Hehehe, Mas A'la merasa dimaf'ulkan gara-gara tulisannya dikritik,... Saya
kira tidak sesederhana itu.

Btw... Fail maf'ul Ahmad Baso itu lumayan orisinil, paling tidak dalam
"meng-NU-kan" gagasan yang diimpornya dari Spivak @Edward Said.

Para peneliti memang secara tidak sadar sering memaf'ulkan apa yang sedang
dilihatnya, karena kerja penelitian sesungguhnya adalah kerja-kerja elit
yang hanya bisa dilakukan oleh para fail. Mas A'la menyebut kiai organik-nya
dengan "mereka", itu dengan sendirinya menjadikan kiai sebagai maf'ul.

Ada yang tidak bisa dimungkiri bahwa klaim obyektivitas itu menjadi semacam
stimulus untuk menjadikan apa yang diamati sebagai obyek, lalu peneliti
menyembunyikan subyektifitasnya di balik obyek-obyek itu. Saya juga tidak
yakin Mas Baso tulisan-tulisan Mas Baso benar-benar menyuarakan "gundah
hati" para korban lumpur, atau sekedar ekpresi kebencian terhadap
orang-orang yang dekat dengan Bakri-Lapindo.

Salam..
Anam


2008/2/26 Abd A'la <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Realitas memperlihatkan bahwa maf'ul itu sebuah eksistensi yang tidak
> bisa dihilangkan. Dari sononya sudah ada maful. Persoalannya bagaimana kita
> menyikapi dan memperlakukan maf'ul bukan sebagai obyek dari kepentingan
> subyektif, kerakusan dan keserakahan kita. Karena itu ketika kita memakan
> daging dan nasi, bagaimana mengapresiasi daging dan nasi melalui cara makan
> yang baik, tidak mubazir dan serakah.
> Ironisnya, banyak tokoh atau orang yang suka menggembar-gemborkan anti
> maf'ul, mengkritik orientalisme karena memaf'ulkan orang dan bangsa Timur
> dan Muslim, sikap dan pandangan mereka yang substantif tidak lebih baik dari
> yang mereka kritik. Disadari atau tidak, mereka juga memaf'ulkan orang lain.
> Ketika saya menulis tentang kyai karbitan, orang-orang banyak yang
> memaf'ulkan saya, termasuk mereka yang menolak keberadaan maf'ul.
> Pada sisi ini saya sangat mengagumi kyai organik. Mereka dengan
> kesadarannya justru memaf'ulkan diri mereka, mereka tidak mau dijadikan
> sebagai petinggi pesantren. Alih-alih mereka mengaku sebagai khadim. Kita
> harus belajar banyak kepada mereka.
> Salam
> abd a'la
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke