adakah yang tahu sejarah syekh al albany
soalnya bukunya banyak sekali beredar di mana2

On 7/3/08, kibonang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> assalamu 'alaykum wr wb
>
> untuk rekan-rekan ku sekalian ,
> Tahun-tahun akhir ini kita banyak melihat semaraknya dakwah-dakwah islam
> di kampus.
> Berbagai golongan dan aliran terus menyeruak bagai jamur cendawan di
> musim hujan.
>
> Adakah kita bertanya dalam hal ini, apakah berkembangnya dakwah ini patut
> kita syukuri atau kita waspadai ?.
>
> pertanyaan lain yang muncul adalah apakah ke Ghirohan rekan-rekan
> mahasiswa itu disebabkan semangat yang menggebu ataukah karena kurangnya
> dakwah lembaga-lembaga yang udah mapan dimasyarakat seperti NU,
> Muhammadiyah, persis dll  kepada mereka ?
>
> saya sering miris melihat mahasiswa yang baru beberapa bulan masuk kuliah
> dan ikut kajian , mereka telah banyak berubah. Mereka yang dulunya manis,
> toleran dan mengasyikkan untuk di ajak ngobrol ,   berubah menjadi
> pribadi yang kaku dan sinis.
>
> Tidak sampai disitu.   Jika kita browsing mengenai tema agama tertentu
> misalnya mencari referensi mengenai nikah, isbal, jenggot, shirah nabi
> dll.  yang kita temukan adalah begitu banyak situs yang menampilkan
> pendapat dari aliran mereka.
>
> so , jadi bagi yang awam tentang masalah tersebut akan mengambil
> kesimpulan yang sama seperti yang ada dalam situs -situs itu.  Mereka
> mungkin tidak faham bahwa situs-situs yang mereka kunjungi adalah
> situs-situs yang  berasal dari golongan dari aliran yang sama.
>
> mereka juga mungkin belum tentu bahwa sang pemilik situs itu adalah
> orang-orang yang mungkin belum mumpuni kadar keilmuannya karena hanya
> mungkin beberapa bulan ikut kajian. Namun karena semangat yang menggebu
> untuk ikut berdakwah maka langkah itu mereka lakukan  walaupun isi situs
> mereka cuman berisi Copy Paste dari Materi kajian yang mereka dapatkan
> dari ustadz mereka.
>
> saat ini memang kajian islam yang mengetengahkan "Versi ilmiah" memang
> banyak didominasi mereka. Karena kajian mereka banyak mengetengahkan
> dalil-dalil baik dari Al Qur'an, Sunnah maupun Ijma' sahabat  terhadap
> suatu masalah tertentu. Ini yang menyebabkan mereka begitu teguh memegang
> keyakinan mengenai pendapat mereka terhadap masalah tertentu dalam agama.
> Jika ada yang mendebat mereka tentang sesuatu biasanya mereka akan
> menjawab " Mana dalil yang dapat dijadikan Hujjah tentang itu ?".
>  Jika sudah begini biasanya rekan -rekan yang kurang dalam ilmunya hanya
> akan malu karena tak memiliki dalil untuk hujjah pendapat mereka.
> ataupun jika ada dalil yang di sertakan maka mereka akan mengatakan    "
> ah itu dalilnya lemah (dhoif) karena syaikh kami telah mendhoifkan hadist
> tersebut".
>
> begitu SEAKAN "ilmiahnya" kajian mereka karena begitu lengkapnya
> dalil-dalil yang disertakan. Itu yang kadang yang membawa mereka kejurang
> kesombongan ilmu yang mereka miliki.
>
> padahal sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk saling menghormati
> dan tawadhu' terhadap apa yang ada pada diri kita. Tapi apa yang kita
> lihat dari mereka adalah kebanyak adalah sebaliknya. mereka
> begitusombong, arogan dan seakan-akan kebenaran adalah mutlak milik
> pendapat yang mereka pegang.
>
> saudara-saudaraku ketahuilah bahwa ilmu itu luas.
> ketika mereka ( pengikut kajian S****y) mengatakan pendapat ini yang
> paling kuat karena syaikh-syaikh kami sudah mentarjihnya, tidakkah mereka
> berfikir bahwa sebelum ulama-ulama itu hadir sudah ada ulama-ulama dahulu
> yang menggeluti masalah tersebut.
>
> sebagai contoh misalnya dalam masalah isbal ( memanjangkan kain sampai
> dibawah mata kaki) ,  jauh sebelum ulama ulama  abad 20 dari golongan
> tertentu dari saudi arabia mengatakan haramnya isbal , ulama -ulama zaman
> dahulu pun sudah membahasnya dan memang dari dulu sudah ada khilaf
> diantara mereka.
