Salam kenal Mbak ida,
Saya sepakat kang anam, kadang para aktifis gender itu terlalu..--meminjam
istilah bang haji. Sebagai perempuan saya juga nggak rela dong kalu kehormatan
kaum saya dikomersilkan... Kalau memang kepepet kebutuhan ekonomi ya itu mgkin,
tapi jangan lantas membenarkan semua cara, kayak kiaimat sudah dekat saja...
Tapi juga yang sering kurang diperhatikan oleh laki2 itu kang, kalau ada yang
begituan mesti yang disalahkan kog selalu perempuannya..kenapa tidak para
laki-laki buaya itu...jadi ya adillah dalam menilai. mestinya yang dikasih
penyuluhan dari pak kyai itu ya juga para buaya itu donk...tuh gimana caranya
setia sama istrinya di rumah (dan maaf malulah sama ibu, saudara atau anak
perempuannya).
Jadi begitu, hehehe
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak,
Ada satu hal yang sering diupakan oleh kaum feminis soal PSK, bahwa alat
reproduksi sangat dihargai dalam agama, dia mendapatkan fungsi istimewa
dalam memberlangsungkan hubungan seksual yang "manusiawi" dan berdasar cinta
yang suci, juga untuk meneruskan keturunan. Jika ini tidak dilupakan,
tentunya kerja sebagai kuli bangunan dibedakan dengan kerja sebagai PSK,
meskipun keduanya sama-sama berkeringat. Dulu sih disebut pelajur saja,
karena istilah "pekerja" itu sendiri menimbulkan efek hukum dan interpretasi
yang berbeda. Maka jangan mudah salah faham.
Nah.... Rumitnya memang kalau berbicara komesialisasi karena "Apapun ada
formulanya," kata salah satu iklan sikat gigi. Semua bisa dikomersilkan.
Tanyakan kepada Madun sendiri (kalau ga percaya) yang menulis tentang
"tragedi komersialisasi agama itu", bahwa tulisannya pun bisa bernilai
komersial kan? Ini hampir sama dengan ejekan kaum kapitalis kepada aktivis
sosialis bahwa kaos bergambar "Karl Marx dan manifesto komunispun" bisa
bernilai kapital. Yo piye ngono kuwi... Kalau saya jadi kiai mungkin saya
akan bilang, "berkhusnudz dzonlah....
Jadi begitu,
On 9/22/07, siti infirohah alfaridah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menjelang puasa, tepatnya 6 September 2007, di lokalisasi Kedung Banteng
> Kabupaten Ponorogo, beberapa orang dari Dinas Sosial dan Departemen Agama
> Kabupaten Ponorogo memberikan ceramah agama kepada para PSK (Pekerja Seks
> Komersial) dalam rangka penutupan Lokalisasi Kedung Banteng selama bulan
> Ramadhan. Tetapi yang aneh, Spanduk yang dipasang berbunyi: PENDIDIKAN
> DAN PELATIHAN KETRAMPILAN USAHA BAGI EKS PENYANDANG MASALAH SOSIAL.
> Awalnya aku mengira penceramah kedua akan memberikan materi yang terkait
> dengan isi spanduk yang dipasang. Tetapi sampai acara berakhir, tak satu
> katapun tentang ketrampilan usaha aku dengar.Coba kawan-kawan pikir,
> praktik seperti ini lebih tepat dibilang apa ya......? Siapa sebenarnya
> PSK? Siapa yang lebih pantas disebut sebagai PENYANDANG MASALAH SOSIAL?
> PSK yang bekerja dengan mengeluarkan keringatnya sendiri atas jasa
> pelayanan seks yang ia berikan pada pelanggan atau para Pekerja Sosial
> Komersial yang berceramah tentang ramadhan, taubat, surga-neraka dari
> balik spanduk bertuliskan seperti diatas? ida
>
> ----- Original Message -----
> From: Mukhlisin
> To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
> Subject: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
> Date: Fri, 14 Sep 2007 08:47:19 +0700
>
> http://www.kompas.com/
> Tragedi Komersialisasi Agama
>
> Muhammadun AS
>
> Bagi umat Islam, kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah tak
> terkira. Selain menjadi saat kontemplasi paling efektif dalam
> meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bulan suci juga menjadi ajang
> memupuk dan mengonsolidasi persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia.
>
> Dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu menjadikan
> kesempatan itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam,
> lebih-lebih mampu memecahkan persoalan bersama, dalam konteks
> lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.
>
> Hilangnya substansi agama
>
> Momentum ini jika dilakukan maksimal akan mampu membangkitkan jiwa
> perjuangan seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem
> keberagamaan dan kebangsaan. Namun, jika hanya dijadikan "pemanis"
> beragama, yang terjadi adalah kebuntuan dan keterasingan diri, dalam
> beragama ataupun berbangsa.
>
> Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena
> agama hanya diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi
> spiritual yang esoteris terabaikan. Bahkan, spiritualitas
> keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak ditunjukkan dalam berbagai
> siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) maupun elektronik
> (televisi).
>
> Yang terjadi dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya
> nilai substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran spiritualitas
> tinggi hanya terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas, manusia
> kembali "merobek" agama. Begitu pula dengan para penonton, aksi-aksi
> spiritual di televisi hanya dijadikan hiburan tanpa dimaknai sebagai
> kontemplasi beragama. Sementara itu, industri televisi dan insan
> perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media untuk mengeruk
> keuntungan sebesar-besarnya.
>
> Bagi Ruslani (2005), meski film-film spiritual dikatakan untuk
> memberi pencerahan kepada umat Islam. Namun, jika diperhatikan
> saksama, akan dijumpai berbagai kejanggalan, alur cerita tak logis,
> penulisan skenario yang terkesan mengejar waktu dan setoran, dan
> penafsiran agama yang membuat umat terikat simbol-simbol formal tanpa
> pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. Dalam konteks ini,
> nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi spiritualitas.
> Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam
> beragama, yang menimbulkan hilangnya makna substantif agama dalam
> mencerahkan kehidupan manusia.
>
> Komersialisasi beragama
>
> Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan
> oleh beberapa hal.
>
> Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik. Keberagamaan
> yang mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi
> khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan
> lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak
> akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika
> pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi dan
> nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan semarak
> lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah
> sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa
> hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya
> beragama secara revolusioner.
>
> Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai
> industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk
> menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di TV
> dengan pakaian islami.
>
> Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar
> keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita
> menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali
> makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron
> itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam
> sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal akhirat
> tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak
> amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat
> yang baik".
>
> Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah,
> bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak
> berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah
> mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan
> rasa lapar dan dahaga.
>
> Muhammadun AS Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies
> (CePDeS) Jakarta
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> --
> We've Got Your Name @ www.mail.com!!!
> Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good this month.
[Non-text portions of this message have been removed]