Ini kesan yang di tulis oleh Mas Ulil Abshar Abdallah atas KH Ilyas Ruhiyat 
..
Smoga bisa menjadi inspirasi dan spirit bagi aktivis JPPR..

Miftah

----- Original Message ----- 
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; "Islam Liberal" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, December 18, 2007 10:15 PM
Subject: [kmnu2000] Ratsa' (eulogia) untuk Kiai Ilyas Ruhiyat


> Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
>
> Saya husnuz-zan, bahwa Kiai Ilyas Ruhiyat adalah "min
> ahlil jannah". Semoga pembawaan Kiai Ilyas yang
> lembut, akomodatif, toleran, dan mengayomi semua pihak
> ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, baik di
> dalam atau di luar NU, terutama di saat-saat ketika
> toleransi sebagai ide dan praktek dikutuk dan dimusuhi
> seperti sekarang ini.
>
> Meski tak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis,
> melontarkan pendapat di media, atau sering
> menyampaikan "prefarat" dalam seminar-seminar dan
> konferensi, Kiai Ilyas adalah sebuah "mazhab", jika
> saya boleh agak sedikit "takalluf" dan "superlatif"
> (mubalaghah). Gaya kekiaian Kiai Ilyas adalah salah
> satu di antara corak kekiaian yang berkembang dalam
> tubuh NU.
>
> Pesantren Cipasung yang diasuh oleh Kiai Ilyas,
> menurut saya, adalah merupakan contoh pelaksanaan dari
> prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU,
> "al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi
> 'l-jadid al-aslah", memelihara yang lama yang baik,
> menyerap yang baru yang lebih baik.
>
> Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal
> 80an sebagai salah satu pesantren yang bekerjasama
> dengan LP3ES (kemudian dilanjutkan oleh P3M) untuk
> pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai saat itu
> adalah "community development"), bersama-sama dengan
> pesantren lain seperti Maslakul Huda asuhan Kiai Sahal
> Mahfudz, Pesantren Tebuireng asuhan (saat itu) alm.
> Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan asuhan Kiai Hamam
> Ja'far, dan pesantren Asy-Syafi'iyah.
>
> Ide "pengembangan masyarakat" saat itu bermula dari
> gagasan kalangan "intelektual kota" yang sedang asyik
> dengan kritik atas teori pembangunan untuk menjadikan
> pesantren sebagai eksperimen untuk model pembangunan
> alternatif yang "bottom up", bukan "up-to-bottom" gaya
> Suharto.
>
> Tidak semua pesantren menerima gagasan ini dan
> dijadikan sebagai proyek percontohan untuk "kritik
> pembangunanisme" ini. Sebagian kiai mencurigai proyek
> ini sebagai "proyek Yahudi" yang berbahaya. Bersama
> sejumlah kiai lain, Kiai Ilyas menerima inisiatif ini
> dengan tangan terbuka, tanpa kecurigaan yang
> berlebihan. Proyek rintisan LP3ES tidak semua
> berhasil. Yang paling tahan lama hanyalah percontohan
> yang ada di tiga pesantren: Kajen, Tebuireng dan
> Cipasung. Sekarang, yang tersisa hanya dua: Kajen dan
> Cipasung.
>
> Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan moral dan
> intelektual dari kiai-kiai semacam Kiai Sahal dan Kiai
> Ilyas itu. Dari proyek inilah lahir sejumlah
> "santri-aktivis" yang menjembatani pesantren sebagai
> lemabaga "tafaqquh fil al-din" (istilah yang sering
> dipakai oleh Kiai Sahal) dan masyarakat.
>
> Dari Cipasung lahir santri-aktivis yang sudah saya
> kenal sejak lama, Kang Tatang. Dari Kajen, lahir
> orang-orang seperti alm. Pak Masykur Maskub. Dari
> Tebuireng, lahir orang seperti Nas Sodri Nashori (yang
> sekarang masih aktif di P3M) dan Mas Mufid A. Busyairi
> (sekarang anggota DPR dari PKB). Dari Assyafiiyyah,
> Jatiwaringin, lahir orang-orang seperti Mansour Fakih
> (yang memperkenalkan dengan gigih gagasan
> "pendidikan-sebagai-penyadaran" a la Paulo Freire) dan
> Budhy Munawar Rachman.
>
> Saya adalah santri yang sedang tumbuh dan bergairah
> berkenalan dengan ide-ide baru pada periode itu.
> Lahirnya pusat-pusat pengembangan pesantren pada awal
> 80an itu memberikan saya kesempatan untuk berkenalan
> dengan gagasan-gagasan "sekuler" yang datang dari
> kota. Pak Masykur Maskub, yang saat itu menjadi guru
> di madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, sambil mengelola
> pusat pengembangan masyarakat di pesantrennya Kiai
> Sahal, memperkenalkan kepada saya sejumlah buku dan
> jurnal Prisma terbitan LP3ES.
>
> Dari LP3ES pula lahir majalah "Pesan" (singkatan dari
> "Pesantren") yang banyak memuat contoh-contoh sukses
> proyek pengembangan masyarakat melalaui pesantren.
> Majalah yang antara lain dikelola oleh Mas Hadimulyo
> (sekarang aktif di PPP) ini saya baca dengan penuh
> minat saat saya masih menjadi santri di Kajen dulu.
>
> Pada suatu pagi yang cerah, matahari berbinar-binar di
> ufuk timur (ini bukan hiperbola, tetapi penggambaran
> harafiah), saya membaca majalah Pesan dan menemukan
> puisi-puisi Acep Zamzam Noor, putera dari Kiai Ilyas
> yang saat itu masih kuliah di ITB.
>
> Pada edisi yang saya baca itu, antologi puisi Kang
> Acep, "Tamparlah Mukaku", sedang diresensi. Sejumlah
> puisi Kang Acep juga dimuat di sana. Sebagai santri
> pedusunan, terus terang saya tak paham semua yang
> ditulis Kang Acep. Saya hanya terpana berhadapan
> dengan susunan kalimat yang aneh dalam puisi itu.
> Hingga sekarang, saya termasuk penggemar puisi-puisi
> Kang Acep, terutama puisi-puisi yang ia gubah saat
> melancong ke Itali (beberapa dimuat di jurnal Kalam).
>
> Saya juga menyukai sejumlah lukisan Kang Acep.
> Beberapa di antaranya saya lihat di ruang tamu
> kediaman Kiai Ilyas di Cpasung  (saya lihat saat saya
> ikut menjadi "romli" [rombongan liar] pada Muktamar NU
> ke-29 di Cipasung, Desember 1994). Beberapa lukisannya
> yang lain saya lihat di rumah Sitok Srengenge di
> Depok.
>
> Suasana pesantren selepas Muktamar NU ke-27 yang
> ingar-bingar saat itu, hingga muktamar yang ke-29 di
> Cipasung, adalah suasana penuh antusiasme menyambut
> ide-ide baru. Pada periode itulah saya tumbuh sebagai
> seorang santri "ndeso" di sudut desa Kajen, Pati. Pada
> saat itulah, saya mulai berkenalan dengan ide-ide Gus
> Dur, Cak Nur, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Sutjipto
> Wirosardjono, Jalaluddin Rakhmat, Masdar, Aswab
> Mahasin, MM Billah, Nasihin Hasan, Hadimulyo, Mansour
> Fakih.
>
> Nama-nama itu saya kenal entah lewat majalah Prisma,
> Pesan, atau Pesantren (diterbitkan oleh P3M beberapa
> saat setelah muktamar di Situbondo), atau majalah
> Tempo. Pada saat itu, terbit sebuah majalah yang sudah
> dilupakan banyak orang saat ini, yakni majalah Nuansa.
> Majalah yang sangat baik ini terbit hanya satu edisi,
> dan dalam edisi yang hanya satu-satunya itulah diulas
> dengan cukup kritis ide negara Islam yang saat itu
> masih cukup kuat berkembang di kalangan aktivis masjid
> kampus (antara lain Masjid Salman, Bandung). Pada
> edisi itulah saya membaca kritik atas konsep negara
> Islam-nya Maududi yang ditulis oleh Pak Djohan Effend
> (saya lupa persisnya: kalau tidak Pak Djohan ya Mas
> Dawam Rahardjo).
>
> Dengan kata lain, saya mengenang Kiai Ilyas sebagai
> salah satu kiai yang menjadi bagian penting dari
> periode "keterbukaan" dan antusiasme menerima ide-ide
> baru itu.
>
> Saat ini, bandul pesantren sudah berubah. Tampaknya
> saat ini kecenderungan yang lebih menonjol di beberapa
> pesantren adalah keengganan, atau bahkan kecurigaan,
> pada gagasan baru. Sebagaimana setiap buah memiliki
> musimnya masing-masing, begitu pula periode
> keterbukaan itu juga memiliki musimnya sendiri. Musim
> itu, kini, tampaknya sedang berlalu, digantikan oleh
> musim yang lain.
>
> Saya kangen pada musim keterbukaan itu...
>
> Allahumma ighfir li Kiai Ilyas war hamhu wa 'afihi
> wa'fu 'anhu.
>
> Allahumma ij'al manqubatahu ma'tsaratan min ma'atsiri
> Nahdlatil Ulama'.
>
>
>
>
> --- Eko AP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> Innalillahi Wainnailaihi Roji'uun...
>>
>> Telah meninggal dunia KH Ilyas Ruchyat, mantan Rais
>> Aam PBNU dan pengasuh
>> Ponpes Cipasung Tasikmalaya pada hari Selasa, 18
>> Desember 2007 pukul 16.15WIB.
>> Allahumma ighfir lahu wa-rhamhu wa'afihi wa'fu
>> anhu...
>>
>> Alfaatihah......
>>
>>
>> [Non-text portions of this message have been
>> removed]
>>
>>
>
>
> Ulil Abshar-Abdalla
> Department of
> Near Eastern Languages and Civilizations
> Harvard University
>
>
>
>
> 
> ____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now. 
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir 
> dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda 
> harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
> -- 
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.4/1189 - Release Date: 
> 12/18/2007 9:40 PM
> 

Kirim email ke