Teka-teki cerdas dan homor segar masih ada dalam tradisi NU. Hampir semua
pengurus NU dan partai berbasis NU bisa berhumor. Solidaritas pun masih ada,
dan sarananya adalah alumni pesantren atau murid kiai tertentu, atau
organisasi NU itu sendiri. Cuma perbedaannya dari dulu adalah garis politik.
Gus Dur dan Pak Ud yang sama-sama humoris juga tidak pernah akur dalam
berpolitik.

Jadi begitu. Dunia santri mana yang roboh *Ya* Facry? (ehm meminjam kalimat
sayang Maria dalam Ayat Ayat Cinta)

Salam semuanya,
Anam


2008/5/28 Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]>:

>   http://www.gatra.com/artikel.php?id=114977
>
> Robohnya Dunia Santri
>
> "Saya heran," kata Abdurrahman Wahid ketika menyambut acara peluncuran
> /website/ Akbar Tandjung, bulan lalu, "Kenapa setiap orang berpidato
> selalu menyatakan: 'Mari kita panjatkan syukur'...." Hadirin terdiam
> karena tidak mengerti ke mana arah ucapan tersebut. Dan struktur
> "psikologi massa" semacam inilah yang menjadi "makanan" Kiai Wahid.
> Sebagaimana biasanya, dengan tangkas ia menjawab teka-teki itu:
> "Memangnya (si) Syukur tidak bisa panjat sendiri?"
>
> Mengembangkan tradisi kejenakaan yang cerdas, dalam arti mementaskan
> teka-teki dengan jawaban mengejutkan, merupakan tipikal kaum pesantren
> --/locus/ sentral dunia kaum /nahdliyyin/. Almarhum Pak Ud atau Jusuf
> Hasyim, paman Abdurrahman Wahid dan pengasuh Pesantren Tebuireng,
> Jombang, berkisah tentang zaman revolusi. Seorang santri yang menjadi
> pejuang telah dibekali dengan fatwa: wajib maju menghadang musuh.
> Sebaliknya, setiap langkah mundur hukumnya haram.
>
> Persoalannya, sang santri tiba-tiba harus berhadapan dengan sebuah tank
> Belanda. "Apa yang harus dilakukan?" tanya Pak Ud. Semua paham, betapa
> dilematis posisi pejuang santri tersebut secara fisik maupun religius.
> Maju berarti mengantar nyawa, dan mundur terkena sanksi agama. Tapi tak
> seorang pun bisa menjawab tantangan itu dengan tepat. Dengan kalem, Pak
> Ud menjawab sendiri: sang santri harus memiringkan posisi badannya.
> Dengan posisi miring, ia tak perlu kehilangan nyawa dan sekaligus tidak
> haram.
>
> Ahli budaya dan kosmologi Jawa dari Cornell University, Benedict
> Anderson, pernah terpesona oleh teka-teki cerdas kaum santri Jawa ini.
> Dalam karyanya, /Language and Power: Exploring Political Culture in
> Indonesia/, ia tertarik pada teka-teki /longan/ (kolong). Dalam konteks
> ini, kaum santri memperdebatkan konsep ada dan tiada dengan bertanya
> apakah /longan/ itu betul-betul riil? /Longan/ sebuah meja atau ranjang
> dengan mudah bisa diidentifikasikan. Tapi, bagaimana jika meja dan
> ranjang itu dipindahkan? Apakah posisi /longan/ meja atau ranjang
> tersebut tetap ada?
>
> Bermain logika dengan teka-teki cerdas dan jenaka ini tumbuh dalam
> keguyuban dunia pesantren. Tradisi itu berkembang karena struktur ritme
> kehidupan dunia santri ini bersifat /self-sustain/. Sifat ini bukan saja
> ditandai oleh kurang bergantungnya komunitas santri dalam ekonomi,
> budaya, dan intelektual pada aktor-aktor eksternal. Melainkan juga oleh
> berkembangnya mental /qanaah/ (menerima apa adanya yang diberikan Tuhan)
> di kalangan mereka. Dalam ritme kehidupan yang berjalan secara teratur,
> tanpa tergesa-gesa, inilah gagasan-gagasan teka-teki cerdas muncul
> --bukan saja untuk mengasah otak, juga untuk memberi makna terhadap
> kehidupan itu sendiri.
>
> Secara sosiologis, kehidupan mandiri inilah yang memperkuat kohesivitas
> internal komunitas santri. Mental /qanaah/ yang dianut membuat setiap
> anggota komunitas cenderung menggelar sikap ikhlas, karena itu menolak
> ambisi pribadi. Kombinasi keduanya ini membuat resiliensi (daya tahan)
> mereka terhadap tekanan eksternal menjadi paripurna. Dengan keikhlasan
> dan tanpa ambisi personal, mereka mempercayakan kepemimpinan kepada
> seseorang untuk menghadapi dunia luar. Ini pula yang menjelaskan
> bagaimana Nahdlatul Ulama (NU), /jam'iah/ (organisasi) kaum /nahdliyyin/
> di bawah Abdurrahman Wahid, mampu mempertahankan soliditas, walau berada
> dalam tekanan rezim Orde Baru.
>
> Pertanyaannya, apakah kini soliditas itu tetap terjaga? Yang kita
> saksikan, keruntuhan kekuasaan rezim Orde Baru telah mengubah rezim
> kontestasi politik. Jika sebelumnya rezim itu bersifat --meminjam
> istilah Karl Jackson-- /bureaucratic polity/, yakni dunia politik yang
> dikuasai elite pemerintahan tanpa membutuhkan artikulasi kepentingan
> massa, kini berganti menjadi /mass-based politics/: kekuasaan hanya
> mungkin diraih oleh seseorang atau kelompok orang yang mendapatkan
> dukungan massa.
>
> Puluhan juta warga /nahdliyyin/, dengan demikian, memenuhi persyaratan
> rezim kontestasi kekuasaan baru ini. Berdirinya Partai Kebangkitan
> Bangsa (PKB) pada awal reformasi bukan saja menjadi instrumen politik
> kaum /nahdliyyin/, melainkan juga cocok dengan semangat /mass-based
> politics/ itu.
>
> Persoalannya, PKB lebih berfungsi sebagai sarana mobilitas vertikal
> segelintir anggota komunitas santri. Dari segi tertentu, PKB telah
> menjadi ruang inkubasi, dalam mana kaum santri membiak menjadi kaum
> menengah baru melalui jalur politik. Tapi, pada pihak lain, PKB adalah
> "pisau tajam" yang membelah kohesivitas jagat santri itu sendiri.
>
> *Bayangan atau bahkan nikmat kekuasaan yang dapat diraih melalui PKB
> bukan saja telah membuat komunitas santri menjadi tak imun terhadap
> aktor-aktor eksternal, melainkan juga membuat mental /qanaah/ memudar.
> *Sebagai gantinya adalah penampilan pribadi-pribadi ambisius, yang nafsu
> kekuasaan mereka telah menyebabkan keguyuban ritme kehidupan santri
> menjadi hiruk-pikuk tanpa tujuan ideal.
>
> Pertarungan kekuasaan jagat politik santri dewasa ini telah menjadi
> bukti absah tentang robohnya kohesivitas komunitas ini. Dan gagasan
> teka-teki cerdas dan jenaka mungkin harus kita cari di dunia lain.
>
> *Fachry Ali*
> /Pengamat politik/
> [*Perspektif*, /Gatra/ Nomor 25 Beredar Kamis, 8 Mei 2008]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke