Syekh Muhammad al-Ghazali, pemikir Ikhwanul Muslimin dari Mesir yang sangat produktif menulis buku itu, pernah menyindir orang-orang seperti Nasiruddin al-Albani atau Abdullah ibn Baz, dua tokoh penting gerakan salafi-wahabi yang sekarang merajalela kembali di Indonesia.
Kata Sykeh al-Ghazali, kalian para ahli hadis adalah sama dengan seorang apoteker. Kalian memang tahu jenis-jenis obat, tetapi yang tahu obat apa yang tepat untuk penyakit tertentu adalah para dokter. Dokter dalam hal ini adalah ahli fikih. Kalau seorang ahli hadis mengetahui dengan baik mana hadis-hadis yang sahih dan mana yang dai'f, maka itu belum cukup untuk memahami pesan agama. Mereka hanya tahu racikan obat. Yang tahu bagaimana memahami dan menerapkan hadis itu adalah ahli fikih yang kedudukannya adalah sama dengan dokter. Kaum salafi hanya dengan modal hadis-hadis sahih lalu degan seenaknya saja membuat kesimpulan A, B, C dan seterusnya. Padahal untuk memahami dalil agama membutuhkan ilmu yang lebih luas, bukan hanya ilmu sanad yang menjadi kebanggaan ahli hadis itu. Kalau ini diperluas, maka kita bisa mengatakan pula bahwa untuk memahami pesan agama dan menerapkannya dengan tepat, kita membutuhkan piranti ilmu yang kompleks, bukan hanya ilmu fikih saja. Dilihat secara lebih luas lagi, kedudukan ahli fikih juga sama dengan kedudukan seorang apoteker yang hanya tahu hal-hal yang terbatas. Untuk mendiagnosis masalah-masalah sosial, dibutuhkan ahli-ahli yang menguasai ilmu-ilmu lebih luas lagi di mana kedudukan mereka sama dengan seorang dokter. AHMAD --- On Thu, 7/3/08, tsulusun ar royan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: tsulusun ar royan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [kmnu2000] Gelombang monopoli kajian islam To: [email protected] Date: Thursday, July 3, 2008, 11:34 AM adakah yang tahu sejarah syekh al albany soalnya bukunya banyak sekali beredar di mana2 On 7/3/08, kibonang <dielektrik_80@ yahoo.com> wrote: > assalamu 'alaykum wr wb > > untuk rekan-rekan ku sekalian , > Tahun-tahun akhir ini kita banyak melihat semaraknya dakwah-dakwah islam > di kampus. > Berbagai golongan dan aliran terus menyeruak bagai jamur cendawan di > musim hujan. > > Adakah kita bertanya dalam hal ini, apakah berkembangnya dakwah ini patut > kita syukuri atau kita waspadai ?. > > pertanyaan lain yang muncul adalah apakah ke Ghirohan rekan-rekan > mahasiswa itu disebabkan semangat yang menggebu ataukah karena kurangnya > dakwah lembaga-lembaga yang udah mapan dimasyarakat seperti NU, > Muhammadiyah, persis dll kepada mereka ? > > saya sering miris melihat mahasiswa yang baru beberapa bulan masuk kuliah > dan ikut kajian , mereka telah banyak berubah. Mereka yang dulunya manis, > toleran dan mengasyikkan untuk di ajak ngobrol , berubah menjadi > pribadi yang kaku dan sinis. > > Tidak sampai disitu. Jika kita browsing mengenai tema agama tertentu > misalnya mencari referensi mengenai nikah, isbal, jenggot, shirah nabi > dll. yang kita temukan adalah begitu banyak situs yang menampilkan > pendapat dari aliran mereka. > > so , jadi bagi yang awam tentang masalah tersebut akan mengambil > kesimpulan yang sama seperti yang ada dalam situs -situs itu. Mereka > mungkin tidak faham bahwa situs-situs yang mereka kunjungi adalah > situs-situs yang berasal dari golongan dari aliran yang sama. > > mereka juga mungkin belum tentu bahwa sang pemilik situs itu adalah > orang-orang yang mungkin belum mumpuni kadar keilmuannya karena hanya > mungkin beberapa bulan ikut kajian. Namun karena semangat yang menggebu > untuk ikut berdakwah maka langkah itu mereka lakukan walaupun isi situs > mereka cuman berisi Copy Paste dari Materi kajian yang mereka dapatkan > dari ustadz mereka. > > saat ini memang kajian islam yang mengetengahkan "Versi ilmiah" memang > banyak didominasi mereka. Karena kajian mereka banyak mengetengahkan > dalil-dalil baik dari Al Qur'an, Sunnah maupun Ijma' sahabat terhadap > suatu masalah tertentu. Ini yang menyebabkan mereka begitu teguh memegang > keyakinan mengenai pendapat mereka terhadap masalah tertentu dalam agama. > Jika ada yang mendebat mereka tentang sesuatu biasanya mereka akan > menjawab " Mana dalil yang dapat dijadikan Hujjah tentang itu ?". > Jika sudah begini biasanya rekan -rekan yang kurang dalam ilmunya hanya > akan malu karena tak memiliki dalil untuk hujjah pendapat mereka. > ataupun jika ada dalil yang di sertakan maka mereka akan mengatakan " > ah itu dalilnya lemah (dhoif) karena syaikh kami telah mendhoifkan hadist > tersebut". > > begitu SEAKAN "ilmiahnya" kajian mereka karena begitu lengkapnya > dalil-dalil yang disertakan. Itu yang kadang yang membawa mereka kejurang > kesombongan ilmu yang mereka miliki. > > padahal sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk saling menghormati > dan tawadhu' terhadap apa yang ada pada diri kita. Tapi apa yang kita > lihat dari mereka adalah kebanyak adalah sebaliknya. mereka > begitusombong, arogan dan seakan-akan kebenaran adalah mutlak milik > pendapat yang mereka pegang. > > saudara-saudaraku ketahuilah bahwa ilmu itu luas. > ketika mereka ( pengikut kajian S****y) mengatakan pendapat ini yang > paling kuat karena syaikh-syaikh kami sudah mentarjihnya, tidakkah mereka > berfikir bahwa sebelum ulama-ulama itu hadir sudah ada ulama-ulama dahulu > yang menggeluti masalah tersebut. > > sebagai contoh misalnya dalam masalah isbal ( memanjangkan kain sampai > dibawah mata kaki) , jauh sebelum ulama ulama abad 20 dari golongan > tertentu dari saudi arabia mengatakan haramnya isbal , ulama -ulama zaman > dahulu pun sudah membahasnya dan memang dari dulu sudah ada khilaf > diantara mereka. > > Tengok saja apa pendapat Al Hafidz ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang > masalah itu, apakah sama dengan ulama-ulama s****y abad 20 dari saudi > itu. Ternyata pendapat mereka berbeda. Kita tentu sudah tahu kredibilas > ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi.dan kita tahu pula bahwa > Ulama-ulama itu hidup jauh sebelum Ulama S****y abad 20 dari saudi itu > ada. bahkan mereka hidup sebelum Ibnu taimiyah. > > Tapi anehnya mereka menolak pendapat yang berbeda dengan mereka dengan > alasan bahwa syaikh mereka telah mendhoifkan pendapat itu. > > Memang hal yang patut di resapi adalah adanya perbedaan pendapat itu tak > lain karena cara memahami dari ulama-ulama itu juga berbeda. Tapi jika > perbedaan itu di nihilkan dan hanya berpendapat bahwa pendapat syaikh > mereka sahaja yang benar lalu apalah dunia ini jadinya ?. > > Dalam kajian mereka sering di dengungkan kambali ke Al Qur'an dan Sunnah. > setiap masalah selalu dikembalikan ke Al Qur'an dan sunnah. Lalu > pertanyaan yang ada apakah bagi kita yang awam akan dengan menghukumi > suatu perkara hanya dengan melihat kembali ke Alqur'an dan sunnah ?. > Kalau begitu apakah setiap kita bisa jadi seorang mujtahid terhahap > masalah tertentu ?. Lalu apa bedanya dengan Cara HERMENEUTIKA orang > orang JIL. > Banyak ulama berpendapat bahwa kita masih membutuhkan para Fuqoha > sekaliber para Imam Mazhab untuk mementukan hukum suatu masalah. Bahkan > sekalipun ia AHLI HADIST masih membutuhkan para fuqoha. Dalam penentuan > hukum kita tidak hanya berpegang pada hadist saja tapi ada kaidah-kaidah > yang harus ditempuh dan itu dinamakan USHUL FIQH. > Jadi kata ulama " Ahli FIQIH adalah dokternya , sedang para Ahli > hadist adalah apotekernya" . Cuma dokter yang mengerti obat apa dan > kadarnya seberapa yang bisa di berikan untuk pasien. sedang Apoteker > (ahli hadist) bertindak menyediakan (dalil) sesuai yang diberikan si > Dokter. > Lalu apa jadinya jika seorang ahli hadist bertindak melebihi > kemampuannya. sama seperti seorang apoteker yang melangkahi tugas dokter > dalam menangani pasiennya?. > > itu yang terjadi sekarang ini. begitu banyak rekan-rekan kita tertarik > terhadap kajian itu lantaran kajian itu mengetengahkan dalil-dalil yang > telah di seleksi oleh syeikh yang sekarang dikenal sebagai ahli hadist > zaman sekarang. > > mereka menelan mentah-mentah apa yang diketengahkan syeikh Al-Alb**y > itu. mereka buta bahwa ada kaidah yang harus di penuhi untuk bisa > menentukan hukum dari suatu masalah. Dan mungkin agak miris adalah mereka > juga mungkin belum tahu latar belakang dari Syaikh-syaikh yang mereka > elu-elukan itu. > > mereka juga sering menyandarkan bahwa pendapat mereka adalah Ijma' para > ulama. Kalau kita sedikit mengerti apa arti Ijma' kita mungkin agak > tersenyum benarkah itu adalah ijma'. apa Pendapat yang mereka katakan > IJMA" itu hanya kesepakatan dari ulama-ulama yang se ideologi dengan > mereka saja. Ijma' adalah kesepakatan para ulama-ulama mengenai masalah > tertentu yang nyatanya adalah ternyata banyak khilaf diantara mereka. > lalu bagaimana mereka bisa katakan Ijma'? > > > Karena aku sendiri prihatin disebabkan karena sedikitnya kajian-kajian > yang ilmiah serta situs-situs kajian yang berani memberikan pendapat yang > berbeda dari apa yang mereka para S****y berikan. > > padahal ada situs-situs walaupun jumlahnya sedikit yang memberikan alasan > (dalil-dalil) yang berbeda dari apa yang para S****y jadikan pegangan > itu. > > semoga ini bermanfaat dan memberikan angin segar bagi kita yang terus > mencari kebenaran > > wa Allahu a'lam bi al showab > wassalamu alaykum > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > -- "Sungguh, Penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" Tsulusun Ar Royan [Non-text portions of this message have been removed]
