Golput ?
24 Nopember 2008 21:14:51Oleh: Alfanny

Gus Dur pun akhirnya menyerukan
Golput setelah posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro PKB sama sekali
diabaikan oleh KPU dan PKB Cak Imin. Tepatkah seruan Golput -khususnya
bagi warga NU- dalam konteks kekinian dan kedisinian?


Saat ini, Indonesia tengah
menghadapi dua ancaman sekaligus, liberalisme ekonomi dan sekaligus
konservatisme dan fasisme agama. Liberalisme ekonomi terlihat jelas
dari maraknya hypermarket yang membunuh usaha kelontongan dan warung
kecil. Sementara konservatisme dan fasisme agama terlihat dari
aksi-aksi intoleran seperti pembakaran masjid Ahmadiyah dan menguatnya
wacana khilafah islamiyah yang jelas-jelas menolak eksistensi
nation-state seperti NKRI.

Liberalisme ekonomi diperparah oleh
para birokrat kita –yang notabene warisan Orde Baru- yang hampir-hampir
tidak punya semangat nasionalisme, dalam artian ekonomi yaitu mencintai
produk dalam negeri. Harian Kompas secara satir pernah mengilustrasikan
bahwa para pejabat tinggi kita lebih bangga memakai sepatu Bally
daripada sepatu merk nasional. Rakyat, terutama generasi mudanya
berdesak-desakan antre di loket CPNS dan “Indonesian Idol”, lebih
bangga menjadi pegawai dan penyanyi daripada menjadi pengusaha.  


Konservatisme dan fasisme agama pun
kian mendapat tempat setelah para birokrat kita –demi meraih simpati
rakyat yang mayoritas muslim- berlomba-lomba mendukung program-program
kesalehan ritual-simbolik. Lahirlah perda-perda bernuansa syariat Islam
yang sangat simbolik dan tidak relevan dengan upaya peningkatan
kesejahteraan rakyat. Di kota Tangerang, akan kita jumpai di sebuah
ruas jalan bertebaran plang-plang bertuliskan asmaul husna dan
slogan-slogan besar “akhlaqul karimah”.  

Sebuah partai Islam berideologi konservatif-radikal versi Ikhwanul
Muslimin-Mesir pun kian mendapatkan tempat di masyarakat awam hanya
karena sangat rajin melakukan pengobatan gratis dan pembagian sembako. 
Padahal Ikhwanul Muslimin di Mesir sudah lama menjadi partai terlarang
sejak para kadernya yang radikal  "terpancing" untuk membunuh Presiden
Anwar Sadat tahun 1979.  Tapi, di Indonesia ideologi Ikhwanul Muslimin
tumbuh subur di tiga kampus terkemuka, UI, ITB dan UGM.  Buku-buku
karya ideolog Ikhwan seperti Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb pun akan
mudah kita temukan beredar di kalangan aktivis dakwah kampus-kampus
tersebut.


Gejala para birokrat yang cenderung
mengakomodasi kelompok konservatif-fasis agama sebenarnya bukan
monopoli Indonesia. Malaysia pun melakukannya lebih dahsyat. Rezim
Barisan Nasional/ UMNO yang sedang digerogoti popularitasnya oleh Anwar
Ibrahim belakangan mulai memainkan kartu simbol agama untuk
mempertahankan popularitasnya. Kasus pelarangan penggunaan lafadz 
“Allah” oleh Gereja Katolik Malaysia dan pelarangan Yoga adalah
contohnya.  


Lalu, siapa yang bisa kita pilih?
Memang susah. Tapi, pilihlah yang “terbaik di antara yang terburuk”,
toh kaidah ushul fiqh pun menyatakan “lebih baik mencegah keburukan
daripada mendatangkan kebaikan”. Sebab bila para pemilih cerdas dan
kritis beramai-ramai tidur pada hari pemungutan suara, maka sudah
dipastikan partai-partai korup dan konservatif yang akan menang.


Kita harus belajar dari Pemilu
Presiden Prancis 2002 silam. Saat itu, secara dramatis, kandidat Partai
Sosialis yang pro perubahan, Lionel Jospin dikalahkan oleh kandidat
dari partai sayap kanan, Jean Marie Le Pen pada Pemilu putaran pertama.
Le Pen dalam kampanyenya dikenal fasis dan rasialis karena sering
mengusung isu anti imigran. Le Pen bahkan pernah mengkritik tim
sepakbola Perancis yang didominasi warga Perancis keturunan imigran
Afrika. Saat itu banyak simpatisan Partai Sosialis yang golput karena
menganggap Jospin sebagai tokoh Sosialis yang kurang memiliki
agenda-agenda perubahan yang konkret. Hasilnya, yang diuntungkan adalah
Le Pen dari partai fasis yang berhasil maju ke putaran kedua. 


Walhasil, pada pemilu putaran kedua,
warga Perancis yang pro perubahan “dengan terpaksa” memilih kandidat
incumbent yang status quois, Jacques Chirac. Para pendukung Partai
Sosialis jelas tidak akan memilih Le Pen yang fasis. Ideologi fasisme
atau ultra-nasionalis sangat dikecam oleh para pendukung Partai
Sosialis.

So, bagaimana pemilih Indonesia?
Ingin Indonesia semakin liberal secara ekonomi dan fasis dalam
kehidupan beragama? Semua tergantung anda.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah MataAir
www.alfannymovement.blogspot.com    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke