Perhatikan judul "santri se Jatim" dengan 17 orang yang ada? apakah angka 17
itu sudah mewakili Jawa Timur? Bagaimana proses perwakilannya? Apakah
santri/gus Kediri yang bernama Ayatullah (saya baru tahu ada orang Kediri
yang bernama Ayatullah) mewakili pesantren Lirboyo, Ploso, atau Jampes, atau
Kedong Lo?

Media massa tidak mau berpusing cara berfikir ilmiah yang rumit, atau cara
penarikan kesimpulan dengan penelusuran bukti atau representasi yang
njelimet. Kebenaran cukup disandarkan pada suatu momen dan klaim nara
sumber, yang kemudian disebut sebagai fakta.

Jawa Pos juga tidak akan peduli bahwa berita tentang "penolakan Hasyim"
karena mendukung Khofifah pasti bisa dimaknai sebagai "keinginan" yang
muncul dari kelompok yang mendukung Saifullah Yusuf. Yang penting adalah
keberhasilan memunculkan berita yang heboh, dan dengan begitu koran semakin
menarik untuk dibeli. Apalagi jika direspon balik dan ia menjadi forum untuk
saling menyerang dan berkonflik.

Saya yakin tidak ada yang keberatan jika ada Nahdliyin yang terpilih menjadi
pejabat. Problemnya adalah ketika ada beberapa Nahdliyyin yang bersaing, dan
NU hampir-hampir akan menjadi korbannya. Kecuali jika kita mampu membaca
berita dengan baik.

Salam semuanya,
Anam


2008/8/16 ahmad shidqi <[EMAIL PROTECTED]>

>
>
> [ Sabtu, 16 Agustus 2008 ]
>
> Santri se Jatim Desak Hasyim Mundur
>
>
>
>
>
> Jika Tetap Dukung Pasangan Cagub
>
> PANDAAN - Sebanyak 17 santri dan gus se Jawa Timur
> kemarin bertemu di RM Sri Pandaan. Mereka menggelar pertemuan untuk
> menyikapi tindakan KH Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang dianggap
> mendukung salah satu pasangan calon gubernur (cagub) Jatim. Mereka pun
> mendesak agar Kiai Hasyim untuk mundur, jika tetap mendukung salah satu
> cagub tersebut.
>
> Pertemuan yang mengatasnamakan Forum Santri
> Jawa Timur (FSJT) ini kemarin membuat empat resolusi. Pertama,
> mengimbau pada Kiai Hasyim Muzadi untuk menghormati kiai sepuh dengan
> tidak mendukung salah satu kandidat pasangan calon Gubernur.
>
> Kedua,
> jika kiai Hasyim tetap ngotot untuk mendukung bahkan berniat menjadi
> jurkam, maka ia diminta untuk nonaktif atau mundur dari jabatan sebagai
> ketua PBNU. "Meskipun kiai Hasyim selalu mengatasnamakan pribadi dalam
> setiap pertemuan, namun ini terlalu samar. Ini sama artinya, NU identik
> dengan politik. Dan kami dari para santri jelas tidak menginginkan NU
> ditarik-tarik pada kepentingan politik," ujar Gus Fahrurrozie,
> koordinator FSJT kemarin.
>
> Selanjutnya, FSJT juga mengimbau
> pada seluruh cabang sampai ranting NU agar tetap netral. "Jangan
> membenturkan NU struktural dengan NU kultural. Kami dari para santri se
> Jatim tetap menginginkan NU sebagai jamiyah ijtimaiyyah yang patuh pada
> khittah NU," tegasnya.
>
> Sebanyak
> 17 santri dan gus yang hadir kemarin, di antaranya berasal dari
> beberapa daerah. Misalnya, Ustad Abdulloh Faqih (Surabaya), Badri
> Syarif (Sampang Madura), Lora Rahbini (Bangkalan), Ustad Muslih
> (Sidoarjo), lalu Karim (Probolinggo). Kemudian, Ayatulloh (Kediri),
> Alaika Asrori Anshor (Tulungagung), Subhan (Mojokerto, Basith
> (Jombang), Nafiuddin (Gresik), Kholil (Bangil), Hamid (Banyuwangi),
> Ustad Muzakkir (Malang), Burhanuddin (Pasuruan kota), Abdurahman Ali
> dan Gus Fahrurrozie (Pasuruan).
>
> Mereka kemarin sepakat
> membuat resolusi. Sambil membentangkan tangan, mereka juga siap untuk
> menyalurkan aspirasinya ini kepada PBNU, PWNU sampai ke ranting.
> "Mungkin besok pernyataan ini akan kami faks-kan ke PBNU. Tujuan kami
> hanya satu. Kami tidak ingin NU dibawa-bawa untuk kepentingan politik,"
> tegasnya.
>
> Soal eksistensi santri yang menyuarakan pada
> PBNU? Alaika Asrori menjawabnya. Menurut santri asal Tulungagung ini,
> santri adalah bagian yang tak terpisahkan oleh NU. "Justru dengan
> santri-santri inilah, NU akan menjadi organisasi yang besar. Suara kami
> yang ada di bawah juga seharusnya disikapi oleh pengurus NU pusat
> dengan lebih arif dan bijaksana," tegas Asrori.
>
> Seruan para
> santri dan gus ini dilakukan, karena melihat sepak terjang KH Hasyim
> Muzadi yang dinilai sudah terlalu. "Kami sempat membedakan antara NU
> pada zaman dijabat Gus Dur dengan Kiai Hasyim. Dulu waktu Gus Dur tidak
> pernah kami mendengar NU ditarik-tarik pada politik. Tapi, saat ini,
> sudah ada kesan, kalau NU ditarik-tarik. Ini yang tidak boleh," cetus
> Gus Fahrur lagi.
>
> Gus Fahrur juga membantah jika pertemuan
> dengan para santri se Jatim ini juga ada pesanan dari pihak tertentu.
> Menurutnya, semua yang dilakukan santri adalah murni demi meluruskan
> kaidah NU yang tidak berpolitik sesuai khittahnya. "Kami tidak punya
> afiliasi politik kemanapun. Kami juga meminta semua kalangan struktur
> NU untuk tetap netral pada pilgub putaran kedua. Pilihlah sesuai hati
> nurani," tukasnya. (day)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke