mbak ida...

sebelum mengangatakan pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan.. 
ada baiknya dilakukan penelitian. siapa tahu banyak dari PSK itu yg memang 
tidak memiliki keterampilan. maksud saya, jangan terlalu mencari kesalahan pada 
struktur (disamping saya mengakui hal itu memang ada..), tetapi harus dilihat 
juga kinerja teman-teman LSM yg selama ini mendampingi mereka... apa yg telah 
mereka lakukan dan apa hasilnya... jangan sampai beberapa LSM memang senag 
kalau  mereka ada...

sekali lagi.. maksud saya, kalau mereka ada, proyek juga lancar...
kan banyak proposal yg mengatasnamakan mereka... tapi sejak proyek itu jalan... 
perubahan apa yg terjadi pada PsK itu...


anchu

  ----- Original Message ----- 
  From: siti infirohah alfaridah 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, September 24, 2007 9:51 PM
  Subject: Re: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama


  bukan hanya masalah setuju dan tidak setuju, tetapi ini masalah realitas
  sosial, nyata adanya. Tidak ada satu orang pun yang bercita-cita jadi
  PSK, tetapi mereka menjadi PSK kan banyak faktor, salah satunya
  pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak untuk
  semua warga negara. jadi kalo ada yang jadi PSK kan tetap harus
  dilindungi haknya sebagai warga negara.Contohnya, kalau program
  pemerintah tentang HIV/AIDS lebih serius dan dilakukan secara terpadu
  (tidak sekedar formalitas dan ceramah agama melulu), maka paling tidak
  kita punya harapan lebih baik agar HIV/AIDS tidak menyebar kemana-mana.
  Kita akan mengalamai inflasi penderita HIV/AIDS jika cara pandang kita
  terhadap kelompok2 Risti (Resiko Tinggi, misal PSK dan pengguna Narkoba)
  hanya menggunakan etika moral keagamaan. Lebih baik kita menggunakan
  etika moral kemanusiaan (dan ini bagian dari moral keagamaan juga kan?).Saya
  juga menganggap alat reproduksi perempuan itu sesuatu yang berharga
  istimewa, tetapi dengan mengabaikan proses-proses pencegahannya dari
  HIV/AIDS bagi saya itu sama dengan tidak menghargai alat reproduksi
  perempuan.begitu bapak-bapak dan ibu.....

  ----- Original Message -----
  From: "nur aini"
  To: [email protected]
  Subject: Re: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
  Date: Sun, 23 Sep 2007 13:29:15 +0100 (BST)

  Salam kenal Mbak ida,
  Saya sepakat kang anam, kadang para aktifis gender itu
  terlalu..--meminjam istilah bang haji. Sebagai perempuan saya juga
  nggak rela dong kalu kehormatan kaum saya dikomersilkan... Kalau
  memang kepepet kebutuhan ekonomi ya itu mgkin, tapi jangan lantas
  membenarkan semua cara, kayak kiaimat sudah dekat saja... Tapi juga
  yang sering kurang diperhatikan oleh laki2 itu kang, kalau ada yang
  begituan mesti yang disalahkan kog selalu perempuannya..kenapa tidak
  para laki-laki buaya itu...jadi ya adillah dalam menilai. mestinya
  yang dikasih penyuluhan dari pak kyai itu ya juga para buaya itu
  donk...tuh gimana caranya setia sama istrinya di rumah (dan maaf
  malulah sama ibu, saudara atau anak perempuannya).

  Jadi begitu, hehehe

  kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Mbak,
  Ada satu hal yang sering diupakan oleh kaum feminis soal PSK, bahwa
  alat
  reproduksi sangat dihargai dalam agama, dia mendapatkan fungsi
  istimewa
  dalam memberlangsungkan hubungan seksual yang "manusiawi" dan
  berdasar cinta
  yang suci, juga untuk meneruskan keturunan. Jika ini tidak dilupakan,
  tentunya kerja sebagai kuli bangunan dibedakan dengan kerja sebagai
  PSK,
  meskipun keduanya sama-sama berkeringat. Dulu sih disebut pelajur
  saja,
  karena istilah "pekerja" itu sendiri menimbulkan efek hukum dan
  interpretasi
  yang berbeda. Maka jangan mudah salah faham.

  Nah.... Rumitnya memang kalau berbicara komesialisasi karena "Apapun
  ada
  formulanya," kata salah satu iklan sikat gigi. Semua bisa
  dikomersilkan.
  Tanyakan kepada Madun sendiri (kalau ga percaya) yang menulis tentang
  "tragedi komersialisasi agama itu", bahwa tulisannya pun bisa
  bernilai
  komersial kan? Ini hampir sama dengan ejekan kaum kapitalis kepada
  aktivis
  sosialis bahwa kaos bergambar "Karl Marx dan manifesto komunispun"
  bisa
  bernilai kapital. Yo piye ngono kuwi... Kalau saya jadi kiai mungkin
  saya
  akan bilang, "berkhusnudz dzonlah....

  Jadi begitu,

  On 9/22/07, siti infirohah alfaridah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Menjelang puasa, tepatnya 6 September 2007, di lokalisasi Kedung
  Banteng
  > Kabupaten Ponorogo, beberapa orang dari Dinas Sosial dan Departemen
  Agama
  > Kabupaten Ponorogo memberikan ceramah agama kepada para PSK
  (Pekerja Seks
  > Komersial) dalam rangka penutupan Lokalisasi Kedung Banteng selama
  bulan
  > Ramadhan. Tetapi yang aneh, Spanduk yang dipasang berbunyi:
  PENDIDIKAN
  > DAN PELATIHAN KETRAMPILAN USAHA BAGI EKS PENYANDANG MASALAH SOSIAL.
  > Awalnya aku mengira penceramah kedua akan memberikan materi yang
  terkait
  > dengan isi spanduk yang dipasang. Tetapi sampai acara berakhir, tak
  satu
  > katapun tentang ketrampilan usaha aku dengar.Coba kawan-kawan
  pikir,
  > praktik seperti ini lebih tepat dibilang apa ya......? Siapa
  sebenarnya
  > PSK? Siapa yang lebih pantas disebut sebagai PENYANDANG MASALAH
  SOSIAL?
  > PSK yang bekerja dengan mengeluarkan keringatnya sendiri atas jasa
  > pelayanan seks yang ia berikan pada pelanggan atau para Pekerja
  Sosial
  > Komersial yang berceramah tentang ramadhan, taubat, surga-neraka
  dari
  > balik spanduk bertuliskan seperti diatas? ida
  >
  > ----- Original Message -----
  > From: Mukhlisin
  > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
  > Subject: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
  > Date: Fri, 14 Sep 2007 08:47:19 +0700
  >
  > http://www.kompas.com/
  > Tragedi Komersialisasi Agama
  >
  > Muhammadun AS
  >
  > Bagi umat Islam, kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah
  tak
  > terkira. Selain menjadi saat kontemplasi paling efektif dalam
  > meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bulan suci juga menjadi ajang
  > memupuk dan mengonsolidasi persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia.
  >
  > Dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu
  menjadikan
  > kesempatan itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam,
  > lebih-lebih mampu memecahkan persoalan bersama, dalam konteks
  > lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.
  >
  > Hilangnya substansi agama
  >
  > Momentum ini jika dilakukan maksimal akan mampu membangkitkan jiwa
  > perjuangan seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem
  > keberagamaan dan kebangsaan. Namun, jika hanya dijadikan "pemanis"
  > beragama, yang terjadi adalah kebuntuan dan keterasingan diri,
  dalam
  > beragama ataupun berbangsa.
  >
  > Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena
  > agama hanya diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi
  > spiritual yang esoteris terabaikan. Bahkan, spiritualitas
  > keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak ditunjukkan dalam
  berbagai
  > siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) maupun elektronik
  > (televisi).
  >
  > Yang terjadi dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya
  > nilai substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran
  spiritualitas
  > tinggi hanya terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas,
  manusia
  > kembali "merobek" agama. Begitu pula dengan para penonton,
  aksi-aksi
  > spiritual di televisi hanya dijadikan hiburan tanpa dimaknai
  sebagai
  > kontemplasi beragama. Sementara itu, industri televisi dan insan
  > perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media untuk mengeruk
  > keuntungan sebesar-besarnya.
  >
  > Bagi Ruslani (2005), meski film-film spiritual dikatakan untuk
  > memberi pencerahan kepada umat Islam. Namun, jika diperhatikan
  > saksama, akan dijumpai berbagai kejanggalan, alur cerita tak logis,
  > penulisan skenario yang terkesan mengejar waktu dan setoran, dan
  > penafsiran agama yang membuat umat terikat simbol-simbol formal
  tanpa
  > pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. Dalam konteks ini,
  > nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi
  spiritualitas.
  > Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam
  > beragama, yang menimbulkan hilangnya makna substantif agama dalam
  > mencerahkan kehidupan manusia.
  >
  > Komersialisasi beragama
  >
  > Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan
  > oleh beberapa hal.
  >
  > Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik.
  Keberagamaan
  > yang mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi
  > khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan
  > lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak
  > akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika
  > pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi
  dan
  > nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan
  semarak
  > lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah
  > sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa
  > hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya
  > beragama secara revolusioner.
  >
  > Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai
  > industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk
  > menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di
  TV
  > dengan pakaian islami.
  >
  > Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar
  > keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita
  > menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali
  > makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron
  > itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam
  > sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal
  akhirat
  > tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak
  > amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena
  niat
  > yang baik".
  >
  > Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah,
  > bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak
  > berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah
  > mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan
  > rasa lapar dan dahaga.
  >
  > Muhammadun AS Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies
  > (CePDeS) Jakarta
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  > --
  > We've Got Your Name @ www.mail.com!!!
  > Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  >
  >

  [Non-text portions of this message have been removed]

  ---------------------------------
  For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good
  this month.

  [Non-text portions of this message have been removed]

  -- 
  We've Got Your Name @ www.mail.com!!!
  Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains

  [Non-text portions of this message have been removed]



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.30/1029 - Release Date: 9/24/2007 
7:09 PM


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke