> Proses tersebut tidak diketahui oleh masyarakat umum, sehingga tidak Ahli
> ilmu tersebut tidak akan malu bila gagal, tetapi mungkin hanya malu kepada
> para kiai yang mengujinya.
> karena tidak dilembagakan maka budaya yang baik ini hilang begitu saja.
> Tidak ada standarisasi tentang keilmuan seorang kiai.
> Kalaulah NU membuat suatu kelembagaan untuk men-standar-kan keilmuan dari
> seorang kiai sehingga akan menimbulkan suatu sertifkasi keahlian dalam
> keilmuan keagamaan di lingkungan NU, akan membuat lembaga NU suatu lembaga
> pertama yang memberikan hal itu.
> Sehingga nantinya semua para kiai atau orang-orang yang ingin memberikan
> keilmuannya untuk warga NU harus memiliki sertifikasi tersebut. Sehingga
> garis-garis keilmuan keagamaan dari NU akan dapat terlestarikan.
>
> salam
>
>
> ---------------------------------
> Bored stiff? Loosen up...
> Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke