perlukah untuk tidak beragama ? apakah dengan tidak beragama akan menjamin kehidupan yang lebih baik ? adakah pedoman moral, perkemanusiaan atau peri-peri lainnya yang tidak berpegang pada agama,yang menjamin kehidupan lebih baik ? apakah fenomena-fenomena yang terjadi cukup untuk merepresentasikan seluruh perilaku kaum muslimin di indonesia ? apakah fenomena (:kapitalis) yang tejadi di belahan dunia barat juga mencerminkan kegagalan kristen ? apakah fenomena yang terjadi di negara-negara komunis juga mencerminkan kebutaan kaum atheis ? apakah cukup dengan meraba fenomena yang terjadi dapat dicapai suatu kesimpulan yang absolut ? apakah dengan cuma meraba ekor gajah dapat diperoleh suatu kesimpulan yang absolut tentang bentuk, sifat, dan sikap seekor gajah ? ----- Original Message ----- From: martin ali yasin To: [email protected] Sent: Saturday, May 31, 2008 10:05 AM Subject: [kmnu2000] apa perlu agama?
dear all, dari berbagai kejadian dan fenomena yang terjadi di tanah air, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa sebagian besar rakyat indonesia yang mengaku muslim tidak perlu dengan agama atau periperialnya, seperti moral agama, doa, atau kitab suci dsb. agama hanya bisa terlihat dan terwujud dalam mesjid atau tempat tertentu dalam suasana hajatan, tahlilan, maulidan dsb. bagi mereka, agama bukan segalanya dalam hidup, agama tidak menjadi pegangan hidup dan tautan moral serta neraca timbang untuk bertindak dan berbuat sesuatu. jadi sia-sia saja, kalau ada seseorang berbicara agama, sama saja dengan menulurkan sebuah cerita fiktif yang bukan kenyataan. apa yang dianjurkan dalam agama, baik berupa perintah wajib maupu sunnah, hanya sebatas tugas sosial saja, tidak menjadi tuntutan pribadi. kepatuhan terhadap perintah agama dalam menjalankan suatu ibadah wajib dan sunah, maupun larangan menjauhkan diri dari sesuatu perkara haram, hanya merupakan dorongan sosial yang dimotivasi mencari identitas sosial semata. dengan kondisi seperti itu, alih-alih menjadi pilar moral serta perangkat etika, agama sebaliknya menjadi barang banyolan dan guyonan yang seringkali dihantarkan oleh para penceramah di berbagai pengajian. ironinya, masih banyak mahasiswa yang mau menimba ilmu agama serta bercita-cita menjadi guru agama, dai, ustadz maupun ulama. pahadahal, agama itu sendiri sudah diinjak-injak oleh sebagai rakyat indonesia yang mengaku muslim. mereka tidak peduli apa kata agama. mereka hanya peduli dengan uang dan bagaimana caranya memperoleh uang, hidup enak dengan cara cepat dan singkat meskipun dengan cara tidak halal. martin nb: silahkan baca berita di bawah ini. sebuah contoh di mana agama tidak berjalan sama sekali. SIDAK KPK Amplop Suap Bertaburan di Bea dan Cukai Priok Sabtu, 31 Mei 2008 JAKARTA (Suara Karya): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantor pelayanan Bea dan Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok. Sejumlah petugas dan pimpinan KPK berupaya mengungkap praktik suap di kantor itu. Sidak tersebut dilakukan tim gabungan dari KPK dan tim kepatuhan internal Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai pada Jumat (30/5) kemarin. Mereka berhasil menemukan sejumlah amplop besar berisi uang yang diduga sebagai suap untuk petugas Bea dan Cukai Tanjung Priok. Sedikitnya 50 orang anggota tim gabungan menggelar sidak di setiap meja kerja di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok tersebut. Sebagaimana dilaporkan Antara, kelima puluh orang itu terbagi dalam dua tim. Masing-masing tim memeriksa jalur impor bagi importir yang hanya memerlukan pemeriksaan dokumen (jalur hijau) dan jalur impor bagi importir yang memerlukan pemeriksaan dokumen dan fisik barang (jalur merah). Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, M Jasin, yang turut serta dalam sidak itu, mengatakan, tim gabungan berhasil menemukan sejumlah amplop berisi uang di beberapa meja kerja. Uang yang ditemukan diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. "Hasil sementara ada beberapa amplop dari beberapa perusahaan," kata Jasin. Menurut Jasin, dalam beberapa amplop tertera tulisan jenis dokumen, nama perusahaan, dan peruntukan uang, misalnya "uang makan". Jasin memerinci bahwa isi amplop-amplop itu bervariasi. Tim gabungan menemukan sejumlah amplop yang berisi uang Rp 4 juta, Rp 5 juta, dan Rp 14 juta. "Ada juga yang dalam bentuk dolar," kata Jasin. Salah seorang anggota tim yang ikut sidak menyatakan apa yang dilihatnya benar-benar luar biasa. "Amplop berisi uang suap bertaburan di mana-mana," kata petugas yang tak ingin disebutkan jati dirinya itu. Informasi terakhir yang diterima oleh Jasin, sedikitnya ditemukan uang Rp 75 juta di jalur hijau dan Rp 100 juta di jalur merah. Selain menemukan uang di dalam amplop, tim juga menemukan beberapa lembar bukti transfer. Pada sidak tersebut tim juga menyita telepon genggam dan sejumlah dokumen di lantai 4 Gedung Bea Cukai Tanjung Priok, tempat mengurus barang berbahaya. Para staf KPK terlihat sibuk hilir mudik, sementara pegawai Bea Cukai terlihat berkelompok di sudut ruangan. Muka mereka terlihat pucat. Beberapa pegawai terlihat diinterogasi tim. "Sampai saat ini yang di-interview baru 6 orang. Itu dari pejabat pemeriksa dokumen. Karena, tertangkap tangan menerima amplop maupun menyembunyikan dokumen-dokumen," kata Jasin. Menurut Jasin, modus pemberian uang suap tersebut tidak langsung ditujukan kepada pejabat lembaga tersebut, tetapi umumnya melalui pegawai rendahan seperti petugas kebersihan atau satpam. Uang itu dimasukkan ke dalam amplop yang ditulis "uang makan" untuk menyamarkan uang yang ada di dalamnya. Selain uang, di dalam amplop tersebut disertakan juga dokumen yang akan diurus. M Jasin juga mengatakan, dugaan suap di kantor pelayanan utama Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara, dilakukan melalui pihak ketiga. "Modus operandinya tidak langsung diterima," katanya. Dan potensi suap justru terjadi di bagian pelayanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Ditanya tentang peranan sejumlah pejabat struktural Bea dan Cukai dalam dugaan suap itu, Jasin mengatakan, KPK masih berkonsentrasi pada bagian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. "KPK justru menemukan kecenderungan rangkap jabatan oleh pejabat struktural Bea dan Cukai. Rangkap jabatannya yang bermasalah," katanya. Jasin mencontohkan, seorang pejabat eselon satu di Bea dan Cukai masih bisa berprofesi sebagai notaris dan komisaris di sejumlah perusahaan. "Padahal gajinya sudah dinaikkan. Tunjangan khususnya sudah Rp 46 juta. Itu tidak dipotong pajak," kata Jasin. Lebih lanjut, M Jasin mengatakan, sidak di kantor pelayanan utama Bea dan Cukai itu salah satunya untuk memantau upaya reformasi birokrasi di Departemen Keuangan, khususnya di Ditjen Bea dan Cukai. Reformasi birokrasi di Departemen Keuangan menghabiskan dana sekitar Rp 4,3 triliun. Dana itu sudah termasuk pembenahan sistem dan kenaikan gaji pegawai. "Seharusnya kan pegawainya jujur dan lurus, tidak menerima suap lagi," kata Jasin. (Nefan Kristiono) __________________________________________________________ Sent from Yahoo! Mail. A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html [Non-text portions of this message have been removed]
