http://www.suaramerdeka.com/
Radikalisme, Modernisme, Internetisme
  a.. Oleh Jamal Maimur Asmani
TIDAK terasa, 31 Juli 2007, atau 16 Rajab 1428 H. NU sudah berusia 84 tahun 
(berdiri 16 Rajab 1344). Usia yang relatif tua dan matang. Tantangan dan 
rintangan yang dihadapi organisasi kaum sarungan ini semakin hari semakin 
berat, baik dalam konteks agama maupun politik. 

KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU dalam suatu acara (17/5/í07) mengatakan, NU 
sekarang berada dalam kepungan dua ekstremisme. 

Pertama, fenomena radikalisme agama yang dibawa kelompok Islam yang 
mengedepankan jalan kekerasan dalam mengekspresikan nilai keagamaannya. Mereka 
ada yang berasal dari luar negeri, menggunakan ideologi kekerasan demi tegaknya 
khilafah Islamiyah di Indonesia. Kedua, massifnya kelompok liberal agama yang 
melakukan dekonstruksi dan profanisasi "doktrin" agama yang membawa pada konsep 
desakralisasi dan relativisme kebenaran agama. 

Kedua kelompok ini sama-sama berbahaya. Untuk kelompok pertama, mereka seperti 
kaum "khowarij" yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tidak 
perduli apakah cara itu membayakan dan menyengsarakan orang lain. Lebih ekstrem 
lagi, mereka memandang non-muslim sebagai orang yang darah, harta, dan harga 
dirinya "halal", boleh dibunuh, dijarah, dan dilecehkan. 

Sedangkan kelompok kedua, mereka mau membunuh sendi-sendi keagamaan secara 
pelan-pelan. Umat Islam dijauhkan dari kebenaran agama. Agama tidak lebih hanya 
sekadar "keyakinan teologis" yang bersifat private, tidak sampai masuk wilayah 
publik. Umat Islam harus menghindari fanatisme teologis, mereka harus masuk 
dalam komunitas universal umat manusia tanpa disekat oleh eksklusivitas agama. 

Kelompok kedua ini agaknya benar, namun, agama adalah kebenaran dan keyakinan 
hati. Ajaran-ajarannya tidak semuanya bisa disesuaikan dengan rasio manusia. 
Khususnya dalam masalah "teologi". Ia adalah wilayah hidayah (petunjuk Tuhan) 
yang tidak bisa diintervensi manusia. 

Dalam agama, ada wilayah yang didekati dengan kekuatan rasio, ada juga yang 
hanya bisa didekati dengan kebeningan hati dan ketajaman rasa menembus 
keagungan Sang Pencipta. 

Modernisme NU

Menghadapi dua tantangan besar ini, modernisme NU adalah suatu keniscayaan. NU 
harus merevitalisasi dan mendinamisasi dua unsur sekaligus, tradisionalitas 
(asholah) dan modernitas (hadatsah). Kaidah populer NU adalah al-muhafadhotu 
ala al-qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (konsisten terhadap 
warisan tradisi yang masih relevan dan mendinamisasi diri dengan hal-hal baru 
yang lebih transformatif-progresif). 

NU harus konsisten menjaga, mengembangkan, dan mengejawantahkan warisan 
tradisionalitasnya di tengah kompetisi dunia yang berjalan secara eskalatif. 
Warisan tradisi NU berkisar pada khazanah keilmuan klasik yang luar biasa 
nilainya, warisan budaya yang sangat kaya, santun, akomodatif-selektif, dan 
wawasan kemasyarakatan yang kosmopolit. Aktualisasi dan refungsionalisasi 
adalah dua tugas yang harus segera direalisasi agar relevansi warisan 
tradisionalitas NU bisa tetap eksis. 

Disamping itu, NU juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan 
teknologi dalam rangka memodernisasi diri di tengah kecepatan era globalisasi 
sekarang ini.Kecanggihan teknologi informasi dan profesionalitas manajemen 
harus dimanfaatkan untuk mendukung kerja-kerja organisasi agar berjalan secara 
cepat, efesien, efektif, dan akurat. NU tidak bisa mengandalkan manajemen dan 
teknologi sederhana, karena akan dicap ketinggalan zaman dan selalu tidak mampu 
mengikuti setiap perkembangan yang terjadi. 

Urgensi Internet

NU harus mempunyai jaringan komunikasi efektif dan efesien untuk optimalisasi 
program-programnya. Dalam konteks ini, adanya fasilitas internet di setiap 
cabang NU yang bisa diakses para pengurus adalah langkah yang mendesak 
direalisasi. Dengan fasilitas internet, organisasi akan berjalan secara sehat. 
Koordinasi, konsultasi, dan konsolidasi dapat dilakukan dengan cepat, akurat, 
dan efisien, tidak memerlukan mobilitas massa dan anggaran yang banyak. Selama 
ini, kalau mau mengadakan konsolidasi, koordinasi, dan pemberdayaan organisasi, 
NU selalu membutuhkan anggaran banyak, mobilitas massa, dan hasilnya sangat 
tidak efektif. 

Sebetulnya, PBNU sudah mempunyai peralatan canggih ini, bahkan sudah mempunyai 
website canggih, www.nu.or.id, namun sosialisasi dan fungsionalisasinya untuk 
menjadikan paradigma pemikiran dan manajemen NU menjadi modern dan professional 
masih sangat minim. Sedangkan kalau para pengurus NU membaca ide-ide 
pembaharuan yang ada dalam website tersebut akan sangat luar biasa, mampu 
mempercepat roda transformasi lembaga ke arah modernisasi paradigma berpikir 
dan profesionalitas manajemen, sebagai modal mengembangkan kegiatan yang 
berorientasi kerakyatan dan kemanusiaan. 

Kalau langkah ini tidak segera diambil, maka seperti kekhawatiran banyak 
kalangan, termasuk KH. Hasyim Muzadi dan KH. Musthofa Bisyri, NU hanya tinggal 
simbol, formalitas, dan jargon, tanpa ada fungsi sosial yang diharapkan. 

NU menjadi tidak menarik, rakyat tidak merasakan manfaat positif dari 
eksistensi NU, mereka malas menjadi orang NU, anak-anak mereka tidak tertarik 
pada NU, dan NU hanya tinggal nostalgia masa lalu yang menjadi dongeng anak 
bangsa di kemudian hari.

Sedangkan di sisi lain, organisasi sosial keagamaan lainnya sedang gencarnya 
menggunakan cara-cara NU yang lama untuk menarik masa, dengan memperhatikan 
mereka, khususnya kalangan orang miskin-papa, memberikan beasiswa, menyantuni 
yatim-piatu, dan program-program kerakyatan lainnya. Mereka menghindari kesan 
"korupsi" dalam bentuk apa pun, dan selalu cepat merespons setiap penderitaan 
dan kesengsaraan yang dialami rakyat kecil. Akhirnya, pelan namun pasti, mereka 
mendapat simpati masyarakat, dan NU semakin terperosok. 

Oleh sebab itu, tidak ada waktu lagi untuk menunda tugas berat ini. NU harus 
segera berbenah diri, menyongsong agenda masa depan dengan melakukan 
konsolidasi internal, membangun tim yang solid dan berkwalitas, mengembangkan 
kegiatan yang berorientasi kerakyatan, memperluas jaringan kerja, menetapkan 
prioritas dan selalu melakukan evaluasi. 

Alasan klise selama ini, bahwa para pengurus NU sibuk-sibuk, banyak kegiatan 
personal, tidak bisa rukun, dan berjalan sendiri-sendiri, harus segera diakhiri 
kalau ingin melihat masa depan NU cerah. Demi organisasi, ego pribadi harus 
ditanggalkan, kebersamaan harus digalakkan, rasa memiliki organisasi harus 
dihidupkan, dan pengorbanan (waktu, tenaga, pikiran, harta) harus dikedepankan. 
Jika tidak, maka NU hanya tinggal kenangan. 

Merangkul anak-anak muda potensial adalah salah satu jalan alternatif untuk 
mempercepat proses ini. Kadangkala, NU sering hanyut dalam wilayah politik 
praktis, sehingga melupakan asset terbesarnya, yaitu kader-kader muda 
potensial, calon pemimpin NU masa depan. (11)

- Jamal Maimur Asmani, pengurus harian Robithoh Maiahid Islamiyah Cabang Pati, 
pengamat sosial keagamaan



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke