Biaya hidup(dengan tanda petik) Yang saya maksud adalah tidak harus uang, 

Tapi bisa kualitas ilmiah, bisa popularitas untuk menaikan harga jual buku yg 
ditulisnya, bisa juga jabatan politik dengan segala imimg-imingnya, dll, bukan 
begitu?

Untuk Mas Abdul Latif,
Saya berharap: Tidak hanya Islam keras yang dirangkul NU --- wong masih sesama 
Islam kok--, 

Namun juga harus bisa merangkul yang di luar Islam sekalipun. Atau bagaimana 
methodologi dakwahnya? he he...




 

--- On Sun, 9/6/09, sofwan nadi <[email protected]> wrote:

From: sofwan nadi <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun
To: [email protected]
Date: Sunday, September 6, 2009, 7:37 PM






 




    
                  Mas Nasrul... ada betulnya..pada kata "untuk kelangsungan 
biaya hidup sebagian anggota NU"...

Tapi mohon ini hanya berlaku untuk orang per orang... bukan berarti bahwa semua 
orang berbeda itu karena demi uang.... ada juga karena fondasi keilmuannya. ..



Jadi husnudhon itu diutamakan untuk perilaku kita menilai orang...

Sedangkan kewaspadaan itu adalah nasehat agar kita tidak tertipu oleh nafsu 
sendiri.



Kalau Mas Nasrul... berpendapat bahwa pemikiran liberal itu virus ganas... maka 
pemikiran fanatisme taqlid juga virus ganas... bukti keganasannya sudah 
terbukti menjerat sebagian kita untuk menilai orang yang tidak seperti diri 
kita, tidak berfikir seperti kita.. dibilangnya salah. Selanjutnya, kita 
menjadi sungkan bersilaturahmi dengan mereka...



Saya jadi ingat pada Pak Syafii Maarif dari Muhammadiyah. .. Dulu Tuan Guru ini 
cukup keras... tapi sekarang beliau rutang runtung dengan Gus Dur... bahkan 
kata orang PKS "Dia sudah pro-Liberalisme" ...



Hati-hati Mas Nasrul... jangan terlalu benci pada sesuatu... nanti bisa 
terbalik menjadi terlalu suka... Ini hukum alam lho... Inipun pesan dari 
Junjungan Kita.



____________ _________ _________ __

From: Nasrulloh Afandi <gusg...@yahoo. com>

To: kmnu2...@yahoogroup s.com

Sent: Saturday, September 5, 2009 11:43:28 AM

Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun



Untuk kelangsungan jamiyah NU, liberal dan politik adalaha virus ganas, bukan?



Tapi untuk kelangsungan "biaya hidup'' sebagian anggota NU, tentu politik dan 
liberal adalah lahan yang sanagat menjanjikan dan penuh vitamin , kali?

he he...



--- On Fri, 9/4/09, sofwan nadi <de_a...@yahoo. com> wrote:



From: sofwan nadi <de_a...@yahoo. com>

Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun

To: kmnu2...@yahoogroup s.com

Date: Friday, September 4, 2009, 8:27 PM



Betulkah Politik dan Liberal virus ganas?



Mohon dibaca kembali postingan di milist ini tentang Macam Gelombang Kehidupan 
dan Gaya Kita Menghadapinya.



Membicarakan sesuatu dengan hitam dan putih... memang cukup selamat bagi si 
pemikir, tetapi tidak sedikit menakutkan bagi orang lain. Karena cara berfikir 
seperti itu, hanya memberi pilihan pada orang lain dua hal, dihitamkan atau 
diputihkan.



Cara berfikir hitam putih.. telah memakan korban yang sangat dahsyat...



Siapakah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib kw? dia adalah si penghafal 
Alquran yang menetapi salat malam dengan disiplin. Hebatnya, sebagian perawi 
hadits yang dipandang kredibel (tsiqoh) adalah tergolong para pendukung 
pembunuh Khalifah Ali. Contoh, Imron bin Thohin adalah pendukung gerakan ini 
yang riwayat-riwayatnya muncul di kitab Shahih. Silahkan baca pada Muqaddimah 
Fathul Bary.



Siapakah yang membunuh Khalifah Utsman b Affan ra? dia adalah sekumpulan 
sahabat dan tabiin terkemuka.



Tragedi sejarah begitu mengerikan.. .. karena itu arus sejarah yang carut marut 
perlu diwaspadai ... agar kita selamat dari kedegilannya.



Saya mengerti hal ini... setelah berhubungan dengan buku-buku Aljarh 
wat-ta'diil. .. mengerikan. Karena itulah saya berterima kasih kepada sebagian 
para kiyai NU yang sempat memberi keleluasan kepada saya untuk berdialog 
langsung dengan hal-hal yang pelik.. yang jarang santri melakukan.



Kesimpulan saya: Hitam dan Putih hanya milik Allah... bagian pikiran manusia 
hanya bergerak di daerah abu-abu. Urusan menghitamkan atau memutihkan.. 
dikembalikan kepada Pengadilan Allah di Padang Mahsyar. Saya tidak mau 
mengambil hak prerogatif Allah ini.



Jadi adakah virus yang ganas dari Politik dan Pemikiran Liberal?



Kalau virus, boleh jadi. Tapi bisa dijinakkan sebagai vaksin. Kalau disebut 
"ganas" itu menjadi sangat menarik bagi orang Sunda, ganas artinya nanas... 
Mas. Cobalah berjalan dari Kota Kabupaten Subang menuju Bandung di sana banyak 
yang jualan ganas. He..he..



____________ _________ _________ __



From: Nasrulloh Afandi <gusg...@yahoo. com>



To: kmnu2...@yahoogroup s.com



Sent: Friday, September 4, 2009 10:25:04 PM



Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun



Jika pak Gus Said bin kiyai AQil bin kiyai Siradj terpilih jadi ketua umum PBNU 
nanti, nanti Insya Allah akan bisa merangkul Islam keras dan santun.



Apalagi, gus Said juga (sudah) tidak liberal lagi, dan kurang bisa berpolitik, 
Insya Allah NU aman dari dua virus ganas itu he he...



Nasrul



From: Kinantaka <kinant...@gmail. com>



Subject: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun



To: kmnu2...@yahoogroup s.com



Date: Thursday, September 3, 2009, 11:44 PM



Islam Keras dan Santun



Jumat, 4 September 2009 | 02:47 WIB



Said Aqiel Siradj



Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti



ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal



dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20.



Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan



Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi



menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.



Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor



pendorong. Gejala kekerasan ”agama” bisa didudukkan sebagai gejala



sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri



dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia.



Faktor lain adalah sentimen keagamaan dan solidaritas keagamaan untuk kawan



yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Namun, hal ini lebih tepat disebut



faktor emosi keagamaan, bukan faktor agama an sich, meski gerakan



radikalisme selalu mengibarkan simbol agama seperti jihad dan mati syahid.



Emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas, bersifat. Jadi,



sifatnya nisbi dan subyektif.



Faktor kultural juga memiliki andil besar yang melatarbelakangi munculnya



radikalisme. Secara kultural, di masyarakat selalu ditemukan usaha untuk



melepaskan diri dari jerat jaring-jaring kebudayaan yang dianggap tidak



sesuai. Faktor kultural adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme



Barat yang dicap sebagai musuh besar.



Islam Indonesia



Islam adalah agama ”pendatang” karena berasal dari Timur Tengah. Namun,



berkat proses transformasi yang berjalan damai, Islam menjadi bagian tak



terpisahkan kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai makna dasar Islam, dari kata



aslama, bermakna ”damai”, ternyata para pembawa panji-panji Islam tempo dulu



mampu menyebarkan agama Islam dengan damai.



Penyebaran Islam di Indonesia berjalan lancar dan tidak menimbulkan



konfrontasi dengan pemeluk agama sebelumnya. Masuk melalui pantai Aceh,



Islam dibawa para perantau dari berbagai penjuru, seperti Arab Saudi dan



sebagian dari mereka ada yang berasal dari Gujarat.



Penyebab proses Islamisasi berjalan damai karena kepiawaian para mubalig



dalam memilih media dakwah, seperti sosial budaya, ekonomi, dan politik.



Dalam penggunaan media budaya, sebagian mubalig memanfaatkan wayang sebagai



salah satu media dakwah. Sunan Kalijaga, misalnya, mampu menarik simpati



rakyat Jawa yang amat akrab dengan budaya dan tradisi Hindu-Buddha.



Para pembawa panji Islam juga memanfaatkan aspek ekonomi untuk mengembangkan



nilai-nilai dan ajaran Islam. Dari berbagai literatur terungkap, aspek itu



menempati posisi strategis dalam upaya Islamisasi di Nusantara. Salah satu



faktor yang mendorong minat masyarakat Nusantara mengikuti agama para



pedagang itu karena tata cara dagang serta perilaku sehari-hari lainnya



dianggap menarik sanubari masyarakat setempat.



Setelah kokoh menancapkan pengaruhnya di Indonesia, peran Islam lambat laun



meningkat ke wilayah politik melalui upaya mendirikan kerajaan Islam, antara



lain Kerajaan Pasai, Demak, Mataram, dan Pajang. Lalu, semua itu mengalami



keruntuhan karena adanya berbagai faktor, baik konflik internal di antara



anggota keluarga kerajaan maupun faktor eksternal seperti serbuan kolonialis



Portugis dan Belanda. Namun, posisi Islam tetap kukuh dan kian menyatu



dengan kehidupan masyarakat dan hampir selalu memperlihatkan wajahnya yang



ramah dan santun. Gejolak yang sifatnya radikal nyaris tak terdengar.



Dakwah santun



Memahami Islam secara tekstualistik akan mendatangkan sikap ekstrem.



Padahal, Al Quran tidak melegitimasi sedikit pun perilaku dan sikap yang



melampaui batas. Dalam konteks ini, ada tiga sikap yang dikategorikan



”melampaui batas”.



Pertama, ghuluw, bentuk ekspresi berlebihan manusia dalam merespons



persoalan hingga mewujud dalam sikap-sikap di luar batas kewajaran



kemanusiaan.



Kedua, tatharruf, sikap berlebihan karena dorongan emosional yang



berimplikasi kepada empati berlebihan dan sinisme keterlaluan dari



masyarakat.



Ketiga, irhab, yang mengundang kekhawatiran karena bisa membenarkan



kekerasan atas nama agama. Irhab adalah sikap dan tindakan berlebihan karena



dorongan agama atau ideologi.



Idealnya, seorang Muslim harus memahami ajaran Islam secara utuh, hingga



berdampak sosial yang positif bagi dirinya. Alangkah kering dan gersangnya



agama jika aspek eksoterik dalam Islam hanya sebatas legal-formal dan



tekstualistik. Sebuah ayat tentang jihad akan terasa gersang jika



pemahamannya dimonopoli tafsir ”perang mengangkat senjata”. Padahal, jihad



pada masa Rasulullah merupakan wujud pembebasan rakyat untuk menghapus



diskriminasi dan melindungi hak-hak rakyat demi terbangunnya tatanan



masyarakat yang beradab.



Puncak keberagamaan seseorang terletak pada sikap arif dan bijaksana



(al-hikmah). Di sinilah perlunya mengedepankan aspek esoteris Islam. Sisi



ini merupakan pemahaman keislaman yang moderat, serta bentuk dakwah yang



mengedepankan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan ma’rufa



(perkataan yang baik), qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan



layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan baligha (perkataan yang



berbekas pada jiwa), dan qaulan tsaqila (perkataan yang berat). Semua sikap



itu telah diamanatkan dalam Al Quran.



*Said Aqiel Siradj Ketua PBNU*



* *



http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/04/ 02471945/ islam.keras. 
dan.santun



[Non-text portions of this message have been removed]



------------ --------- --------- ------



____________ _________ _________ _________ _________ _________ _



http://www.numesir. org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.



~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~



Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 



kmnu2000-unsubscrib e...@yahoogroups. com 



Yahoo! Groups Links



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke