Sdr. Kibonang,
Menurut saya, baik kalangan yang mazhab-oriented seperti NU atau
kalangan Salafi yang anti-mazhab, mengandung kelemahan masing-masing
yang serius. Islam ala NU sangat tidak menarik bagi kalangan anak-anak
muda di perkotaan. Itulah yang menjelaskan kenapa generasi muda saat
ini yang ingin kembali menghayati Islam lebih banyak tertarik pada
ide-ide seperti ditawarkan oleh kalangan Islam radikal atau salafi. 

Kiai-kiai NU sendiri tak pernah tahu konteks tantangan masyarakat
perkotaan dengan baik. Atau kalau mereka tahu dan memahami tantangan
itu, mereka tak memiliki kemampuan untuk menerjemahkan paham keislaman
ala NU dalam konteks yang sudah berubah itu. 

Mereka sibuk dengan kitab kuning yang sama sekali tak
dikontekstualisasikan dengan perkembangan baru. Kalau ada anak-anak
muda NU yang mau melakukan kontekstualisasi, mereka dimusuhi oleh
sebagian kiai-kiai sepuh, dianggap liberal-lah, dan sebagainya. 

Sementara itu, gaya Islam baru yang diperagakan oleh anak-anak muda
saat ini memang sangat mengkhawatirkan. Mereka cenderung tertutup,
mudah menyalahkan kelompok lain yang berbeda, dan terkesan merasa
benar sendiri, merasa paling mengikuti sunnah Nabi. 

Sikap yang paling tepat saat ini adalah tetap menghormati warisan
mazhab dan pemikiran kalam yang ada dalam khazanah klasik Islam,
tetapi dengan tetap menyadari bahwa warisan itu dalam banyak hal sudah
tak relevan dengan perkembangan zaman sehingga harus
dikontekstualisasikan. 

Dengan kata lain, bermazhab secara terbuka. Sudah banyak anak-anak
muda NU yang berpikiran seperti ini. Teman-teman muda NU yang belajar
di Kairo, Mesir, banyak yang sudah menyadari kekurangan tradisi mazhab
seperti ada dalam NU. Tetapi mereka ini tidak bisa bersuara banyak,
karena iklim pemikiran di PBNU sekarang ini sedang dikuasai oleh
kalangan konservatif. 

Kalangan anak-anak muda NU yang dulunya aktivis dan sekarang bercokol
di PBNU sama sekali tak berdaya menghadapi arus konservatif ini, malah
terkesan menjadi corong-pasif dari Kiai Hasyim Muzadi yang akhir-akhir
ini kelihatan sekali miring ke kanan.

Masih ada tokoh-tokoh seperti Bapak Masdar F. Masudi. Tetapi kita tahu
semua, tokoh yang dapat kita sebut sebagai pemikir penting NU ini
sekarang sama sekali tak mendapat peran yang memadai dalam PBNU. Dia
juga kurang disukai oleh kiai-kiai sepuh yang sekarang rapi
baris-berbaris di belakang Kiai Hasyim. 

Para elit PBNU sendiri tak pernah memperhitungkan dengan serius
kehadiran anak-anak muda NU yang potensial yang bergerak di sektor
masyarakat sipil, seperti mereka yang berkumpul di The Wahid
Institute, P3M, LKiS, Lakpesdam, dll. 

Ada potensi yang menjanjikan dalam tubuh NU untuk meremajakan visi
ke-NU-an, tetapi potensi ini terbuang sia-sia karena dianggap kritis
oleh kalangan sepuh.

Sekarang ini, NU bergerak ke arah yang sangat menyedihkan. Di satu
pihak kita berhadapan dengan kiai-kiai yang mempunyai syahwat politik
tinggi, di pihak lain visi keagamaan mereka sangat konservatif.

Dengan kata lain, yang kita lihat di NU saat ini adalah dua
kecenderungan, yaitu pragmatisme politik dan koservatisme agama.
Kombinasi yang sungguh memilukan! Suara-suara kritis disingkirkan,
dianggap pengikut Gus Dur yang liberal.

Puncak tragedi NU ini adalah saat peristiwa Monas kemaren. Banyak
aktivis NU yang menjadi korban kekerasan FPI, tetapi Ketua Umum PBNU
sama sekali tak menunjukkan simpati pada anggota NU yang menjadi
korban itu. Simpati Ketua Umum justru terarah lurus kepada FPI. Bahkan
dalam sebuah acara pengkaderan da'i-da'i NU, saya dengar Ketua Umum
mengatakan bahwa anak-anak muda FPI adalah anak-anak NU. 

Tampaknya Ketua Umum tidak memberikan simpati pada anak-anak muda NU
yang menjadi korban itu karena alasan yang sederhana, mereka ini
adalah orang-orang kritis yang mengikuti pemikiran Gus Dur. 

Sungguh mengenaskan perkembangan ini!

Jika perkembangan ini berjalan dengan lancar tanpa aral apapun, bukan
mustahil pada suatu titik tertentu, kita susah membedakan antara NU
dan PKS, misalnya, atau antara NU dan FPI. 

AHMAD 








--- In [email protected], kibonang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> assalamu 'alaykum wr wb
>  
> untuk rekan-rekan ku sekalian ,
> Tahun-tahun akhir ini kita banyak melihat semaraknya dakwah-dakwah
islam 
> di kampus.
> Berbagai golongan dan aliran terus menyeruak bagai jamur cendawan di 
> musim hujan.
>  
> Adakah kita bertanya dalam hal ini, apakah berkembangnya dakwah ini
patut 
> kita syukuri atau kita waspadai ?. 
>  
> pertanyaan lain yang muncul adalah apakah ke Ghirohan rekan-rekan 
> mahasiswa itu disebabkan semangat yang menggebu ataukah karena
kurangnya 
> dakwah lembaga-lembaga yang udah mapan dimasyarakat seperti NU, 
> Muhammadiyah, persis dll  kepada mereka ?
>  
> saya sering miris melihat mahasiswa yang baru beberapa bulan masuk
kuliah 
> dan ikut kajian , mereka telah banyak berubah. Mereka yang dulunya
manis, 
> toleran dan mengasyikkan untuk di ajak ngobrol ,   berubah menjadi 
> pribadi yang kaku dan sinis.
>  
> Tidak sampai disitu.   Jika kita browsing mengenai tema agama tertentu 
> misalnya mencari referensi mengenai nikah, isbal, jenggot, shirah nabi 
> dll.  yang kita temukan adalah begitu banyak situs yang menampilkan 
> pendapat dari aliran mereka.   
>  
> so , jadi bagi yang awam tentang masalah tersebut akan mengambil 
> kesimpulan yang sama seperti yang ada dalam situs -situs itu.  Mereka 
> mungkin tidak faham bahwa situs-situs yang mereka kunjungi adalah 
> situs-situs yang  berasal dari golongan dari aliran yang sama.
>  
> mereka juga mungkin belum tentu bahwa sang pemilik situs itu adalah 
> orang-orang yang mungkin belum mumpuni kadar keilmuannya karena hanya 
> mungkin beberapa bulan ikut kajian. Namun karena semangat yang menggebu 
> untuk ikut berdakwah maka langkah itu mereka lakukan  walaupun isi
situs 
> mereka cuman berisi Copy Paste dari Materi kajian yang mereka dapatkan 
> dari ustadz mereka.
>  
> saat ini memang kajian islam yang mengetengahkan "Versi ilmiah" memang 
> banyak didominasi mereka. Karena kajian mereka banyak mengetengahkan 
> dalil-dalil baik dari Al Qur'an, Sunnah maupun Ijma' sahabat  terhadap 
> suatu masalah tertentu. Ini yang menyebabkan mereka begitu teguh
memegang 
> keyakinan mengenai pendapat mereka terhadap masalah tertentu dalam
agama. 
> Jika ada yang mendebat mereka tentang sesuatu biasanya mereka akan 
> menjawab " Mana dalil yang dapat dijadikan Hujjah tentang itu ?". 
>  Jika sudah begini biasanya rekan -rekan yang kurang dalam ilmunya
hanya 
> akan malu karena tak memiliki dalil untuk hujjah pendapat mereka.
> ataupun jika ada dalil yang di sertakan maka mereka akan
mengatakan    " 
> ah itu dalilnya lemah (dhoif) karena syaikh kami telah mendhoifkan
hadist 
> tersebut".
>  
> begitu SEAKAN "ilmiahnya" kajian mereka karena begitu lengkapnya 
> dalil-dalil yang disertakan. Itu yang kadang yang membawa mereka
kejurang 
> kesombongan ilmu yang mereka miliki.
>  
> padahal sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk saling menghormati 
> dan tawadhu' terhadap apa yang ada pada diri kita. Tapi apa yang kita 
> lihat dari mereka adalah kebanyak adalah sebaliknya. mereka 
> begitusombong, arogan dan seakan-akan kebenaran adalah mutlak milik 
> pendapat yang mereka pegang.
>  
> saudara-saudaraku ketahuilah bahwa ilmu itu luas.  
> ketika mereka ( pengikut kajian S****y) mengatakan pendapat ini yang 
> paling kuat karena syaikh-syaikh kami sudah mentarjihnya, tidakkah
mereka 
> berfikir bahwa sebelum ulama-ulama itu hadir sudah ada ulama-ulama
dahulu 
> yang menggeluti masalah tersebut.
>  
> sebagai contoh misalnya dalam masalah isbal ( memanjangkan kain sampai 
> dibawah mata kaki) ,  jauh sebelum ulama ulama  abad 20 dari golongan 
