Rabu, 05 September 2007 NASIONAL
PBNU Diminta Pahami Dinamika Nahdliyyin
a.. Terkait PLTN Muria
JEPARA- Pernyataan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi bahwa gaya
aspirasi masyarakat calon tapak PLTN Muria bukan gaya NU namun gaya LSM,
direaksi keras oleh Ketua PCNU Jepara KH Nuruddin Amin.
Pernyataan itu dinilai sebagai kekurangpahaman Hasyim dalam menyikapi
dinamika nahdliyyin, terutama masyarakat calon tapak PLTN Muria.
''Saya sangat menyesalkan respons Pak Hasyim yang menyebut gaya demo
warga dalam menyalurkan aspirasi sebagai gaya LSM, dan bukan gaya NU. Apa
beda gaya NU dengan gaya LSM dalam substansi persoalan ini,'' kata Nuruddin
Amin yang akrab disapa Gus Nung, Selasa (4/9) di Jepara.
Dikatakan, tak kurang dari 5.500 warga Desa Balong, Kecamatan Kembang
yang mengosongkan desa dan berjalan kaki menuju gedung PCNU, Sabtu lalu itu
hampir semuanya warga nahdliyyin. Mereka melakukan aksi setelah sekian lama
aspirasinya tak mendapatkan respons dari Batan, pemerintah kabupaten, dan
pusat.
Warga selalu menelan informasi PLTN akan dibangun di desanya, tapi tak
ada sosialisasi sedikit pun. Mereka memahami adanya manfaat dan ancaman
kerusakan jika proyek itu dilaksanakan.
Namun berdasarkan pengalaman pemerintah yang masih kedodoran menangani
bencana, warga khawatir akan kebocoran reaktor limbah radioaktif.
''Jika mereka mengungkapkannya dengan cara demikian setelah
bertahun-tahun mengalami kebuntuan, adakah ini salah. Toh mereka tertib dan
tidak melanggar hukum. Apa yang dimaksud Pak Hasyim bahwa ini bukan cara
NU,'' lanjutnya.
''Pekerjaan NU bukan diukur berapa kadernya yang duduk di kekuasaan
legislatif dan eksekutif, tapi bagaimana memperjuangkan persoalan umat yang
terancam dan tidak tahu harus mengadu ke mana,'' ujar dia.
''Saya pikir berdasarkan perjalanan sejarah, langkah-langkah advokasi
umat masih sangat NU dan tidak perlu dibeda-bedakan dengan LSM atau yang
lain. Kami berharap PBNU memahami persoalan nahdliyyin di tingkat bawah,''
sambungnya.
Terkait fatwa haram PLTN Muria, pihaknya akan membawanya ke PBNU.
Kemarin tim perumus telah mendiskusikan langkah itu, termasuk utusan dari
PCNU Pati dan PCNU Kudus. PCNU Jepara secara resmi mendapatkan undangan
menghadiri rakernas PBNU yang di dalamnya akan digelar bahtsul masail di
PBNU Jakarta, Kamis (6/9) dan Jumat (7/9). Undangan itu dikirim oleh Ketua
Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Kholil Nafis.
Materi PLTN disebut sebagai salah satu persoalan penting yang akan
dibahas. PCNU akan mengirimkan tim perumus fatwa ke forum tersebut.
Selain Gus Nung, yang akan bertolak ke Jakarta adalah Gus Aniq
Muhammad (Pati), KH Abdul Jalil (LBM PWNU Jateng), serta pengurus syuriah
PCNU Jepara seperti KH Ahmad Roziqin dan KH Kholilurrohman. ''Kami sudah
menyiapkan segala dasar pengambilan hukum dan segala pertimbangan atas
keluarnya fatwa itu,'' tambah Gus Nung.
Perhatian Jepang
Dinamika penolakan PLTN Muria mendapatkan perhatian aktivis dari
Network for Indonesian Democracy Japan (Nindja), Watanabe Eri. Aktivis
perempuan asal Tokyo itu datang ke Jepara dan menyatakan aksi serupa juga
terjadi di semua unit di PLTN Jepang.
''Di Jepang ada 55 unit PLTN, dan masyarakat di sekitar semua unit itu
bereaksi seperti masyarakat Jepara. Bahkan gugatan warga ke pemerintah ada
yang sampai ke proses hukum,'' katanya saat ditemui Suara Merdeka di Hotel
Segoro.
Masalah kesehatan dan ancaman gempa yang berpotensi di Jepang, kata
dia, menjadi dasar masyarakat menolak PLTN. (H15-60)
[Non-text portions of this message have been removed]