Miftah yang baik, Maaf, saya benar-benar lupa menyebut PP An-Nuqayah di Gulu-Guluk, Madura, yang dikelola oleh KH. Abdul Basith. Kiai Basith (saya dengar beberapa waktu terakhir ini sedang sakit keras; semoga Allah lekas memberinya kesembuhan) termasuk dalam kiai dari generasi "periode keterbukaan" yang saya sebut dalam email yang lalu. Dari Guluk-Guluk inilah lahir "kiai intelektual" seperti Dr. Abd A'la dan "kiai aktivis" seperti Mas Pangcu Driyantono.
Yang ingin mengetahui lebih detil mengenai dinamika pesantren pada periode ini, bisa membaca artikel yang ditulis oleh Martin van Bruinessen dan Farid Wadjidi di link berikut ini: http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/Syuun_Ijtimaiyah.htm Saya khawatir, nama-nama kiai NU "baru" yang sekarang malang-melintang dalam "gelanggang politik" tidak mengetahui, atau paling tidak kurang menyadari betapa "periode keterbukaan" yang bertiup menjelang dan sesudah Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984 itu sangat penting perannya dalam sejarah kelahiran generasi baru anak-anak NU. Yang saya sebut "kiai-kiai baru NU" itu tentu mencakup orang-orang seperti KH. Ma'ruf Amin yang hendak "mencuci" NU dari unsur-unsur "liberal" itu. Ulil --- lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salam... > Mas Ulil menulis > Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal > 80an sebagai salah satu > pesantren yang bekerjasama dengan LP3ES (kemudian > dilanjutkan oleh P3M) > untuk pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai > saat itu adalah > "community development"), bersama-sama dengan > pesantren lain seperti > Maslakul Huda asuhan Kiai Sahal Mahfudz, Pesantren > Tebuireng asuhan (saat > itu) alm. Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan > asuhan Kiai Hamam Ja'far, dan > pesantren Asy-Syafi'iyah. > > Mas Ulil, Pesantren Al Nuqoyah dengan tokohnya KH > Abdul Basith kok gak di > sebut2. Setahu saya justru paling eksis dan > konsisten dengan kerja-kerja > pemberdayaan berbasis kemandirian masyarakat adalah > Al Nuqoyah melalui Biro > Penganbdian Masyarakat (BPM). > > Setahu saya pesantren yang terlibat awal dalam > kerja2 pengembangan > masyarakat kerja sama dengan LPE3S selain yang > disebut Mas Ulil di atas juga > ada PP Al Nuqoyah Sumenep,PP Darun Najah Jakarta dan > PP Nurul Jadid > Probolinggo. > > Menurut saya yang paling menarik dan berhasil adalah > BPM Al Nuqoyah karena > berhasil mengintergrasikan pada sistem pembelajaran > pesantren. Para santri > senior sebelum muqim pada belajar pengembangan dan > pemberdayaan masyarakat > di BPM. Setahu saya untuk kasus Kajen justru kayak > terpisah antara BPPM dan > sistem pembelajaran pesantren. Cipasung juga kurang > menggembirakan karena > kadernya pengembangan masyarakatnya adalah santri > yang tidak menetap di > pesantren. bukankah Mas Ulil dkk pernah di minta > membuat draft kurikulum > Ma'had 'Aly (Pasca Aliyah) yang di harapkan bisa > melengkapi kemampuan santri > dalam hal pemberdayaan dan advokasi yang rencananya > akan di aplikasikan di > PP Kajen kurang di setujui oleh KH. Sahal M. > > Kalau ada yang salah mohon maaf.... > > Miftah > > > ----- Original Message ----- > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]>; "Islam Liberal" > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Tuesday, December 18, 2007 10:15 PM > Subject: [kmnu2000] Ratsa' (eulogia) untuk Kiai > Ilyas Ruhiyat > > > > Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... > > > > Saya husnuz-zan, bahwa Kiai Ilyas Ruhiyat adalah > "min > > ahlil jannah". Semoga pembawaan Kiai Ilyas yang > > lembut, akomodatif, toleran, dan mengayomi semua > pihak > > ini bisa menjadi teladan bagi kita semua, baik di > > dalam atau di luar NU, terutama di saat-saat > ketika > > toleransi sebagai ide dan praktek dikutuk dan > dimusuhi > > seperti sekarang ini. > > > > Meski tak dikenal sebagai kiai yang banyak > menulis, > > melontarkan pendapat di media, atau sering > > menyampaikan "prefarat" dalam seminar-seminar dan > > konferensi, Kiai Ilyas adalah sebuah "mazhab", > jika > > saya boleh agak sedikit "takalluf" dan > "superlatif" > > (mubalaghah). Gaya kekiaian Kiai Ilyas adalah > salah > > satu di antara corak kekiaian yang berkembang > dalam > > tubuh NU. > > > > Pesantren Cipasung yang diasuh oleh Kiai Ilyas, > > menurut saya, adalah merupakan contoh pelaksanaan > dari > > prinsip yang dikenal dan dihayati dalam NU, > > "al-muhafazah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdhu > bi > > 'l-jadid al-aslah", memelihara yang lama yang > baik, > > menyerap yang baru yang lebih baik. > > > > Saya mengenal pesantren Cipasung pertama kali awal > > 80an sebagai salah satu pesantren yang bekerjasama > > dengan LP3ES (kemudian dilanjutkan oleh P3M) untuk > > pengembangan masyarakat (bahasa yang dipakai saat > itu > > adalah "community development"), bersama-sama > dengan > > pesantren lain seperti Maslakul Huda asuhan Kiai > Sahal > > Mahfudz, Pesantren Tebuireng asuhan (saat itu) > alm. > > Kiai Yusuf Hasyim, Pesantren Pabelan asuhan Kiai > Hamam > > Ja'far, dan pesantren Asy-Syafi'iyah. > > > > Ide "pengembangan masyarakat" saat itu bermula > dari > > gagasan kalangan "intelektual kota" yang sedang > asyik > > dengan kritik atas teori pembangunan untuk > menjadikan > > pesantren sebagai eksperimen untuk model > pembangunan > > alternatif yang "bottom up", bukan "up-to-bottom" > gaya > > Suharto. > > > > Tidak semua pesantren menerima gagasan ini dan > > dijadikan sebagai proyek percontohan untuk "kritik > > pembangunanisme" ini. Sebagian kiai mencurigai > proyek > > ini sebagai "proyek Yahudi" yang berbahaya. > Bersama > > sejumlah kiai lain, Kiai Ilyas menerima inisiatif > ini > > dengan tangan terbuka, tanpa kecurigaan yang > > berlebihan. Proyek rintisan LP3ES tidak semua > > berhasil. Yang paling tahan lama hanyalah > percontohan > > yang ada di tiga pesantren: Kajen, Tebuireng dan > > Cipasung. Sekarang, yang tersisa hanya dua: Kajen > dan > > Cipasung. > > > > Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan moral dan > > intelektual dari kiai-kiai semacam Kiai Sahal dan > Kiai > > Ilyas itu. Dari proyek inilah lahir sejumlah > > "santri-aktivis" yang menjembatani pesantren > sebagai > > lemabaga "tafaqquh fil al-din" (istilah yang > sering > > dipakai oleh Kiai Sahal) dan masyarakat. > > > > Dari Cipasung lahir santri-aktivis yang sudah saya > > kenal sejak lama, Kang Tatang. Dari Kajen, lahir > > orang-orang seperti alm. Pak Masykur Maskub. Dari > > Tebuireng, lahir orang seperti Nas Sodri Nashori > (yang > > sekarang masih aktif di P3M) dan Mas Mufid A. > Busyairi > > (sekarang anggota DPR dari PKB). Dari > Assyafiiyyah, > > Jatiwaringin, lahir orang-orang seperti Mansour > Fakih > > (yang memperkenalkan dengan gigih gagasan > > "pendidikan-sebagai-penyadaran" a la Paulo Freire) > dan > > Budhy Munawar Rachman. > > > > Saya adalah santri yang sedang tumbuh dan > bergairah > > berkenalan dengan ide-ide baru pada periode itu. > > Lahirnya pusat-pusat pengembangan pesantren pada > awal > > 80an itu memberikan saya kesempatan untuk > berkenalan > > dengan gagasan-gagasan "sekuler" yang datang dari > > kota. Pak Masykur Maskub, yang saat itu menjadi > guru > > di madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, sambil > mengelola > > pusat pengembangan masyarakat di pesantrennya Kiai > > Sahal, memperkenalkan kepada saya sejumlah buku > dan > > jurnal Prisma terbitan LP3ES. > > > > Dari LP3ES pula lahir majalah "Pesan" (singkatan > dari > > "Pesantren") yang banyak memuat contoh-contoh > sukses > > proyek pengembangan masyarakat melalaui pesantren. > > Majalah yang antara lain dikelola oleh Mas > Hadimulyo > > (sekarang aktif di PPP) ini saya baca dengan penuh > > minat saat saya masih menjadi santri di Kajen > dulu. > === message truncated === Ulil Abshar-Abdalla Department of Near Eastern Languages and Civilizations Harvard University ____________________________________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