>
> Tengok saja apa pendapat Al Hafidz ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang
> masalah itu, apakah sama dengan ulama-ulama s****y abad 20 dari saudi
> itu.  Ternyata pendapat mereka berbeda.  Kita tentu sudah tahu kredibilas
> ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi.dan kita tahu pula bahwa
> Ulama-ulama itu hidup jauh sebelum Ulama S****y abad 20 dari saudi itu
> ada. bahkan mereka hidup sebelum Ibnu taimiyah.
>
> Tapi anehnya mereka menolak pendapat yang berbeda dengan mereka dengan
> alasan bahwa syaikh mereka telah mendhoifkan pendapat itu.
>
> Memang hal yang patut di resapi adalah adanya perbedaan pendapat itu tak
> lain karena cara memahami dari ulama-ulama itu juga berbeda. Tapi jika
> perbedaan itu di nihilkan dan hanya berpendapat bahwa pendapat syaikh
> mereka sahaja yang benar lalu apalah dunia ini jadinya ?.
>
> Dalam kajian mereka sering di dengungkan kambali ke Al Qur'an dan Sunnah.
> setiap masalah selalu dikembalikan ke Al Qur'an dan sunnah.  Lalu
> pertanyaan yang ada apakah bagi kita yang awam akan dengan menghukumi
> suatu perkara hanya dengan melihat kembali ke Alqur'an dan sunnah ?.
> Kalau begitu apakah setiap kita bisa jadi seorang mujtahid terhahap
> masalah tertentu ?.  Lalu apa bedanya dengan Cara HERMENEUTIKA orang
> orang JIL.
> Banyak ulama berpendapat bahwa kita masih membutuhkan para Fuqoha
> sekaliber para Imam Mazhab untuk mementukan hukum suatu masalah. Bahkan
> sekalipun ia AHLI HADIST masih membutuhkan para fuqoha.  Dalam penentuan
> hukum kita tidak hanya berpegang pada hadist saja tapi ada kaidah-kaidah
> yang harus ditempuh dan itu dinamakan USHUL FIQH.
> Jadi kata ulama     " Ahli FIQIH adalah dokternya , sedang para Ahli
> hadist adalah apotekernya".  Cuma dokter yang mengerti obat apa dan
> kadarnya seberapa yang bisa di berikan untuk pasien. sedang Apoteker
> (ahli hadist) bertindak menyediakan (dalil) sesuai yang diberikan si
> Dokter.
> Lalu apa jadinya jika seorang ahli hadist bertindak melebihi
> kemampuannya. sama seperti seorang apoteker yang melangkahi tugas dokter
> dalam menangani pasiennya?.
>
> itu yang terjadi sekarang ini. begitu banyak rekan-rekan kita tertarik
> terhadap kajian itu lantaran kajian itu mengetengahkan dalil-dalil yang
> telah di seleksi oleh syeikh yang sekarang dikenal sebagai ahli hadist
> zaman sekarang.
>
> mereka menelan mentah-mentah apa yang diketengahkan syeikh   Al-Alb**y
> itu. mereka buta bahwa ada kaidah yang harus di penuhi untuk bisa
> menentukan hukum dari suatu masalah. Dan mungkin agak miris adalah mereka
> juga mungkin belum tahu latar belakang dari Syaikh-syaikh yang mereka
> elu-elukan itu.
>
> mereka juga sering menyandarkan bahwa pendapat mereka adalah Ijma' para
> ulama. Kalau kita sedikit mengerti apa arti Ijma' kita mungkin agak
> tersenyum benarkah itu adalah ijma'. apa Pendapat yang mereka katakan
> IJMA" itu hanya kesepakatan dari ulama-ulama yang se ideologi dengan
> mereka saja.  Ijma' adalah kesepakatan para ulama-ulama mengenai masalah
> tertentu yang nyatanya adalah ternyata banyak khilaf diantara mereka.
> lalu bagaimana mereka bisa katakan Ijma'?
>
>
>  Karena aku sendiri prihatin disebabkan karena sedikitnya kajian-kajian
> yang ilmiah serta situs-situs kajian yang berani memberikan pendapat yang
> berbeda dari apa yang mereka para S****y berikan.
>
> padahal ada situs-situs walaupun jumlahnya sedikit yang memberikan alasan
> (dalil-dalil) yang berbeda dari apa yang para S****y jadikan pegangan
> itu.
>
> semoga ini bermanfaat dan memberikan angin segar bagi kita yang terus
> mencari kebenaran
>
> wa Allahu a'lam bi al showab
> wassalamu alaykum
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>


-- 
"Sungguh, Penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada
penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"
Tsulusun Ar Royan

Kirim email ke