> tertentu dari saudi arabia mengatakan haramnya isbal , ulama -ulama
zaman 
> dahulu pun sudah membahasnya dan memang dari dulu sudah ada khilaf 
> diantara mereka.  
>  
> Tengok saja apa pendapat Al Hafidz ibnu Hajar dan Imam Nawawi tentang 
> masalah itu, apakah sama dengan ulama-ulama s****y abad 20 dari saudi 
> itu.  Ternyata pendapat mereka berbeda.  Kita tentu sudah tahu
kredibilas 
> ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dan An Nawawi.dan kita tahu pula bahwa 
> Ulama-ulama itu hidup jauh sebelum Ulama S****y abad 20 dari saudi itu 
> ada. bahkan mereka hidup sebelum Ibnu taimiyah.
>  
> Tapi anehnya mereka menolak pendapat yang berbeda dengan mereka dengan 
> alasan bahwa syaikh mereka telah mendhoifkan pendapat itu. 
>  
> Memang hal yang patut di resapi adalah adanya perbedaan pendapat itu
tak 
> lain karena cara memahami dari ulama-ulama itu juga berbeda. Tapi jika 
> perbedaan itu di nihilkan dan hanya berpendapat bahwa pendapat syaikh 
> mereka sahaja yang benar lalu apalah dunia ini jadinya ?.
>  
> Dalam kajian mereka sering di dengungkan kambali ke Al Qur'an dan
Sunnah. 
> setiap masalah selalu dikembalikan ke Al Qur'an dan sunnah.  Lalu 
> pertanyaan yang ada apakah bagi kita yang awam akan dengan menghukumi 
> suatu perkara hanya dengan melihat kembali ke Alqur'an dan sunnah ?. 
> Kalau begitu apakah setiap kita bisa jadi seorang mujtahid terhahap 
> masalah tertentu ?.  Lalu apa bedanya dengan Cara HERMENEUTIKA orang 
> orang JIL. 
> Banyak ulama berpendapat bahwa kita masih membutuhkan para Fuqoha 
> sekaliber para Imam Mazhab untuk mementukan hukum suatu masalah. Bahkan 
> sekalipun ia AHLI HADIST masih membutuhkan para fuqoha.  Dalam
penentuan 
> hukum kita tidak hanya berpegang pada hadist saja tapi ada
kaidah-kaidah 
> yang harus ditempuh dan itu dinamakan USHUL FIQH.   
> Jadi kata ulama     " Ahli FIQIH adalah dokternya , sedang para Ahli 
> hadist adalah apotekernya".  Cuma dokter yang mengerti obat apa dan 
> kadarnya seberapa yang bisa di berikan untuk pasien. sedang Apoteker 
> (ahli hadist) bertindak menyediakan (dalil) sesuai yang diberikan si 
> Dokter.
> Lalu apa jadinya jika seorang ahli hadist bertindak melebihi 
> kemampuannya. sama seperti seorang apoteker yang melangkahi tugas
dokter 
> dalam menangani pasiennya?.
>  
> itu yang terjadi sekarang ini. begitu banyak rekan-rekan kita tertarik 
> terhadap kajian itu lantaran kajian itu mengetengahkan dalil-dalil yang 
> telah di seleksi oleh syeikh yang sekarang dikenal sebagai ahli hadist 
> zaman sekarang.
>  
> mereka menelan mentah-mentah apa yang diketengahkan syeikh   Al-Alb**y 
> itu. mereka buta bahwa ada kaidah yang harus di penuhi untuk bisa 
> menentukan hukum dari suatu masalah. Dan mungkin agak miris adalah
mereka 
> juga mungkin belum tahu latar belakang dari Syaikh-syaikh yang mereka 
> elu-elukan itu. 
>  
> mereka juga sering menyandarkan bahwa pendapat mereka adalah Ijma' para 
> ulama. Kalau kita sedikit mengerti apa arti Ijma' kita mungkin agak 
> tersenyum benarkah itu adalah ijma'. apa Pendapat yang mereka katakan 
> IJMA" itu hanya kesepakatan dari ulama-ulama yang se ideologi dengan 
> mereka saja.  Ijma' adalah kesepakatan para ulama-ulama mengenai
masalah 
> tertentu yang nyatanya adalah ternyata banyak khilaf diantara mereka. 
> lalu bagaimana mereka bisa katakan Ijma'?
>  
> 
>  Karena aku sendiri prihatin disebabkan karena sedikitnya kajian-kajian 
> yang ilmiah serta situs-situs kajian yang berani memberikan pendapat
yang 
> berbeda dari apa yang mereka para S****y berikan. 
>  
> padahal ada situs-situs walaupun jumlahnya sedikit yang memberikan
alasan 
> (dalil-dalil) yang berbeda dari apa yang para S****y jadikan pegangan 
> itu.
>  
> semoga ini bermanfaat dan memberikan angin segar bagi kita yang terus 
> mencari kebenaran
>  
> wa Allahu a'lam bi al showab
> wassalamu alaykum
>  
>  
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke