Dari membaca pertanyaan Pak Abdul terhadap Gus Mus
Tentang hal ini, memang betul apa yang diajukan Pak Abdul nabrak-nubruk.
Tapi saya mau coba belajar husnuddhon...
(Nyuwun sewu Gus Mus)
Semoga... kelak Allah membimbing Pak Abdul untuk mendapat hidayah mengenai 
hirarki keilmuan.

Saya coba memulai dari yang Pak Abdul pegang saja. Yaitu Kitab Allah.
Karena dalam banyak postingan, beliau bolehlah disebut dengan golongan 
Kitabiyyun. kalau Quran saja disebut Quraniyyun.
Nah ini sudah ada sejak dulu. Bisa dilihat di karya Imam Assahrostany.

Nah, Pak Abdul memberi celah begini bahwa beliau menyerang manusia-manusia 
setelah Nabi. Ini diketahui dari perkataan beliau: "Apakah kepada 
perawi-perwai, guru-guru..." (sayang dipotong, jadi lengkapnya saya gak tahu)

Artinya beliau meniadakan kepercayaan sedikitpun kepada manusia-manusia itu.


Bukti lainnya, Pak Abdul menulis "bisakah kita digolongan Syrik,kalau kita 
mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2"
Pak Abdul memiliki kepercayaan bahwa "mempercayai orang itu syirik"

Nah sekarang sudah ada 2 point dari Pak Abdul.
(1) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan apa itu makna syirik.
(2) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan bahwa hirarki keilmuan 
mestilah melewati unsur-unsur selain Allah dan Nabi yang disebut 
manusia-manusia, apakah itu sebagai perawi atau guru.

Usul kepada Pak Abdul:
Bagaimana kalau Pak Abdul mendiskripsikan dulu apa itu pemahaman Pak Abdul 
mengenai tema 1 dulu. Yang lengkap, ya Pak.
Baru nanti deskripsikan tema 2. Yang lengkap juga, Pak.

Terima kasih




________________________________
From: Ahmad Ridho <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: abdul <[email protected]>
Sent: Tue, May 25, 2010 12:03:31 AM
Subject: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG JELMAAN ABU LAHAB...

  
Saudara-saudara anggota milist yg masih berakal sehat...
lihat tulisan dibawah ini yang ditulis Almukarram Gus Mus, serta lihat 
tanggapan yg disampaikan Abdul yang sering nyeleneh itu...
Semoga saudara-saudara bisa memahami kenapa sebagian besar anggota milist 
kmnu2000 ini geram dengan tulisan2nya itu...

TELAGA » 
Kajian Tasawuf dan Tafsir
Zakat Fitrah
17 Oktober 2006
21:09:59 |  function fbs_click() 
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+
 
'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
 return false; } 
html .fb_share_button { display: -moz-inline-block; display:inline-block; 
padding:1px 20px 0 5px; height:15px; border:1px solid #d8dfea; 
background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981)
 no-repeat top right; } html .fb_share_button:hover { color:#fff; 
border-color:#295582; background:#3b5998 
url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981) 
no-repeat top right; text-decoration:none; } 
Share

 Oleh: A. Mustofa Bisri

Alangkah Mahamurahnya Allah terhadap hamba-hamba Nya. Ia tidak 
memberikan kita  -hamba hamba Nya- menjadi bulan-bulanan nafsu dan setan
yang dapat menjerumuskan kita kej urang kesengsaraan abadi.Ia menunjukan kepada 
kita jalan yang lurus menuju 
kebahagiaan sejati. Ia bahkan menyediakan waktu khusus untuk kita 
melihatkan diri dan mengokohkan batin dalam rangka menghadapi 
musuh-musuh dalam diri yang ingin menjauhkan kita dari-Nya. 

Allah tidak hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk berpuasa 
melatih ketahanan jiwa kita, namun dengan itu pula Ia menjanjikan 
ampunan, rahmat dan kebebasan dari azab-Nya. Tentunya, kepada mereka 
yang berhasil melalui latihan ini dengan baik. Lebih dari itu, untuk 
lebih menjamin keyakinan keberhasilan perjuangan kita di bulan puasa 
ini, Allah memberi kesempatan kepada kita-yang memang mempunyai watak 
tidak sempurna ini, untuk nambeli kekurangan-kekurangan yang 
mungkin terjadi dalam pelaksanaan puasa kita. Barang kali sesekali, 
sementara mulut kita berpuasa tidak makan tidak minum, kita khilaf tidak
memuasakannya pula dari memakan daging saudara-saudara kita yang tak 
pantas misalnya. 

