Mas Ulil, Ada titipan kritik buat penjenengan.
Salam, kc ---------- Forwarded message ---------- From: Sunardi <[EMAIL PROTECTED]> Date: Dec 19, 2007 11:01 AM Kader cikarang,, tolong sampaikan Salam sekaligus kritik saya buat Mas Ulil: KRITIK 1: ...Sayang Mas Ulil, panjenengan bukan lagi milik Santri ndeso, atau bahkan sudah melupakan komunitas santri ndeso ???, panjenengan mantan santri ndeso yang justru sudah berpusar di dunia seminar, bedah pemikiran and elite...bla bla bla ( dalam Membakar Rumah Tuhan" pun dampak ke wong NU andap belum ngefek....) KRITIK 2: Mas Ulir, membedah makalah SEKULER tapi lupa pada riil SEKULER ummat NU itu sendiri ( dalam tafsir santri ndeso SEKULER itu khan SEKUL dan ULER atau SEKUL lan LER..) wis jal kapan Mas Ulil.. membedah yang ginian supaya wong NU kebanyakan, terbebas dari nasi tiwul, nasi garing etc...etc... Salam kangen Kang mendo On 12/18/07, Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... > > Saya husnuz-zan, bahwa Kiai Ilyas Ruhiyat adalah "min > ahlil jannah". Semoga pembawaan Kiai Ilyas yang > lembut, akomodatif, toleran, dan mengayomi semua pihak > ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, baik di > dalam atau di luar NU, terutama di saat-saat ketika > toleransi sebagai ide dan praktek dikutuk dan dimusuhi > seperti sekarang ini. > > Meski tak dikenal sebagai kiai yang banyak menulis, > melontarkan pendapat di media, atau sering > menyampaikan "prefarat" dalam seminar-seminar dan > konferensi, Kiai Ilyas adalah sebuah "mazhab", jika > saya boleh agak sedikit "takalluf" dan "superlatif" > (mubalaghah). Gaya kekiaian Kiai Ilyas adalah salah > satu di antara corak kekiaian yang berkembang dalam > tubuh NU. > > Pesantren Cipasung yang diasuh oleh Kiai Ilyas, > menurut saya, adalah merupakan contoh pelaksanaan dari > prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU, > "al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu bi > 'l-jadid al-aslah", memelihara yang lama yang baik, > menyerap yang baru yang lebih baik. > > Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal > 80an sebagai salah satu pesantren yang bekerjasama > dengan LP3ES (kemudian dilanjutkan oleh P3M) untuk > pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai saat itu > adalah "community development"), bersama-sama dengan > pesantren lain seperti Maslakul Huda asuhan Kiai Sahal > Mahfudz, Pesantren Tebuireng asuhan (saat itu) alm. > Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan asuhan Kiai Hamam > Ja'far, dan pesantren Asy-Syafi'iyah. > > Ide "pengembangan masyarakat" saat itu bermula dari > gagasan kalangan "intelektual kota" yang sedang asyik > dengan kritik atas teori pembangunan untuk menjadikan > pesantren sebagai eksperimen untuk model pembangunan > alternatif yang "bottom up", bukan "up-to-bottom" gaya > Suharto. > > Tidak semua pesantren menerima gagasan ini dan > dijadikan sebagai proyek percontohan untuk "kritik > pembangunanisme" ini. Sebagian kiai mencurigai proyek > ini sebagai "proyek Yahudi" yang berbahaya. Bersama > sejumlah kiai lain, Kiai Ilyas menerima inisiatif ini > dengan tangan terbuka, tanpa kecurigaan yang > berlebihan. Proyek rintisan LP3ES tidak semua > berhasil. Yang paling tahan lama hanyalah percontohan > yang ada di tiga pesantren: Kajen, Tebuireng dan > Cipasung. Sekarang, yang tersisa hanya dua: Kajen dan > Cipasung. > > Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan moral dan > intelektual dari kiai-kiai semacam Kiai Sahal dan Kiai > Ilyas itu. Dari proyek inilah lahir sejumlah > "santri-aktivis" yang menjembatani pesantren sebagai > lemabaga "tafaqquh fil al-din" (istilah yang sering > dipakai oleh Kiai Sahal) dan masyarakat. > > Dari Cipasung lahir santri-aktivis yang sudah saya > kenal sejak lama, Kang Tatang. Dari Kajen, lahir > orang-orang seperti alm. Pak Masykur Maskub. Dari > Tebuireng, lahir orang seperti Nas Sodri Nashori (yang > sekarang masih aktif di P3M) dan Mas Mufid A. Busyairi > (sekarang anggota DPR dari PKB). Dari Assyafiiyyah, > Jatiwaringin, lahir orang-orang seperti Mansour Fakih > (yang memperkenalkan dengan gigih gagasan > "pendidikan-sebagai-penyadaran" a la Paulo Freire) dan > Budhy Munawar Rachman. > > Saya adalah santri yang sedang tumbuh dan bergairah > berkenalan dengan ide-ide baru pada periode itu. > Lahirnya pusat-pusat pengembangan pesantren pada awal > 80an itu memberikan saya kesempatan untuk berkenalan > dengan gagasan-gagasan "sekuler" yang datang dari > kota. Pak Masykur Maskub, yang saat itu menjadi guru > di madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, sambil mengelola > pusat pengembangan masyarakat di pesantrennya Kiai > Sahal, memperkenalkan kepada saya sejumlah buku dan > jurnal Prisma terbitan LP3ES. > > Dari LP3ES pula lahir majalah "Pesan" (singkatan dari > "Pesantren") yang banyak memuat contoh-contoh sukses > proyek pengembangan masyarakat melalaui pesantren. > Majalah yang antara lain dikelola oleh Mas Hadimulyo > (sekarang aktif di PPP) ini saya baca dengan penuh > minat saat saya masih menjadi santri di Kajen dulu. > > Pada suatu pagi yang cerah, matahari berbinar-binar di > ufuk timur (ini bukan hiperbola, tetapi penggambaran > harafiah), saya membaca majalah Pesan dan menemukan > puisi-puisi Acep Zamzam Noor, putera dari Kiai Ilyas > yang saat itu masih kuliah di ITB. > > Pada edisi yang saya baca itu, antologi puisi Kang > Acep, "Tamparlah Mukaku", sedang diresensi. Sejumlah > puisi Kang Acep juga dimuat di sana. Sebagai santri > pedusunan, terus terang saya tak paham semua yang > ditulis Kang Acep. Saya hanya terpana berhadapan > dengan susunan kalimat yang aneh dalam puisi itu. > Hingga sekarang, saya termasuk penggemar puisi-puisi > Kang Acep, terutama puisi-puisi yang ia gubah saat > melancong ke Itali (beberapa dimuat di jurnal Kalam). > > Saya juga menyukai sejumlah lukisan Kang Acep. > Beberapa di antaranya saya lihat di ruang tamu > kediaman Kiai Ilyas di Cpasung (saya lihat saat saya > ikut menjadi "romli" [rombongan liar] pada Muktamar NU > ke-29 di Cipasung, Desember 1994). Beberapa lukisannya > yang lain saya lihat di rumah Sitok Srengenge di > Depok. > > Suasana pesantren selepas Muktamar NU ke-27 yang > ingar-bingar saat itu, hingga muktamar yang ke-29 di > Cipasung, adalah suasana penuh antusiasme menyambut > ide-ide baru. Pada periode itulah saya tumbuh sebagai > seorang santri "ndeso" di sudut desa Kajen, Pati. Pada > saat itulah, saya mulai berkenalan dengan ide-ide Gus > Dur, Cak Nur, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Sutjipto > Wirosardjono, Jalaluddin Rakhmat, Masdar, Aswab > Mahasin, MM Billah, Nasihin Hasan, Hadimulyo, Mansour > Fakih. > > Nama-nama itu saya kenal entah lewat majalah Prisma, > Pesan, atau Pesantren (diterbitkan oleh P3M beberapa > saat setelah muktamar di Situbondo), atau majalah > Tempo. Pada saat itu, terbit sebuah majalah yang sudah > dilupakan banyak orang saat ini, yakni majalah Nuansa. > Majalah yang sangat baik ini terbit hanya satu edisi, > dan dalam edisi yang hanya satu-satunya itulah diulas > dengan cukup kritis ide negara Islam yang saat itu > masih cukup kuat berkembang di kalangan aktivis masjid > kampus (antara lain Masjid Salman, Bandung). Pada > edisi itulah saya membaca kritik atas konsep negara > Islam-nya Maududi yang ditulis oleh Pak Djohan Effend > (saya lupa persisnya: kalau tidak Pak Djohan ya Mas > Dawam Rahardjo). > > Dengan kata lain, saya mengenang Kiai Ilyas sebagai > salah satu kiai yang menjadi bagian penting dari > periode "keterbukaan" dan antusiasme menerima ide-ide > baru itu. > > Saat ini, bandul pesantren sudah berubah. Tampaknya > saat ini kecenderungan yang lebih menonjol di beberapa > pesantren adalah keengganan, atau bahkan kecurigaan, > pada gagasan baru. Sebagaimana setiap buah memiliki > musimnya masing-masing, begitu pula periode > keterbukaan itu juga memiliki musimnya sendiri. Musim > itu, kini, tampaknya sedang berlalu, digantikan oleh > musim yang lain. > > Saya kangen pada musim keterbukaan itu... > > Allahumma ighfir li Kiai Ilyas war hamhu wa 'afihi > wa'fu 'anhu. > > Allahumma ij'al manqubatahu ma'tsaratan min ma'atsiri > Nahdlatil Ulama'. > > --- Eko AP <[EMAIL PROTECTED] <exoap76%40gmail.com>> wrote: > > > Innalillahi Wainnailaihi Roji'uun... > > > > Telah meninggal dunia KH Ilyas Ruchyat, mantan Rais > > Aam PBNU dan pengasuh > > Ponpes Cipasung Tasikmalaya pada hari Selasa, 18 > > Desember 2007 pukul 16.15WIB. > > Allahumma ighfir lahu wa-rhamhu wa'afihi wa'fu > > anhu... > > > > Alfaatihah...... > > > > > > [Non-text portions of this message have been > > removed] > > > > > > Ulil Abshar-Abdalla > Department of > Near Eastern Languages and Civilizations > Harvard University > > __________________________________________________________ > Be a better friend, newshound, and > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ > > > [Non-text portions of this message have been removed] ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
