Menjelang puasa, tepatnya 6 September 2007, di lokalisasi Kedung Banteng
Kabupaten Ponorogo, beberapa orang dari Dinas Sosial dan Departemen Agama
Kabupaten Ponorogo memberikan ceramah agama kepada para PSK (Pekerja Seks
Komersial) dalam rangka penutupan Lokalisasi Kedung Banteng selama bulan
Ramadhan. Tetapi yang aneh, Spanduk yang dipasang berbunyi: PENDIDIKAN
DAN PELATIHAN KETRAMPILAN USAHA BAGI EKS PENYANDANG MASALAH SOSIAL.
Awalnya aku mengira penceramah kedua akan memberikan materi yang terkait
dengan isi spanduk yang dipasang. Tetapi sampai acara berakhir, tak satu
katapun tentang ketrampilan usaha aku dengar.Coba kawan-kawan pikir,
praktik seperti ini lebih tepat dibilang apa ya......? Siapa sebenarnya
PSK? Siapa yang lebih pantas disebut sebagai PENYANDANG MASALAH SOSIAL?
PSK yang bekerja dengan mengeluarkan keringatnya sendiri atas jasa
pelayanan seks yang ia berikan pada pelanggan atau para Pekerja Sosial
Komersial yang berceramah tentang ramadhan, taubat, surga-neraka dari
balik spanduk bertuliskan seperti diatas? ida

  ----- Original Message -----
  From: Mukhlisin
  To: [email protected]
  Subject: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
  Date: Fri, 14 Sep 2007 08:47:19 +0700

  http://www.kompas.com/
  Tragedi Komersialisasi Agama

  Muhammadun AS

  Bagi umat Islam, kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah tak
  terkira. Selain menjadi saat kontemplasi paling efektif dalam
  meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bulan suci juga menjadi ajang
  memupuk dan mengonsolidasi persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia.

  Dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu menjadikan
  kesempatan itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam,
  lebih-lebih mampu memecahkan persoalan bersama, dalam konteks
  lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.

  Hilangnya substansi agama

  Momentum ini jika dilakukan maksimal akan mampu membangkitkan jiwa
  perjuangan seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem
  keberagamaan dan kebangsaan. Namun, jika hanya dijadikan "pemanis"
  beragama, yang terjadi adalah kebuntuan dan keterasingan diri, dalam
  beragama ataupun berbangsa.

  Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena
  agama hanya diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi
  spiritual yang esoteris terabaikan. Bahkan, spiritualitas
  keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak ditunjukkan dalam berbagai
  siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) maupun elektronik
  (televisi).

  Yang terjadi dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya
  nilai substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran spiritualitas
  tinggi hanya terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas, manusia
  kembali "merobek" agama. Begitu pula dengan para penonton, aksi-aksi
  spiritual di televisi hanya dijadikan hiburan tanpa dimaknai sebagai
  kontemplasi beragama. Sementara itu, industri televisi dan insan
  perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media untuk mengeruk
  keuntungan sebesar-besarnya.

  Bagi Ruslani (2005), meski film-film spiritual dikatakan untuk
  memberi pencerahan kepada umat Islam. Namun, jika diperhatikan
  saksama, akan dijumpai berbagai kejanggalan, alur cerita tak logis,
  penulisan skenario yang terkesan mengejar waktu dan setoran, dan
  penafsiran agama yang membuat umat terikat simbol-simbol formal tanpa
  pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. Dalam konteks ini,
  nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi spiritualitas.
  Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam
  beragama, yang menimbulkan hilangnya makna substantif agama dalam
  mencerahkan kehidupan manusia.

  Komersialisasi beragama

  Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan
  oleh beberapa hal.

  Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik. Keberagamaan
  yang mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi
  khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan
  lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak
  akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika
  pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi dan
  nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan semarak
  lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah
  sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa
  hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya
  beragama secara revolusioner.

  Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai
  industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk
  menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di TV
  dengan pakaian islami.

  Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar
  keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita
  menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali
  makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron
  itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam
  sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal akhirat
  tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak
  amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat
  yang baik".

  Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah,
  bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak
  berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah
  mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan
  rasa lapar dan dahaga.

  Muhammadun AS Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies
  (CePDeS) Jakarta

  [Non-text portions of this message have been removed]

  

-- 
We've Got Your Name @ www.mail.com!!!
Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke