Supaya tak diledek oleh teman "sebelah", seharusnya dikatakan "Ahlussunnah wal Bid'ah al-Hasanah", sehingga dari segi nahwu tertib dan bener....
Khusus untuk Akhi Anam, setahu saya dalam balaghah tak ada istilah ""hadzfus sifat alal maushuf" seperti antum sebutkan itu. Secara kebahasaan, istilah antum itu juga tak tepat. Tetapi dari segi konsep, saya setuju dengan gagasan ini. Bid'ah, terutama dalam lapangan mu'amalah, harus digalakkan. Bid'ah yang dilarang hanya dalam kawasan yang sangat sempit, yaitu masalah ibadah murni, seperti menambah raka'at salat, misalnya. Kalau mengadakan ibadah baru yang tak ada pada zaman Nabi, kenapa tak boleh, wahai kaum salafi-wahabi yang ada di sebelah "sana" itu? Dalil "ma wa khalaqtu al-insa wa al-jinna illa liya'budun" menurut saya berlaku umum. Kita diciptakan Tuhan kan untuk beribadah. Jadi, ciptakanlah ibadah sebanyak-banyaknya, asal dengan tujuan yang satu: yaitu ikhlas untuk Alllah SWT. Perkara ibadah itu tak pernah ada pada zaman Nabi tak menjadi soal. Misalnya, orang-orang wahabi menentang praktek puasa yang dikaitkan dengan pembacaan dala'il al-khairat yang terkenal di pesantren itu. Alasan mereka, ini ibadah yang "muhdatsah", atau diada-adakan setelah Nabi. Jadi bid'ah. Argumen kaum wahabi ini tak tepat. Sebab, ibadah ini masuk dalam dalil umum di atas, juga termasuk dalam dalil umum yang lain, innal-Laha wa mala'ikatahu yushalluna 'ala al-nabi.... Jadi, marilah kita perbanyak bid'ah, baik dalam masalah mu'amalah atau ibadah, asal tidak bertentangan dengan aturan yang sudah ditetapkan agama. AHMAD agukirawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://www.nu.or.id/page.php Memproklamirkan `Ahlussunnah wal Bidah Hasanah 26/05/2008 Judul: Ahlussunnah wal Bidah Hasanah Penulis: Tim Jurnal Kalimah Penerbit: Lesbumi Yogyakarta Cetakan: Mei 2008 Tebal: 169 halaman Peresensi: A Khoirul Anam Kalangan Nahdliyin (warga organisasi Nahdlatul Ulama/NU), juga para kiai dan santri di pondok pesantren sering dihadapkan dengan gugatan kelompok yang menamakan diri `kelompok pemurnian Islam' atau `kelompok modernis'. Mereka yang muncul belakangan ini `berteriak-teriak' mengharamkan alias mencap sesat beberapa ritual peribadatan (ubudiyah) yang sudah lama dijalankan semenjak Islam pertama kali berkembang di Nusantara, seperti tahlilan, ziarah kubur, selamatan, selawat Nabi, perayaan Maulid Nabi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ada satu senjata andalan yang sering mereka todongkan yakni bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan: "Kullu bid'atin dholalah, wa kullu dhalalatin fin nar", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: semua bid'ah atau perkara baru dalam beribadah itu adalah sesat dan semua kesesatan itu adanya di neraka. Terkadang gugatan itu ditanggapi ditanggapi sambil lalu, terkadang malah didiamkan saja. Namun terkadang juga ditanggapi serius seperti ini: Bahwa kata `kullu' dalam hadits Nabi di atas menurut kaidah kebahasaan tidak harus berarti `semua' tetapi juga berarti `sebagian'. Kemudian dikutip juga kaidah Imam Syafi'i bahwa bid'ah itu ada dua, adakalanya `bid'ah hasanah', adakalanya `bid'ah dhalalah', bisa jadi baik, juga bisa saja sesat. Kadang gugatan ditanggapi dengan sedikit rumit begini: `Bid'ah' itu kata benda, tentu mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits Nabi di atas yang dalam ilmu balaghah dikatakan, "hadzfus sifat alal maushuf", membuang sifat dari benda yang bersifat". Seandainya dituliskan kata 'bid'ah' maka terjadi dua kemungkinan: yang baik dan yang sesat. Dan seterusnya. Namun kalangan penggugat tidak peduli dengan ilmu tata bahasa Arab yang rumit sebagai prasyarat memahami dalil hadits. "Pokoknya yang bid'ah itu sesat, titik!" Dan itu terus bergulir sampai sekarang. Klaim bid'ah sesat betapa pun tetap menjadi tambahan pekerjaan bagi Nahdliyyin yang tidak mengenakkan, tidak berguna sama sekali. Nah, ada selentingan yang menarik dari para penggiat Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), lembaga kesenian NU di Yogyakarta. Dalam jurnal `Kalimah: Jalinan Kreatif Agama dan Budaya' edisi pertama ini mereka mengangkat istilah `ahlussunnah wal bid'atil hasanah'. Seakan mereka memproklamirkan bahwa `kami ini memang kelompok ahli bid'ah hasanah'. Selama ini klaim warga Nahdliyyin sebagai 'ahlussunnah wal Jamaah' (Aswaja) atau pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya dianggap kurang menggigit; kurang membidik ke sasaran, karena kalangan `pemurnian Islam' juga bisa mengkalim diri sebagai Aswaja. Sama saja ketika kalangan Nahdliyin menyebut diri sebagai pengikut ulama salaf, mereka juga sering menamakan diri sebagai kelompok salafi. Maka proklamirkan saja kita sebagai ahli bid'ah hasanah, sekedar mengakhiri polemik, karena terma 'bid'ah' lah yang selama ini terus menjadi andalan mereka. Lesbumi Yogyakarta sepertinya sedang mengkritik kalangan Nahdliyyin yang sering berlaku defensif dan bersibuk melayani gugatan kalangan 'pemurnian Islam'. Sekali lagi, perdebatan tentang bid'ah itu sama sekali tida berguna. Memang, masih ada semacam ketakutan yang dibawa-bawa dari Tanah Arab sana, dimulai pada permulaan abad-20 saat berkembangnya faham Wahabi. Mereka sangat ketakutan dengan terma 'syirik' atau menyekutukan Allah SWT sehingga apapun bentuk ibadah yang tidak diajarkan, atau segala bentuk laku hidup yang tidak pernah dicontohkan langsung oleh Nabi jangan dilakukan! Makam para sahabat Nabi yang bernilai historis diratakan agar tidak ada yang meminta- minta kepada arwah. Lalu, bermadzab atau mengikuti pendapat ulama dilarang, karena semua hal harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Hadits. Untung saja waktu itu KH Hasyim Asy'ary, KH Wahab Chasbullah dan para kiai yang tergabung dalam 'Komite Hejaz' (yang merupakan cikal bakal organisasi NU) segera mengirimkan surat kawat dan memohon dengan hormat kepada Raja Ibnu Saud agar menghargai perbedaan pandangan di kalangan umat Islam seluruh dunia, dan alhamdulillah dikabulkan. Demikianlah. Namun ketakutan untuk berlaku 'syirik' itu terus menjadi-jadi , apalagi ketika dicampuraduk dengan kepentingan politik. Bahwa semakin banyak pilihan dalam beribadah, semakin banyak pendapat ulama maka semakin sedikit kesempatan penguasa Arab untuk berlaku otoriter. Tidak untungnya ketakutan itu terus menular ke Nusantara. Tidak untungnya lagi, kalangan anti bid'ah ini berpretensi menghapuskan apapun yang kelaku dalam tradisi masyarakat setempat (meskipun secara diam-diam mereka juga sering mengamalkan bid'ah itu). Oleh kalangan ini, Islam secara sadar kemudian selalu diidentikkan dengan segala sesuatu yang berbau Arab. Tidak! Islam tidak bersifat lokal. Islam bukan hanya untuk orang Arab saja. Islam adalah rahmatan lil alamin, untuk umat sedunia. Dengan memproklamirkan terma `ahlus sunnah wal bid'ah hasanah' dalam jurnal Kalimah sepertinya para penggiat Lesbumi Yogyakarta ingin menyelesaikan perdebatan dengan gaya menantang, mengatakan bahwa "kami inilah pelaku bid'ah hasanah." Jurnal Kalimah edisi ini semakin lebih bermanfaat dengan menghadirkan beberapa tulisan penting terkait terma tersebut, tentang keislaman di Nusantara. Tulisan budayawan Agus Sunyoto mengkaji proses pengembangan nilai-nilai keislaman melalui budaya Nusantara. K Muhaimin ingin "Menemukan Ruas Sambung Agama dan Budaya Lokal." M Jadul Maula membincang soal Islam dan tranformasi budaya lokal, sekedar meyakinkan bahwa para ulama Nusantara adalah benar- benar waratsatul anbiya, pewaris para Nabi. Anis Masduki menjelaskan Aswaja Nusantara sebagai model Aswaja yang benar-benar `hidup' di tengah-tengah tradisi dan problematika umat Islam di Nusantara. Para ahli bid'ah hasanah ini juga tidak tanggung-tanggung melakukan riset mengenai produk-produk bid'ah yang telah berkembang di Nusantara seperti hadrah, tradisi rumatan, tradisi alalabang, kenduren, dan konversi pewayangan. Ada juga biografi singkat mengenai sosok seorang ahli bid'ah hasanah di Nusantara, KH Soleh Darat. Di awal perbincangan Lesbumi Yogyakarta mengingatkan kembali kiprah warga Nahdliyin di bidang kesenian. Para ulama telah berkompromi dengan para seniman. Bukan dengan cara memunculkan `seni Islami' yang sangat sederhana dengan dengan mendata dan memamerkan simbol- simbol keislaman seperti sekarang ini, tetapi menjadikan seni sebagai saranan untuk mengembangkan nilai-nilai keislaman. Mungkin saja, saat ini bidang kesenian kurang tergarap oleh kalangan Nahdliyin gara-gara terlalu sibuk menganggapi klaim bi'dah itu. Maka sekarang jangan sungkan-sungkan, katakan, ahlussunnah wal bid'atil hasanah. Kami ini adalah ahli bid'ah yang baik. Ini bukanlah ide, atau ajaran yang perlu dihafal diperdalam lalu dipaktekkan, tapi sebuah sikap dalam menghadapi berbagai persoalan dan gugatan yang tidak penting. Peresensi adalah aktivis NU Online « Kembali ke arsip Buku | Print Edisi 1/Juni/2008 ARTIKEL UTAMA Jalan Tengah Kompromi Ulama-Seniman (Choirotun Chisan) Pengembangan Nilai Kebudayaan Islam Melalui Kebudayaan Nusantara (Agus Sunyoto) Menemukan Ruas Sambung Agama dan Budaya Lokal (KH.Muhaimin) Islam dan Transformasi Budaya Lokal Jadul Maula) Aswaja Indonesia (Anis Masduki) Membayangkan Renasains Sastra Pesantren ARTIKEL LEPAS Ekspresi Musik Hadrah (Hamdy Salad) Kosmopolitan (Ahmad Taufik) RISET REDAKSI Menelusuri Jejak Islam-Mataram Tradisi Ruwatan Ditinjau dari Theologi Islam (Ngatinem) Tradisi Kenduren (Aguk Irawan MN) Revitalisasi Tradisi Alalabang (Mahwi Air Tawar) GALERI Dunia Pewayangan Tradisi Berhijab dalam Lintas Peradaban SASTRA Perjalanan Kamboja Kebaya Hijau Waliyullah (Naguib Mahfouz) TASYWIR Pesantren dan Budaya Lokal TOKOH Shaleh Darat; Ulama Besar Jawa Mas Rangsang (Sultan Agung) RESENSI Kitab Dusta dari Surga Thuq al-Hamamah. Ket: Bagi yang ingin berlangganan atau menulis di edisi selanjutnya, silahkan menghubungi 081727883-Aguk Irawan MN (Pemimpin Redaksi), 08164267441-Nur Wachid (Pemimpin Perusahaan), 0812 2763802- Jadul Maula (Penanggung Jawab). Alamat Redaksi gedung PWNU Yogyakarta; Tompeyan TRIII/133 Yogyakarta 55244 Ahmad Badrudduja Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat -- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M) [Non-text portions of this message have been removed]
