Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir
Sunday, 13 September 2009 10:46
http://www.hidayatu
llah.com/ index.php? option=com_
content&view=article&id=9236:2009- 09-13-14-
50-13&catid=73:features&Itemid=94
Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of
Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya
seorang supir
Hidayatullah. com—Cai
Mingjie tak pernah berpikir sebelumnya jika kehidupannya berbalik 180%.
Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan
reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan
dari universitas ternama, Stanford University.
Namun
pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB
ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi
sopir taksi.
"Saya
dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di
puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang
hanya bisa saya katakan sebagai "keunikan dari Singapura," ujarnya
dalam sebuah situs blog miliknya.
“Akibatnya,
saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan
nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih
menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga,
" ujar Dr. Cai.
Berita
mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkan masyarakat Singapura, sebuah
negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak
diragukan lagi.
Seorang
pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia
sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang
merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan
abadi.
"Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki
orang-orang biasa seperti kami ini?" tanyanya.
Saya
pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi
tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya
adalah manajer dan insinyur.
Seorang
sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya karena memberikan
penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana
yang harus dihindari. Ternyata ia dulunya seorang pialang saham.
"Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif
menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai.
Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru.
"Saya
mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan
memiliki pengalaman yang diakui dibidang sains..." tulis Dr. Cai dalam
blog nya.
Gelar Doktoral
Kisahnya
Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura
menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu
cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan
nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali jika
bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang.
"Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya," kata seseorang.
Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar,
mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan.
Keluarnya
ia dari pekerjaan lama sebenarnya lebih disebabkan karena alasan
pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian),
dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang
masih bisa bertahan di masa krisis ini.
Kasusnya iitu menjadikan kelemahan umum di bidang R and D (research and
development) Singapura mendapat sorotan.
"Kondisi
ekonomi yang buruk artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar
ilmuwan profesional, " kata seorang peselancar dunia maya. "Gelar
akademik tidak banyak membantu--sejarah membuktikan banyak orang yang
bergelar PhD berburu mencari pekerjaan."
Sementara
citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya
dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk
menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri.
"Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains," kata
seorang blogger.
Seseorang menulis, "Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di
Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih."
Lainnya menambahkan, "Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang
datang ke sini untuk mencari pekerjaan."
"Saya
tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah akhirnya hanya menjadi
sopir taksi," kata seornag ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja.
Kasus
yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya
di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein
pengembang itu, sebenarnya tidak unik.
Ilmuwan
peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang
bisa menghasilkan protein bersinar hijau--dan baru saja gagal meraih
penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama.
Prasher
pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain ketika dana
penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan
beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama.
"Meskipun
demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan
pekerjaan mengendarai minivan-nya, " kata seorang peselancar internet.
Dengan
berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya
pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh
satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang
Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan
hukum atau komputer dengan bisnis.
Sebagian
orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu
khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau
lintas sektor.
"Pengalaman adalah raja," itulah semboyannya sekarang. Dan orang-orang
berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran.
"Di
masa datang, yang dibutuhkan adalah para lulusan dengan keterampilan
yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa
menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda," kata seorang
pengusaha.
Selama beberapa tahun terakhir, di mana globalisasi
semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh
orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya.
Singapura
mengikuti tren di dunia maju, di mana bisnis-bisnis lama bisa hilang
sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang
menjadi masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri.
Saya
mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di
Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia
mengajar.
Seorang
insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang
sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi
atau jurnalis, dan lain sebagainya.
Kasus
di mana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya
dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak.
Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi
bertanya, "Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau
bekerja sebagai pegawai tingkat rendah?"
Di
masa lampau orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus
ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum atau teknik, bidang-bidang
yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang,
dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi.
Seorang
dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja
di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan.
Dr
Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara
Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari
Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung IMCB dua tahun kemudian
dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai
kepergiannya.
Ia
dihentikan dari di Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR
Singapore, tempat di mana dia sudah bekerja selama 16 tahundan tak
dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008.
Menjelang November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi.
Kini,
pria dengan seambrek kurikulum vitaes dan pengalaman universitas,
lembaga pemerintah dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown.
“Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di
Singapura yang masih aktif merekrut orang, " katanya. [di/ts/www.hidayatullah.
com]
[Non-text portions of this message have been removed]