assalamu 'alaykum wr wb
 
untuk rekan-rekan ku sekalian ,
Tahun-tahun akhir ini kita banyak melihat semaraknya dakwah-dakwah islam 
di kampus.
Berbagai golongan dan aliran terus menyeruak bagai jamur cendawan di 
musim hujan.
 
Adakah kita bertanya dalam hal ini, apakah berkembangnya dakwah ini patut 
kita syukuri atau kita waspadai ?. 
 
pertanyaan lain yang muncul adalah apakah ke Ghirohan rekan-rekan 
mahasiswa itu disebabkan semangat yang menggebu ataukah karena kurangnya 
dakwah lembaga-lembaga yang udah mapan dimasyarakat seperti NU, 
Muhammadiyah, persis dll  kepada mereka ?
 
saya sering miris melihat mahasiswa yang baru beberapa bulan masuk kuliah 
dan ikut kajian , mereka telah banyak berubah. Mereka yang dulunya manis, 
toleran dan mengasyikkan untuk di ajak ngobrol ,   berubah menjadi 
pribadi yang kaku dan sinis.
 
Tidak sampai disitu.   Jika kita browsing mengenai tema agama tertentu 
misalnya mencari referensi mengenai nikah, isbal, jenggot, shirah nabi 
dll.  yang kita temukan adalah begitu banyak situs yang menampilkan 
pendapat dari aliran mereka.   
 
so , jadi bagi yang awam tentang masalah tersebut akan mengambil 
kesimpulan yang sama seperti yang ada dalam situs -situs itu.  Mereka 
mungkin tidak faham bahwa situs-situs yang mereka kunjungi adalah 
situs-situs yang  berasal dari golongan dari aliran yang sama.
 
mereka juga mungkin belum tentu bahwa sang pemilik situs itu adalah 
orang-orang yang mungkin belum mumpuni kadar keilmuannya karena hanya 
mungkin beberapa bulan ikut kajian. Namun karena semangat yang menggebu 
untuk ikut berdakwah maka langkah itu mereka lakukan  walaupun isi situs 
mereka cuman berisi Copy Paste dari Materi kajian yang mereka dapatkan 
dari ustadz mereka.
 
saat ini memang kajian islam yang mengetengahkan "Versi ilmiah" memang 
banyak didominasi mereka. Karena kajian mereka banyak mengetengahkan 
dalil-dalil baik dari Al Qur'an, Sunnah maupun Ijma' sahabat  terhadap 
suatu masalah tertentu. Ini yang menyebabkan mereka begitu teguh memegang 
keyakinan mengenai pendapat mereka terhadap masalah tertentu dalam agama. 
Jika ada yang mendebat mereka tentang sesuatu biasanya mereka akan 
menjawab " Mana dalil yang dapat dijadikan Hujjah tentang itu ?". 
 Jika sudah begini biasanya rekan -rekan yang kurang dalam ilmunya hanya 
akan malu karena tak memiliki dalil untuk hujjah pendapat mereka.
ataupun jika ada dalil yang di sertakan maka mereka akan mengatakan    " 
ah itu dalilnya lemah (dhoif) karena syaikh kami telah mendhoifkan hadist 
tersebut".
 
begitu SEAKAN "ilmiahnya" kajian mereka karena begitu lengkapnya 
dalil-dalil yang disertakan. Itu yang kadang yang membawa mereka kejurang 
kesombongan ilmu yang mereka miliki.
 
padahal sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk saling menghormati 
dan tawadhu' terhadap apa yang ada pada diri kita. Tapi apa yang kita 
lihat dari mereka adalah kebanyak adalah sebaliknya. mereka 
begitusombong, arogan dan seakan-akan kebenaran adalah mutlak milik 
pendapat yang mereka pegang.
 
saudara-saudaraku ketahuilah bahwa ilmu itu luas.  
ketika mereka ( pengikut kajian S****y) mengatakan pendapat ini yang 
paling kuat karena syaikh-syaikh kami sudah mentarjihnya, tidakkah mereka 
berfikir bahwa sebelum ulama-ulama itu hadir sudah ada ulama-ulama dahulu 
yang menggeluti masalah tersebut.
 
sebagai contoh misalnya dalam masalah isbal ( memanjangkan kain sampai 
dibawah mata kaki) ,  jauh sebelum ulama ulama  abad 20 dari golongan 
tertentu dari saudi arabia mengatakan haramnya isbal , ulama -ulama zaman 
dahulu pun sudah membahasnya dan memang dari dulu sudah ada khilaf 
diantara mereka.  
 
Tengok saja apa pendapat Al Hafidz ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang 
masalah itu, apakah sama dengan ulama-ulama s****y abad 20 dari saudi 
itu.  Ternyata pendapat mereka berbeda.  Kita tentu sudah tahu kredibilas 
ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi.dan kita tahu pula bahwa 
Ulama-ulama itu hidup jauh sebelum Ulama S****y abad 20 dari saudi itu 
ada. bahkan mereka hidup sebelum Ibnu taimiyah.
 
Tapi anehnya mereka menolak pendapat yang berbeda dengan mereka dengan 
alasan bahwa syaikh mereka telah mendhoifkan pendapat itu. 
 
Memang hal yang patut di resapi adalah adanya perbedaan pendapat itu tak 
lain karena cara memahami dari ulama-ulama itu juga berbeda. Tapi jika 
perbedaan itu di nihilkan dan hanya berpendapat bahwa pendapat syaikh 
mereka sahaja yang benar lalu apalah dunia ini jadinya ?.
 
Dalam kajian mereka sering di dengungkan kambali ke Al Qur'an dan Sunnah. 
setiap masalah selalu dikembalikan ke Al Qur'an dan sunnah.  Lalu 
pertanyaan yang ada apakah bagi kita yang awam akan dengan menghukumi 
suatu perkara hanya dengan melihat kembali ke Alqur'an dan sunnah ?. 
Kalau begitu apakah setiap kita bisa jadi seorang mujtahid terhahap 
masalah tertentu ?.  Lalu apa bedanya dengan Cara HERMENEUTIKA orang 
orang JIL. 
Banyak ulama berpendapat bahwa kita masih membutuhkan para Fuqoha 
sekaliber para Imam Mazhab untuk mementukan hukum suatu masalah. Bahkan 
sekalipun ia AHLI HADIST masih membutuhkan para fuqoha.  Dalam penentuan 
hukum kita tidak hanya berpegang pada hadist saja tapi ada kaidah-kaidah 
yang harus ditempuh dan itu dinamakan USHUL FIQH.   
Jadi kata ulama     " Ahli FIQIH adalah dokternya , sedang para Ahli 
hadist adalah apotekernya".  Cuma dokter yang mengerti obat apa dan 
kadarnya seberapa yang bisa di berikan untuk pasien. sedang Apoteker 
(ahli hadist) bertindak menyediakan (dalil) sesuai yang diberikan si 
Dokter.
Lalu apa jadinya jika seorang ahli hadist bertindak melebihi 
kemampuannya. sama seperti seorang apoteker yang melangkahi tugas dokter 
dalam menangani pasiennya?.
 
itu yang terjadi sekarang ini. begitu banyak rekan-rekan kita tertarik 
terhadap kajian itu lantaran kajian itu mengetengahkan dalil-dalil yang 
telah di seleksi oleh syeikh yang sekarang dikenal sebagai ahli hadist 
zaman sekarang.
 
mereka menelan mentah-mentah apa yang diketengahkan syeikh   Al-Alb**y 
itu. mereka buta bahwa ada kaidah yang harus di penuhi untuk bisa 
menentukan hukum dari suatu masalah. Dan mungkin agak miris adalah mereka 
juga mungkin belum tahu latar belakang dari Syaikh-syaikh yang mereka 
elu-elukan itu. 
 
mereka juga sering menyandarkan bahwa pendapat mereka adalah Ijma' para 
ulama. Kalau kita sedikit mengerti apa arti Ijma' kita mungkin agak 
tersenyum benarkah itu adalah ijma'. apa Pendapat yang mereka katakan 
IJMA" itu hanya kesepakatan dari ulama-ulama yang se ideologi dengan 
mereka saja.  Ijma' adalah kesepakatan para ulama-ulama mengenai masalah 
tertentu yang nyatanya adalah ternyata banyak khilaf diantara mereka. 
lalu bagaimana mereka bisa katakan Ijma'?
 

 Karena aku sendiri prihatin disebabkan karena sedikitnya kajian-kajian 
yang ilmiah serta situs-situs kajian yang berani memberikan pendapat yang 
berbeda dari apa yang mereka para S****y berikan. 
 
padahal ada situs-situs walaupun jumlahnya sedikit yang memberikan alasan 
(dalil-dalil) yang berbeda dari apa yang para S****y jadikan pegangan 
itu.
 
semoga ini bermanfaat dan memberikan angin segar bagi kita yang terus 
mencari kebenaran
 
wa Allahu a'lam bi al showab
wassalamu alaykum
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke