[ Sabtu, 16 Agustus 2008 ]
Santri se Jatim Desak Hasyim Mundur
Jika Tetap Dukung Pasangan Cagub
PANDAAN - Sebanyak 17 santri dan gus se Jawa Timur
kemarin bertemu di RM Sri Pandaan. Mereka menggelar pertemuan untuk
menyikapi tindakan KH Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang dianggap
mendukung salah satu pasangan calon gubernur (cagub) Jatim. Mereka pun
mendesak agar Kiai Hasyim untuk mundur, jika tetap mendukung salah satu
cagub tersebut.
Pertemuan yang mengatasnamakan Forum Santri
Jawa Timur (FSJT) ini kemarin membuat empat resolusi. Pertama,
mengimbau pada Kiai Hasyim Muzadi untuk menghormati kiai sepuh dengan
tidak mendukung salah satu kandidat pasangan calon Gubernur.
Kedua,
jika kiai Hasyim tetap ngotot untuk mendukung bahkan berniat menjadi
jurkam, maka ia diminta untuk nonaktif atau mundur dari jabatan sebagai
ketua PBNU. "Meskipun kiai Hasyim selalu mengatasnamakan pribadi dalam
setiap pertemuan, namun ini terlalu samar. Ini sama artinya, NU identik
dengan politik. Dan kami dari para santri jelas tidak menginginkan NU
ditarik-tarik pada kepentingan politik," ujar Gus Fahrurrozie,
koordinator FSJT kemarin.
Selanjutnya, FSJT juga mengimbau
pada seluruh cabang sampai ranting NU agar tetap netral. "Jangan
membenturkan NU struktural dengan NU kultural. Kami dari para santri se
Jatim tetap menginginkan NU sebagai jamiyah ijtimaiyyah yang patuh pada khittah
NU," tegasnya.
Sebanyak
17 santri dan gus yang hadir kemarin, di antaranya berasal dari
beberapa daerah. Misalnya, Ustad Abdulloh Faqih (Surabaya), Badri
Syarif (Sampang Madura), Lora Rahbini (Bangkalan), Ustad Muslih
(Sidoarjo), lalu Karim (Probolinggo). Kemudian, Ayatulloh (Kediri),
Alaika Asrori Anshor (Tulungagung), Subhan (Mojokerto, Basith
(Jombang), Nafiuddin (Gresik), Kholil (Bangil), Hamid (Banyuwangi),
Ustad Muzakkir (Malang), Burhanuddin (Pasuruan kota), Abdurahman Ali
dan Gus Fahrurrozie (Pasuruan).
Mereka kemarin sepakat
membuat resolusi. Sambil membentangkan tangan, mereka juga siap untuk
menyalurkan aspirasinya ini kepada PBNU, PWNU sampai ke ranting.
"Mungkin besok pernyataan ini akan kami faks-kan ke PBNU. Tujuan kami
hanya satu. Kami tidak ingin NU dibawa-bawa untuk kepentingan politik,"
tegasnya.
Soal eksistensi santri yang menyuarakan pada
PBNU? Alaika Asrori menjawabnya. Menurut santri asal Tulungagung ini,
santri adalah bagian yang tak terpisahkan oleh NU. "Justru dengan
santri-santri inilah, NU akan menjadi organisasi yang besar. Suara kami
yang ada di bawah juga seharusnya disikapi oleh pengurus NU pusat
dengan lebih arif dan bijaksana," tegas Asrori.
Seruan para
santri dan gus ini dilakukan, karena melihat sepak terjang KH Hasyim
Muzadi yang dinilai sudah terlalu. "Kami sempat membedakan antara NU
pada zaman dijabat Gus Dur dengan Kiai Hasyim. Dulu waktu Gus Dur tidak
pernah kami mendengar NU ditarik-tarik pada politik. Tapi, saat ini,
sudah ada kesan, kalau NU ditarik-tarik. Ini yang tidak boleh," cetus
Gus Fahrur lagi.
Gus Fahrur juga membantah jika pertemuan
dengan para santri se Jatim ini juga ada pesanan dari pihak tertentu.
Menurutnya, semua yang dilakukan santri adalah murni demi meluruskan
kaidah NU yang tidak berpolitik sesuai khittahnya. "Kami tidak punya
afiliasi politik kemanapun. Kami juga meminta semua kalangan struktur
NU untuk tetap netral pada pilgub putaran kedua. Pilihlah sesuai hati
nurani," tukasnya. (day)
[Non-text portions of this message have been removed]