http://www.suaramerdeka.com/
Konferwil NU Jateng dan Jatim
Oleh A Mustofa Bisri
KONFERENSI
Wilayah NU Jawa Tengah dan Wilayah Jawa Timur menarik untuk
diperhatikan. Kedua konferensi yang dilaksanakan hampir bersamaan itu
memiliki beberapa persamaan di samping perbedaan-perbedaan.
Sama-sama diselenggarakan di wilayah basis NU dan dalam suasana ’’pesta
demokrasi’’ dan isu khittah-politik. Perhatian dalam kedua konferensi
sama-sama masih terfokus kepada pencalonan ketua tanfidziyah.
Kedua, ketua tanfidziah yang lama sama-sama menjadi calon wagub di
masing-masing wilayah mendampingi cagub dari Partai Golkar (Ali Maschan
mendampingi Sunaryo dan Adnan mendampingi Bambang Sadono) dan keduanya
kembali menjadi calon ketua tanfidziyah dalam masing-masing konferwil.
Calon rais syuriah dan ketua tanfidziyah di kedua konferwil juga
sama-sama terpilih secara aklamasi.
Di samping persamaan-persamaan itu, ada beberapa perbedaan, antara lain
konferwil NU Jatim dilaksanakan sebelum pilgub, sementara di Jateng
sesudah pilgub. Di Jateng, ketua tanfidziyah lama (Adnan) terpilih
secara aklamasi karena dalam pencalonan tidak ada saingan, sementara di
Jatim ketua lama (Ali Maschan) ditolak oleh rais syuriah terpilih,
sehingga calon yang lain (Mutawakkil Alallah) terpilih secara
aklamasi.
Beberapa hari sebelum konferensi, pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama,
Rais Am KHMA Sahal Mahfudh menyatakan, ’’Keterpurukan dan carut-marut
NU terjadi karena pengurusnya tidak mampu memegang amanat para kiai dan
syahwat politiknya terlalu besar. Seolah-olah mereka memperjuangkan
aspirasi dan kepentingan NU, padahal sesungguhnya mereka memperjuangkan
kepentingan politiknya sendiri.’’
Orang pertama di NU dan salah seorang yang terlibat langsung dalam
perumusan khittah NU itu menyarankan kepada para pengurus cabang dalam
konferwil untuk memilih figur rais syuriyah dan ketua tanfidziyah yang
bersih dari tarik-menarik kepentingan politik dan konsisten menjaga
amanat para kiai terutama khittah NU.
’’Menyeret-nyeret jam’iyyah ini kepada politik praktis seperti Pilkada
Jawa Tengah lalu itu, artinya tidak istiqamah,’’ tegasnya. Orang-orang
seperti itu, menurut dia, tidak pantas menjadi pemimpin jam’iyyah
Nahdlatul Ulama. (Suara Merdeka , Jumat Kliwon 11 Juli 2008 halaman 1).
Dari pernyataan Rais Am NU itu, kita bisa memahami penolakan Rais
Syuriah NU Wilayah Jatim terpilih, KH Miftachul Akhyar terhadap
pencalonan Ali Maschan ketika diminta pertimbangan oleh cabang-cabang.
Agaknya Rais Syuriah Jawa Timur juga tidak ingin pembantunya di
tanfidziyah dan pada gilirannya NU Wilayah Jatim sendiri terjebak pada
tarik-menarik kepentingan politik praktis.
Demikian pula kita bisa memahami pernyataan Adnan tidak akan maju sebagai calon
ketua tanfidziyah dalam konferwil di Benda.
Sejalan dengan apa yang ditegaskan Rais Amnya, Adnan menyadari bahwa
kalau dia maju dan terpilih menjadi ketua tanfidziyah lagi, NU Wilayah
akan sulit meyakinkan kebersihannya dari tarik-menarik kepentingan
politik dan konsisten menjaga amanat kiai terutama khittah NU
sebagaimana dinyatakan oleh Rais Am.
Namun lain Adnan lain pula pengurus cabang peserta konferwil. Rupanya
mereka tidak membaca atau membaca tapi tidak memahami pernyataan Rais
Am itu sebagai larangan untuk memilih Adnan atau siapa pun yang
terlibat politik praktis.
Atau mereka menganggap tidak ada masalah karena pilkada yang melibatkan
Adnan sudah usai. Atau mereka menganggap pilkada bukan urusan politik
praktis. Atau mereka tidak memahami kaitannya pilkada dengan khittah
NU. Atau mereka menganggap bahwa ketika berpolitik, mereka tidak atas
nama pengurus, tapi pribadi-pribadi. Atau..
Apa pun yang jelas akhirnya Adnan harus menuruti keinginan
cabang-cabang untuk maju sebagai calon tanfidziyah, sebagaimana kemarin
menuruti mereka untuk maju sebagai calon wakil gubernur.
Mudah-mudahan Kiai Masruri dan Adnan yang terpilih sebagai rais syuriah
dan ketua tanfidziyah untuk kedua kalinya ini dapat mengambil pelajaran
dari masa bakti mereka kemarin untuk lebih meningkatkan khidmat di masa
datang dan mengembalikan NU ke maqam-nya sesuai arahan pemimpin
tertinggi mereka, KHMA Sahal Mahfudh. Amin.
— Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibien, Leteh, Rembang
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]