http://www.kompas.com/
Tragedi Komersialisasi Agama 


Muhammadun AS 

Bagi umat Islam, kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah tak terkira. 
Selain menjadi saat kontemplasi paling efektif dalam meningkatkan keimanan dan 
ketakwaan, bulan suci juga menjadi ajang memupuk dan mengonsolidasi 
persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia. 

Dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu menjadikan kesempatan 
itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam, lebih-lebih mampu memecahkan 
persoalan bersama, dalam konteks lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, 
dan sebagainya. 

Hilangnya substansi agama 

Momentum ini jika dilakukan maksimal akan mampu membangkitkan jiwa perjuangan 
seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem keberagamaan dan 
kebangsaan. Namun, jika hanya dijadikan "pemanis" beragama, yang terjadi adalah 
kebuntuan dan keterasingan diri, dalam beragama ataupun berbangsa. 

Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena agama hanya 
diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi spiritual yang esoteris 
terabaikan. Bahkan, spiritualitas keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak 
ditunjukkan dalam berbagai siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) 
maupun elektronik (televisi). 

Yang terjadi dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya nilai 
substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran spiritualitas tinggi hanya 
terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas, manusia kembali "merobek" 
agama. Begitu pula dengan para penonton, aksi-aksi spiritual di televisi hanya 
dijadikan hiburan tanpa dimaknai sebagai kontemplasi beragama. Sementara itu, 
industri televisi dan insan perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media 
untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. 

Bagi Ruslani (2005), meski film-film spiritual dikatakan untuk memberi 
pencerahan kepada umat Islam. Namun, jika diperhatikan saksama, akan dijumpai 
berbagai kejanggalan, alur cerita tak logis, penulisan skenario yang terkesan 
mengejar waktu dan setoran, dan penafsiran agama yang membuat umat terikat 
simbol-simbol formal tanpa pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. 
Dalam konteks ini, nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi 
spiritualitas. Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam 
beragama, yang menimbulkan hilangnya makna substantif agama dalam mencerahkan 
kehidupan manusia. 

Komersialisasi beragama 

Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan oleh 
beberapa hal. 

Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik. Keberagamaan yang 
mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi khusyuk hanya dalam 
sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan lingkungan. Seandainya tidak ada 
bulan Ramadhan, seolah kita tidak akan menonton hal-hal yang bersifat religius. 
Maka tak heran jika pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, 
kolusi dan nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan semarak 
lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah sebagai 
bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa hanya puing-puing 
ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya beragama secara revolusioner. 

Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai industri media 
dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program 
dakwah, dengan semua artis manggung di TV dengan pakaian islami. 

Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar keberagamaan yang 
sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita menghadirkan kembali makna 
substantif agama dan meluruskan kembali makna dan nilai spiritual yang 
terkandung dalam tayangan sinetron itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak 
terjebak ke dalam sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal 
akhirat tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak amal 
yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat yang baik". 

Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah, bukan dengan 
gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak berkaitan langsung atau 
tidak langsung dengan Ramadhan. Salah mengartikulasi dan menginterpretasi 
puasa, hanya akan menghasilkan rasa lapar dan dahaga. 

Muhammadun AS Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS) 
Jakarta 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke