Sejarah "Penguasa" dan Sejarah "Orang Pinggiran" (Tuk Mas Baso)
Membaca Sejarah Indonesia dengan Pisau Analisa Dua Tokoh Prancis; Genealogi Kekuasaan (Foucault) dan Pemikiran Liar-Primitif (Levi Strauss) Salam Mas Baso 1. Saya tertarik pada kajian anda tentang sejarah orang kecil dengan pisau analisa Subaltern Studies. Saya setuju, memang orang kecil selalu dipinggirkan, baik dengan cara peminggiran gaya lama dan gaya baru. Dalam buku-buku sejarah konvensional pun, saya melihat ada upaya peminggiran kelompok yang disebut pemberontak atau kaum petani. Mereka dianggap tidak berperan penting dalam pembentukan sejarah Indonesia. (Atau kalau pun ada, menurut bahasa sampean, hanyalah suara demi orang lain bukan demi mereka sendiri). Seharusnya mereka tidak diperlakukan demikian, sebab kenyataannya justru merekalah orang yang mengorbankan keringat dan darah demi terbangunnya negara Indonesia. Melihat petani, nelayan, buruh bangunan, buruh jalanan, dalam sejarah Indonesia, seperti melihat orang-orang yang ditinggalkan oleh perahu Nabi Nuh. Mereka yang ditinggalkan oleh kapal itu adalah orang terpinggirkan yang tidak pernah diketahui oleh sejarah, kalau pun diketahui hanyalah sebagai orang pinggiran. Atau sebaliknya, saya melihat orang pinggiran itu seperti orang gila yang diangkut dalam Stultifera Navis atau Narrenschiff: kapal yang membawa orang gila. Kapal yang diceritakan Michel Foucault sebagai kapal pengangkut dan pembuang orang gila yang melintasi sungai dan terusan dari Rheiland (Jerman) dan Flandaria (Belgia) di abad ke 15. Momen itu, menurut Foucault, sebagai momen terpinggirnya orang-orang gila dari kehidupan -yang dianggap- normal di Barat. Sama saja, dimulainya penulisan buku "sejarah Indonesia" adalah momen di mana orang kecil mulai terpinggirkan. Serta ada upaya untuk meminimalisir peran kaum petani, nelayan, dan wong cilik lainnya. Tapi menurut saya ada yang terlewatkan dalam tulisan sampean dan analisa Kuntowijoyo. Terutama tentang penjabaran peran "sejarawan akademis" dalam struktur sosial masyarakat Indonesia. Saya memang setuju jika dikatakan bahwa mayoritas penulis sejarah Indonesia adalah sejarawan akademis. Tapi pertanyaannya apakah sejarawan akademis ini adalah satu-satunya pembentuk imajinasi sejarah bangsa Indonesia? Saya jawab tidak. Di samping sejarawan akademis, ada sejarawan yang justru lebih berpengaruh dalam pembentukan imajinasi sosial&sejarah dalam struktur elemen-elemen sosial tertentu di Indonesia. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai "orang yang bercerita". Tapi menurut saya, justru terkadang pencerita atau pendongeng ini lebih memiliki peran dalam pembentukan imajinasi sejarah dalam struktur tertentu masyarakat Indonesia. Dalam kacamata antropologi kebudayaan, cerita rakyat, cerita dari para kyai, cerita para pahlawan, terkadang justru lebih otoritatif ketimbang sejarah tulisan sejarawan akademis. Untuk membuktikannya mari kita meneliti masyarakat pedesaan (yang menurut Gus Dur adalah pendukungnya, he he. Khususnya kyai kampung yang menurutnya gak perlu salam templek, tapi cukup berkat yang paling gede, he he).. Ternyata mereka banyak yang tak memiliki akses kuat pada buku, tv, hp, mobil, dll. Khususnya akses terhadap buku sejarawan akademis ini. Jadi, menurut saya, banyak elemen masyarakat yang tidak membaca karya Snouck Hurgonje, Onghokham, Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, dll. Sehingga kerisauan akan masuknya paradigma mereka terhadap kaum pedesaan akan terminimalisir dengan sendirinya. Sebab imajinasi sejarah mereka tidak terbentuk lewat buku atau sejarawan akademis, tapi lebih dibentuk oleh para kyai, orang tua, pini sepuh, dan pialang budaya lainnya, dll. Satu hal lagi, saya melihat penggambaran negatif terhadap orang kecil di Indonesia tidak hanya akibat dari ilmu-ilmu sosial Barat. Justru peran negara dan kaki tangannya lebih bepengaruh daripada ilmu sosial itu. Bahkan saya melihat yang terjadi adalah "orang dalam yang besar" memarginalkan "orang dalam yang kecil". Bang Iwan Fals dalam lagu yang berjudul "Besar dan Kecil" menggambarkan dengan apik fenomena ini. Menurut saya, peran orang luar dalam proses marginalisasi ini terlihat sedikit. Saya melihat marginalisasi PKI, AOI, DI/TII, GAM, bahkan petani, nelayan, buruh bangunan, buruh jalanan, dll itu lebih diakibatkan oleh orang dalam sendiri, bukan orang luar. Tapi memang, sedikit atau banyak, ilmu sosial barat berpengaruh terhadap corak historiografi Indonesia. Sehingga kita perlu menulis ulang sejarah lebih komprehensif lagi. Satu hal yang menarik adalah fenomena penggunaan ilmu sosial Barat oleh sekelompok orang dalam yang "bekehendak untuk berkuasa". Boleh lah disebut sebagai elitisme, elitisme kolonial, atau elitisme borjuis-nasionalis. Dengan pisau analisa Foucault fenomena ini dianggap sebagai bagian dari "strategi kuasa" atau "strategi untuk berkuasa". Jadi, kekuasaan itu bukanlah milik, tapi strategi. Dan kekuasaan pun tidak hanya dalam politik, tapi di berbagai lini kehidupan banyak "kekuasaan". Dan secara sadar atau pun tidak, "strategi" digunakan oleh orang yang berkuasa atau yang berkehendak berkuasa, untuk mempertahankan kekuasaannya. Hanya dengan pisau analisa ini, kita bisa menjelaskan secara rinci perangkat-perangkat kekuasaan dan bagaimana proses "elemen yang berkehendak untuk berkuasa" dalam memantapkan kekuasaannya dan meraih kekuasaannya. Dengan pisau analisa Foucault, kita bisa membaca juga, apa yang dilakukan oleh Baba dan Spivak sebagai bagian dari elemen "yang berkehendak untuk berkuasa" dari golongan tertentu. Ini juga perlu dipaparkan. Dan tidak selamanya pembelaan terhadap kaum kecil, slogan membela pribumi, akan berujung pada sesuatu yang positif. Kalau tidak- hati-hati, justru slogan ini memakan korban. Contohnya Marxisme Uni Soviet, justru dengan slogan membela kaum proletar, mereka menumpas jutaan musuh-musuh politiknya. Malaysia juga. Dengan slogan membela pribumi, kaum minoritas India di sana dimarginalkan. Jadi, semua sama-sama berkehendak untuk berkuasa. Hanya saja ada yang sedang kalah dan ada yang sedang menang. Tapi Foucault melihat "strategi kuasa" ini bukanlah proses negatif, tapi proses produktif dan kreatif. Sehingga, apa yang dilakukan Baba dan Spivak juga bermuatan kreatif dan produktif. Satu hal lagi yang perlu ditegaskan, kekuasaan terjaga justru bukan karena destruksi atau penindasan, tapi lebih kepada normalisasi dan regulisasi. Sehinga kekuasaan itu bisa diterima secara sadar ataupun tidak sadar. Normalisasi ini yang justru tak terlihat oleh kita. Kita ambil contoh kecil apa yang dilakukan pak Harto selama berkuasa. Ia terus-menerus mengkampanyekan marginalisasi PKI dan atheis sebagai bagian dari politik orde baru, serta menormalkan kekuasaanya. Sehingga masyarakat tidak sadar bahwa mereka sedang menjalani proses- proses normalisasi dan regulasi yang dijadikan strategi untuk mempertahankan kekuasaan orde baru. Strategi itu tidak hanya dilancarkan di televisi, tapi juga dalam buku sejarah dan kebijakan- kebijakan sosial, budaya, agama, politik lainnya. 2. Tapi di samping itu, saya setuju dengan anda kita perlu untuk menulis ulang tentang sejarah orang-orang yang disebut sebagai "orang ndeso yang aneh", "pemberontak", "gerakan yang gagal dan abortif", "kaum NU yang jumud dan terbelakang". Karena saya sepakat dengan Levi Strauss dalam analisa Savage Mind (pemikiran orang liar-primitif) yang mengatakan bahwa baik pemikiran liar primitif ataupun pemikiran ilmiah modern sama-sama berpikir logis. Tapi keduanya memiliki ke-khas-an pemikirannya. Jadi, jika hanya menggunakan kacamata logika ilmiah modern, kita tak akan mampu memahami apa yang disebut sebagai pemikiran liar-primitif. Logika ilmiah modern tidak akan bisa memahami peran simbol keagamaan, tradisi, surban kyai, songkok kyai, tasbih kyai, jimat, air putih, doa-doa, dalam struktur masyarakat pedesaan. Hal-hal yang dianggap klenik dan mistis ini tak akan dianggap sebagai suatu yang penting dalam logika sains. Dengan kacamata sains, kita tak akan mampu membaca proses mencium tangan sebagai normalisasi kekuasaan kyai, minta air sebagai peneguhan posisi kyai, kata Allah Akbar yang mengobarkani semangat untuk berperang melawan Belanda, peran fatwa dalam dinamika keagamaan, dan banyak lagi fenomena aneh yang tak bisa dijabarkan oleh logika ilmiah modern, seperti jimat-jimat, rajah, hizb, santet, debus, kesaktian pagar Nusa, dll. Saya setuju jika kita melakukan penulisan sejarah ulang sebagai normalisasi kekuasaan NU dalam konstelasi sosial politik Indonesia.... He he he. Pencinta NU dari Jember, Jawa Timur Robith Qoshid --- In [email protected], "Abd A'la" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Realitas memperlihatkan bahwa maf'ul itu sebuah eksistensi yang tidak bisa dihilangkan. Dari sononya sudah ada maful. Persoalannya bagaimana kita menyikapi dan memperlakukan maf'ul bukan sebagai obyek dari kepentingan subyektif, kerakusan dan keserakahan kita. Karena itu ketika kita memakan daging dan nasi, bagaimana mengapresiasi daging dan nasi melalui cara makan yang baik, tidak mubazir dan serakah. > Ironisnya, banyak tokoh atau orang yang suka menggembar-gemborkan anti maf'ul, mengkritik orientalisme karena memaf'ulkan orang dan bangsa Timur dan Muslim, sikap dan pandangan mereka yang substantif tidak lebih baik dari yang mereka kritik. Disadari atau tidak, mereka juga memaf'ulkan orang lain. Ketika saya menulis tentang kyai karbitan, orang-orang banyak yang memaf'ulkan saya, termasuk mereka yang menolak keberadaan maf'ul. > Pada sisi ini saya sangat mengagumi kyai organik. Mereka dengan kesadarannya justru memaf'ulkan diri mereka, mereka tidak mau dijadikan sebagai petinggi pesantren. Alih-alih mereka mengaku sebagai khadim. Kita harus belajar banyak kepada mereka. > Salam > abd a'la > > [Non-text portions of this message have been removed] >
