Sebetulnya... faktor psikologis teman-teman berbeda... jadi kita harap sabar meninjau "kegatalan" teman-teman dalam berpendapat. Faktor psikologi itu, ya termasuk latar belakang pendidikan yang membiasakan hormat kepada pendapat-pendapat pendahulu, misalnya. Ada juga berlatarbelakang tidak seperti itu.
Karena itu saya berterima kasih kepada yang mau meladeninya dengan sabar, bahkan dengan memberi berbagai argumen yang sesuai dengan pengetahuannya... Yah jadikan saja ajang mengasah argumentasi. Selamat teman-teman ________________________________ From: Rizky Hardyhatmoko <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, January 15, 2010 11:47:02 AM Subject: Re: [kmnu2000] Tanggapan untuk Issue-issue Kontemporer Assalamualaykum, Saya pribadi menyadari adanya perbedaan dan its ok. Tapi yang membuat saya tidak interest adalah kecenderungan untuk menyalahkan buah ijtihad maupun buah pikir ulama yang telah sempat kita taqlidi. Karena sebelum kita beropini mari kita pandang produk fiqh mereka. (Ulama) adalah ijtihad dan bukan opini. Kalau kita mau membandingkan maka tentunya akan lebih bijak kalau kita faham landasan ijtihad para ulama tsb. Artinya sering dalam forum ada upaya hasil ijtihad apalagi ijma mencoba digeser oleh sebuah opini yg dimunculkan oleh pengamat yg latar belakang keislaman maupun keilmuan islamnya belum jelas. Banyak issue juga incomparable, semacam ijtihad/fatwa vs perda-nya amerika. Its ok kalau pengamat tersebut hafal quran dan ribuan hadist, tapi kalau belum, opini hanya tidak ubahnya sebagai infotainment yg hanya menimbulkan keraguan keyakinan awam. Tapi saya terima kasih pada pak abdul latif atas semangatnya. Sayang level saya jauh dibawah seorang Gus Dur, yang bisa memandang kasus ini dari atas dimana saya baru memandangnya dari sisi-sisi secara horizontal relative terhadap kasus ini. Wassalam, Rizky hardyhatmoko Malang Sent from my BlackBerry® powered by Allah swt -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Date: Thu, 14 Jan 2010 18:46:09 To: <[email protected]> Subject: [kmnu2000] Tanggapan untuk Issue-issue Kontemporer Ass Wr Wb Setelah memuji Allah azza wajalla, membaca salawat untuk Baginda Muhammad dan Ahli Baitnya. Saya ingin berterima kasih kpd Sdrku Pak Latif. Mengenai issue daging babi. Saya dgn beliau pernah berdiskusi, dan akur. Setelah saya berkunjung ke facebookers Tiong Hoa atau Tionghoa, saya mendapat kesan ada sebagian saudara dari mereka menganggap bahwa keharaman daging babi adalah perbedaan akar budaya yang prinsip antara Tionghoa dengan Arab. Kalau memang ini benar, apa yang dia katakan. Artinya, MAKAN BABI sudah menjadi adat yang melekat pada kehidupan mereka. Maka hal ini penting untuk disoroti oleh para ulama dan dai muslimin. Begitu juga hal-hal yang terkait dengan KERUDUNG / JILBAB dan KHITAN. Di milist kmnu2000 saya percaya, anggotanya sebagian besar dapat berfikir kepada hal-hal yang rumit dan pelik. Karena itu saya senang dengan kehadiran Pak Latif. Karena mengasah kita punya kemampuan. Kalau kita "alergi" dengan postingan ala Pak Latif, berarti kita harus sering dihadapkan kepada yang lebih berat lagi. Karena fakta ke-Indonesia-an apalagi kemanusian di dunia lebih komplek daripada pelajaran-pelajaran yang pernah kita peroleh dari tempat kita awal/terakhir belajar. Kita tidak bisa puas dengan yang pernah didapat. Saya sangat bersyukur kepada Allah azza wajalla yang telah menghadirkan Gus Dur, yang telah memporak-porandakan kemapanan cara berfikir kaum santri, untuk ditata kembali kepada pola yang lebih siap menghadapi gelombang kemanusiaan yang terus berubah-ubah. Kita jangan biasakan hanya berada di lingkungan yang sehari-hari meng "amini" pikiran kita. Kita perlu sekali-kali hadir ke tempat-tempat yang rawan. Yah, saya masih sering terkejut-kejut... akibatnya. Normal, sih. Manusiawi. Kemudian saya mencari cara untuk tidak responsif terlalu cepat. Merenungnya dulu lama-lama, baru beri jawaban. Tapi sebelum menjawab, saya buat pertanyaan yang menukik dulu kepada saya, untuk mengetahui kejujuran dan kekuatan dari jawaban saya itu sendiri. Saya sebut kejujuran. Artinya itulah yang saya percayai dan sesuai dengan kadar pengetahuan / logika yang dimiliki. Bukan sekedar bunyi. Sebagai kesimpulan awal terhadap semua issue yang disampaikan Pak Latif, saya mencukupkan dengan mengatakan sabda Baginda Nabi saww: "Barangsiapa akhir ucapannya (baca kepercayaannya) LAA ILAAHA ILLALLAAH pasti dia masuk surga". Baginda tidak menyebutnya "akhir ucapannya HUKUM ISLAM", tidak menyebutnya "akhir ucapannya KHILAFAH ISLAM", tidak menyebutnya "akhir ucapannya WAJIB JILBAB"... dan seterusnya..... Beliau sederhana... dan mencukupkan dengan LAA ILAAHA ILLALLAAH titik. Dan saya tidak mau memperpanjang kedalam merinci makna kalimat itu sebagaimana yang "dibuat-buat" para penulis pemaparan kalimat Laa Ilaaha Illallaaah. Karena saya tidak mau membatasi ni'mat, minnah, fadlol dan rahmat Allah pengasih penyayang betapapun yang Dia akan berikan kepada hamba-Nya. Karena itu semua hak prerogatif-Nya. Betapapun semua orang, semua makhluk, semua, semua, semua.... tetapi semuanya tetap akan terkalahkan oleh hebatnya kasih-sayang Allah Maha Pengasih Penyayang Pengampun Pemberi. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed]
