Usul Seni dan Sastera menjadi Bagian tak terpisahkan dari Fakultas Ushuluddin

Saya punya pikiran Mas Aguk, kalau bidang seni dan sastra ini perlu 
dibangkitkan menjadi media fundamental bagi Fakultas Ushuludin IAIN.
Ide berfikirnya sederhana. Filsafat tanpa sastera mandul. Karena itu sebuah 
konsep pemikiran ada baiknya diperkenalkan kepada publik melalui model 
teatrikal teladan yang digubah berdasarkan filosofi yang ditawarkan.

Kita perhatikan, keberhasilan ajaran Hindu melalui kitab-kitab sastera yang 
melegenda seperti Mahabarat dan Ramayana.

Selain itu, melalui media seni dan sastera, juga menghaluskan budi dan bahasa 
para sarjana ushuluddin.. yang biasanya berfikir radikal... Pola perilaku 
mereka yang radikal... adalah karena tidak mengenal aspek humanis kemanusiaan 
yang riel... mereka belajar berfikir selama ini hanya pada batas formalitas 
berfikir... belum memasuki relung-relung atmosfer manusia berperilaku sebagai 
manusia.

Karena itu tidak heran... kalau alumni fakultas ini jarang yang menjiwai 
mengapa para Wali Sanga bisa tampil begitu humanis dan kulturis.

Mohon para kalangan seni dan sastera mulai melakukan terobosan-terobosan ini 
kepada pihak-pihak yang terkait demi Indonesia Maju.

Terima kasih
Sofwan




________________________________
From: agukirawan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, September 5, 2009 12:42:53 PM
Subject: [kmnu2000] Ketika Puisi Mengalienasi Kita

  

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/05/ 03211023/ ketika.puisi. 
mengalienasi. kita

Sabtu, 5 September 2009 | 03:21 WIB

Aguk Irawan MN

Belakangan hari kita menyaksikan bagaimana puisi di Indonesia mendapatkan 
nasibnya yang paling getir. Bukan hanya penerbit menolak penerbitan buku 
kumpulan atau antologi puisi, penerbitannya pun harus dihadapkan pada kenyataan 
bahwa laju penjualannya yang bahkan tidak mencapai target minimal untuk impas.

Beronggok puisi mungkin mengisi laci, file, atau benak para penyair 
dan—mungkin—meja redaksi majalah atau surat kabar. Sebuah keadaan yang mungkin 
membuat seorang redaktur surat kabar memberi alasan, "Kini lebih banyak penyair 
ketimbang pembacanya," sebagai apologia hilangnya rubrik puisi yang sudah 
puluhan tahun bertahan di media itu.

Kini beberapa media yang sebelumnya dikenal komitmen dan perhatiannya kepada 
kesenian menghapus rubrik itu. Dan bukan hanya penerbit yang meninggalkan puisi 
secara definitif, beberapa toko buku juga sudah tidak lagi memajang buku puisi 
sejak beberapa tahun lalu.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang mendorong terjadinya nasib getir puisi 
itu? Apa dampaknya dalam kehidupan kolektif, sebagai manusia sebagai sebuah 
bangsa?

Puisi dalam sejarah

Sejarah manusia ditandai dengan jelas oleh riwayat perjuangan hidup beradabnya 
bersama puisi. Sel-sel majas sebuah puisi, baik konotatif maupun denotatif, 
kerap menyulut api perubahan dan menjadi semacam lampu ajaib yang sanggup 
menerangi kelamnya politik. Tak mengherankan jika John F Kennedy teringat puisi 
pada hari pelantikannya sebagai Presiden Amerika Serikat.

Bahkan ia mengundang Robert Frost, penyair ternama Amerika Serikat pertengahan 
abad 20, untuk membacakan puisi di depannya. Sebuah penampilan yang akhirnya 
menginspirasi Presiden baru itu menciptakan ungkapan, "Jika politik itu kotor, 
puisi yang akan membersihkannya. "

Mungkin karena alasan itu pula kenapa puisi Gilgamesh diguratkan dengan huruf 
paku pada bongkahan lempung dalam bahasa Sumeria di Mesopotamia sekitar 5.000 
tahun yang lalu.

Selain Gilgamesh, ada juga syair-syair purba, seperti Kidung Agung, Ayub, 
Mazmur, Amsal, serta syair-syair mitologi Yunani. Hal itu terdapat seperti 
dalam Iliad dan Odyssey karya Homerus, kitab-kitab puisi kebijaksanaan Tao dan 
Konfusius, La Galigo suku Bugis, atau tradisi sastra lokal lainnya, seperti 
pantun, gurindam, seloka, semuanya disajikan dalam syair-syair indah.

Bahkan dalam masa jahiliahnya, peradaban Arab telah menempatkan puisi dan 
penyair dalam posisi tertinggi secara sosial. Pengaruhnya melebihi ketua suku, 
bangsawan, dan saudagar kaya.

Dalam perkembangan mutakhir Arab, tak akan terlupakan penyair besar Irak, Nâzik 
Malaikah. Bagi rakyat Irak, Nâzik dianggap sebagai salah satu pahlawan revolusi 
yang memperlancar jalannya kudeta Rasyid al-Kilani.

Di Nusantara, puisi-puisi Hamzah Fansuri yang berasal dari Aceh abad ke-16 dan 
ke-17 masih berpengaruh pada puisi transendental masa kini. Adapun puisi-puisi 
karya Chairil Anwar, misalnya, turut membakar semangat kebangsaan dan 
kemerdekaan. Bagaimana pula kita menafikan puisi-puisi WS Rendra dalam 
mendorong perubahan politik di negeri ini?

Keprihatinan nasib puisi

Puisi-puisi yang tercatat dalam tinta emas sejarah, menurut Adonis—kritikus 
sastra Arab Modern—tidaklah lahir dari kekosongan budaya, dan canggihnya 
akrobatik bahasa. Namun, puisi-puisi itu langsung berhubungan dengan proses 
membangun makna hidup dalam konteks sosial, baik dalam ruang temporal maupun 
perenial.

Di sini sensualiasme (akrobatik) kata berposisi sekadar sebagai pemantik 
(aksesori) bukan sebagai tujuan. Karena itu, ia bisa melampaui batas identitas 
dan merebut hati masyarakat.

Akan tetapi, sebagaimana yang disinggung di atas, betapa memprihatinkan nasib 
puisi sekarang ini. Siapa yang harus bertanggung jawab? Yang pertama, saya kira 
adalah para penyair sendiri. Bukankah tingkat apresiasi masyarakat terhadap 
puisi itu ditentukan kualitas sebuah puisi? Jika puisi bisa merebut hati 
masyarakat, rasanya nasib puisi tak akan telantar.

Kenyataannya, puisi-puisi mutakhir kita justru jadi semakin "elite" dan 
eksklusif. Bahasa dan diksinya semakin njelimet, sukar dipahami.

Mereka sepertinya terjebak dalam romantisisme atau labirin lirisisme klasik 
yang terpaku pada keindahan dan tema-tema "abadi" yang kehilangan konteks 
kekiniannya. Akibatnya, mereka terasing dari peristiwa-peristiwa penting yang 
terjadi tak jauh kakinya berpijak. Peristiwa memilukan, suara terbungkam dan 
kesengsaraan yang membutuhkan puisi sebagai mikrofon dari suara hati mereka.

Apakah ini berarti diagungkannya kembali posisi puisi sebagai l'art pour l'art, 
seni hanya untuk seni sendiri? Puisi yang hanya berlaku pada mereka yang hidup 
di dalamnya, semacam pemeo "yang bukan penyair tidak ambil bagian". Sebuah 
ironi, yang tampak mirip dengan gambaran karya Yunani, Tuhan yang Tak Dikenal 
(Kis. 17:23). Kita tahu bahwa Ia ada, tetapi karena terasa jauh dan sukar 
dipahami, maka "pengetahuan" atas-Nya pun menjadi milik segelintir orang saja.

Haruskah puisi kini jadi alien bagi kita? Mari kita menjawabnya.

Aguk Irawan MN Pemimpin Redaksi Jurnal Budaya Kalimah, Yogyakarta


   


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke