Realitas memperlihatkan bahwa maf'ul itu sebuah eksistensi yang tidak bisa 
dihilangkan. Dari sononya sudah ada maful. Persoalannya bagaimana kita 
menyikapi dan memperlakukan maf'ul bukan sebagai obyek dari kepentingan 
subyektif, kerakusan dan keserakahan kita. Karena itu ketika kita memakan 
daging dan nasi, bagaimana mengapresiasi daging dan nasi melalui cara makan 
yang baik, tidak mubazir dan serakah. 
Ironisnya, banyak tokoh atau orang yang suka menggembar-gemborkan anti maf'ul, 
mengkritik orientalisme karena memaf'ulkan orang dan bangsa Timur dan Muslim, 
sikap dan pandangan mereka yang substantif tidak lebih baik dari yang mereka 
kritik. Disadari atau tidak, mereka juga memaf'ulkan orang lain. Ketika saya 
menulis tentang kyai karbitan, orang-orang banyak yang memaf'ulkan saya, 
termasuk mereka yang menolak keberadaan maf'ul. 
Pada sisi ini saya sangat mengagumi kyai organik. Mereka dengan kesadarannya 
justru memaf'ulkan diri mereka, mereka tidak mau dijadikan sebagai petinggi 
pesantren. Alih-alih mereka mengaku sebagai khadim. Kita harus belajar banyak 
kepada mereka.
Salam
abd a'la

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke