Ass Wr Wb
Setelah memuji Allah azza wajalla, membaca salawat untuk Baginda Muhammad dan
Ahli Baitnya. Saya ingin berterima kasih kpd Sdrku Pak Latif.
Mengenai issue daging babi. Saya dgn beliau pernah berdiskusi, dan akur.
Setelah saya berkunjung ke facebookers Tiong Hoa atau Tionghoa, saya mendapat
kesan ada sebagian saudara dari mereka menganggap bahwa keharaman daging babi
adalah perbedaan akar budaya yang prinsip antara Tionghoa dengan Arab.
Kalau memang ini benar, apa yang dia katakan. Artinya, MAKAN BABI sudah menjadi
adat yang melekat pada kehidupan mereka. Maka hal ini penting untuk disoroti
oleh para ulama dan dai muslimin. Begitu juga hal-hal yang terkait dengan
KERUDUNG / JILBAB dan KHITAN.
Di milist kmnu2000 saya percaya, anggotanya sebagian besar dapat berfikir
kepada hal-hal yang rumit dan pelik. Karena itu saya senang dengan kehadiran
Pak Latif. Karena mengasah kita punya kemampuan. Kalau kita "alergi" dengan
postingan ala Pak Latif, berarti kita harus sering dihadapkan kepada yang lebih
berat lagi. Karena fakta ke-Indonesia-an apalagi kemanusian di dunia lebih
komplek daripada pelajaran-pelajaran yang pernah kita peroleh dari tempat kita
awal/terakhir belajar. Kita tidak bisa puas dengan yang pernah didapat.
Saya sangat bersyukur kepada Allah azza wajalla yang telah menghadirkan Gus
Dur, yang telah memporak-porandakan kemapanan cara berfikir kaum santri, untuk
ditata kembali kepada pola yang lebih siap menghadapi gelombang kemanusiaan
yang terus berubah-ubah.
Kita jangan biasakan hanya berada di lingkungan yang sehari-hari meng "amini"
pikiran kita. Kita perlu sekali-kali hadir ke tempat-tempat yang rawan. Yah,
saya masih sering terkejut-kejut... akibatnya. Normal, sih. Manusiawi. Kemudian
saya mencari cara untuk tidak responsif terlalu cepat. Merenungnya dulu
lama-lama, baru beri jawaban. Tapi sebelum menjawab, saya buat pertanyaan yang
menukik dulu kepada saya, untuk mengetahui kejujuran dan kekuatan dari jawaban
saya itu sendiri. Saya sebut kejujuran. Artinya itulah yang saya percayai dan
sesuai dengan kadar pengetahuan / logika yang dimiliki. Bukan sekedar bunyi.
Sebagai kesimpulan awal terhadap semua issue yang disampaikan Pak Latif, saya
mencukupkan dengan mengatakan sabda Baginda Nabi saww: "Barangsiapa akhir
ucapannya (baca kepercayaannya) LAA ILAAHA ILLALLAAH pasti dia masuk surga".
Baginda tidak menyebutnya "akhir ucapannya HUKUM ISLAM", tidak menyebutnya
"akhir ucapannya KHILAFAH ISLAM", tidak menyebutnya "akhir ucapannya WAJIB
JILBAB"... dan seterusnya.....
Beliau sederhana... dan mencukupkan dengan LAA ILAAHA ILLALLAAH titik.
Dan saya tidak mau memperpanjang kedalam merinci makna kalimat itu sebagaimana
yang "dibuat-buat" para penulis pemaparan kalimat Laa Ilaaha Illallaaah. Karena
saya tidak mau membatasi ni'mat, minnah, fadlol dan rahmat Allah pengasih
penyayang betapapun yang Dia akan berikan kepada hamba-Nya. Karena itu semua
hak prerogatif-Nya. Betapapun semua orang, semua makhluk, semua, semua,
semua.... tetapi semuanya tetap akan terkalahkan oleh hebatnya kasih-sayang
Allah Maha Pengasih Penyayang Pengampun Pemberi.
[Non-text portions of this message have been removed]