Kita diberi kesempatan mengeluarkan sebagian bahan makanan kita untuk 
saudara-saudara kita yang berhak lewat zakat fitrah. Disamping makna 
solidaritas yang terkandung dalam zakat fitrah itu, seperti hadis yang 
diriwayatkan oleh Abu Dawud, zakat fitrah juga berfungsi untuk 
membersihkan orang berpuasa dari keterlanjurannya beromong kosong dan 
berkata buruk saat berpuasa. Bahkan menurut hadis riwayat Abu Hafsin bin
Syaahin, puasa Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan hanya 
zakat fitrah yang bisa menaikkannya ke atas. 

Marilah kita menunaikan zakat fitrah untuk menyempurnakan ibadat kita. 
Semoga Allah mengampuni kita, merah mati kita, dan membebaskan kita dari
api neraka. 

KOMENTAR
latifabdul (latif) menulis:
Bismilahirrahmanirrahiim

Asalamu'alaikum wrwb

Saya bertanya kepada Bpk Mustofa Bisri..bisakah kita digolongan 
Syrik,kalau kita mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2 
diatas tadi yang bpk sebutkan? Apakah bisa bpk percaya bahwa itu ucapan 
Rasulullah saw? 

Kenapa bpk bigitu mudah percaya atau beriman kepada orang2 tersebut 
sedangkan Bpk tidak pernah kenal? 

Bagi saya agak susah mempercayai orang2 Arab yang belum saya kenal baik.

Apalagi kalau ALLAH memberitahukan sebagai berikut ini;

.Yaa Tuhan ku sesungguhnya kaumku menjadikan Al quran ini suatu yang 
tidak diacuhkan" (Qs.25;30) (mereka sudah menjadikan buku2 Hadits 
ciptaan manusia sebagai rujukannya.)

23Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kamilah
benar benar memeliharanya (QS.15;9)

4.Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan 
beriman?QS.77;50.

Apakah kepada perawi2, ahli2 hadits, guru2…….?

5.Maka apakah mereka tidak mem perhatikan Al Quran ? Kalau kiranya Al 
Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan 
yang banyak di dalamnya.(QS.4;82).

6. [QS.2/42] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang 
batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu 
mengetahui.

Al Quran adalah suci, sedangkan hadist2 adalah tidak suci, oleh karena 
itu janganlah dicampur adukan al quran dgn hadist2 sebagai Aqidah kita.

Bagaimana menurut Bpk pemebritahuan2 ALLAH ini? mohon pendapat Bpk ,saya
hargai sekali.

Saya hanya beriman kepada hadits2 yang hanya menjelaskan wahyu2 ALLAH 
yang kurang jelas dan wahyu2 ALLAH yang turun kepada nabi2 sebelumnya.

Seperti bersunat,tidak ada di Al Quran tapi ada di taurat dan hadits.Ini
contohnya.

Jadi saya bukan anti sunnah.

Semoga bermanfaat.

([email protected])

wassalamu'alaikum wrwb

hendragst (hendra) menulis:
assalamu 
alaikum

saudaraku Latif (insyaallah masih sedulur dalam Islam karena anda masih 
mengaku bukan inkar hadits/anti sunnah)

ada 2 yang agak nyeleneh dengan pendapat anda di atas:

1) menafsirkan Al Quran dengan maknya yg jelas-jelas gak terkait dengan 
konteksnya. Ini menurut saya yang awam Quran aja loh. Apalagi kalo kita 
bandingin dengan tafsir2 yg muktabar

2) sikap milah milih hadits yang gak konsekuen itu apa toh dasarnya, 
Mas?

seingatan saya sih, Al Quran juga bilang gini (pak kyai mohon dikoreksi 
kalo salah)

1) taati Allah, rasul, dan ulil amr

2) katakan (Ya Muhammad): apabila engkau mencintai Allah ikutilah aku

3) telah ada pada rasul suri tauladan

4) rasul tidak berkata semata dari hawa nafsu

5) rendahkanlah suaramu didekat Rasul

6) dll. banyak lagi

secara logis, Al Quran dan Islam juga sampai ke kita lewat hadits toh. 
Menolak seluruh/sebagian hadit bukan karena kemaudhuannya punya 
konsekuensi: sebagai penyaluran ego pribadi, setiap muslim nanti2 bisa 
bikina shalat/puasa/ibadah/aturan halal haram  ala maunya sendiri nanti 
tanpa landasan ilmu pengetahuan.

mohon maaf kalo ada kata yg tidak berkenan

wassalam

hendragst (hendra) menulis:
Oh iya, soal
orang-orang arab yg tidak dikenal baik itu sebenarnya ada solusinya: 
dalam ilmu rijalul hadits, biografi singkat para perawi itu ada dibahas 
koq bahkan sampai pada karakter pribadinya yg relevan untuk memutuskan 
apa dia bisa dipercaya atau tidak.
a. mustofa bisri (gus mus) menulis:
Wassalamu'alaa
manittaba'alhuda warahmatuLlahi wabarakatuH.

Saudara Abdul Latief; Anda belum menjawab pertanyaan singkat saya yang 
lalu: dari mana Anda tahu Quran? 

Anda --sama dengan saya dan orang-orang sekarang-- jelas tidak hidup di 
zaman Rasululullah SAW. Jadi pastilah kita yang hidup sekarang ini tidak
mungkin mendengar langsung dari Rasulullah apa-apa yang beliau 
sampaikan, baik berupa Quran mau pun hadis2. 

Baik Quran maupun hadis-hadis kita peroleh dari guru-guru kita (yang 
kita percaya). Saya sendiri percaya kepada guru-guru saya yang 
menyampaikan sabda Rasulullah SAW dari guru-guru mereka yang mereka 
percayai. Guru-guru mereka ini dari guru-guru mereka yang dipercayai. 
Demikian seterusnya hingga ke tabi'iin dari guru-guru mereka para 
sahabat. Dan para sahabat dari Rasulullah SAW. Rasulullah dari malaikat 
Jibril. Malaikat Jibril dari Allah Rabbul 'izzah.

Ini antara lain yang membuat saya 'mudah percaya'. Terus terang saya 
akan lebih mudah percaya orang seperti Imam Bukhori yang begitu teliti 
(bahkan membuat syarat-syarat yang ketat untuk mempercayai orang yang 
mengaku mempunyai hadis), begitu mira'i, yang setiap menuliskan hadis 
Rasulullah SAW selalu bersembahyang, memohon ridha Allah; katimbang 
misalnya guru-guru atau buku-buku yang mungkin Anda percayai.

Maaf pikiran Anda agak rancu dari sejak masalah tasalsul, masalah apa 
yang disampaikan Rasulullah SAW, masalah ulama mu'tabar, bahkan masalah 
makna-makna Al-Quran itu sendiri.

Tapi satu hal yang paling mengkhawatirkan. Yaitu sikap hati Anda. Begitu
Anda menyalahkan orang tanpa tabayyun dengan dialog atau diskusi, 
karena merasa Anda benar (sendiri), berarti Anda merasa LEBIH dari hamba
Allah yang  lain. Nau'udzu billah; mudah-mudahan ini bukan kibir.

Wassalam. 
wahyudi (wahyudi) menulis:
Pro : Saudara
Abdul Latief

Walaupun sedikit, saya bisa membaca sifat dan karakter anda berdasarkan 
tulisan yang Saudara buat.

Menurut saya, sebaiknya dalam BELAJAR agama islam melalui GURU/KYAI dan 
BUKAN hanya melalui BUKU. 

inilah kelemahan generasi muda sekarang, banyak bicara tentang ISLAM 
tetapi ternyata kosong tanpa isi, karena belajar tanpa GURU. 

resiko terbesar, orang yang belajar ISLAM tanpa guru tetapi hanya lewat 
BUKU adalah menjadi benar yang salah KAPRAH. artinya hanya mau benar 
sendiri dan jadinya SEPERTI SAUDARA.

wassalam.
teguh firsianto (teguh) menulis:
Assalamu'alaikum
Wr. Wb.

Mohon maaf sekali bila cucu ikut nulis walaupun belepotan.  Hampir 
sebulan saya ndak login ke Gus Mus, Elhadhalah, ada pertanyaan yang 
"orisinil" dari sedulur kita, yang nampaknya Gus Mus bereaksi secara 
"reaktif", maksudnya, Gus menanggapi dengan sangat serius pertanyaan 
Kangmas Latif.  Menurut saya (mohon ampun bila salah!!!), Kangmas Latif 
bertanya berdasarkan usikan hati nurani yang paling dalam.  Beliau 
beralasan untuk curiga karena sekarang ini beliau hidup di alam 
manipulasi media global, dimana semua informasi yangditerima mungkin 
sudah dimanipulasi dan direkayasa, sehingga beliau mengambil prinsip 
seperti James Bond - Trust No One.  Cucu pun sangat memaklumi bila 
Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi juga bersikap reaktif prul atas 
tanggapan Kangmas Latif tersebut.  Tapi yang perlu diingat bahwa Ilmunya
Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi kan sudah lebih tinggi daripada 
Kangmas Latif (Amiin), Gus Mus? Ya gak diitung kalo maen tinggi-tinggian
ilmu, lha wong Gus itu guru kita kok! Alangkah lebih "nggayem" bila 
sejenak kita memposisikan diri kita pada kondisi Kangmas Latif yang 
mungkin tengah gamang atas pencarian identitas aqidah beliau.  Insya 
Allah, kita bisa lebih memahami pertanyaan Kangmas Latif tadi, dan 
Kangmas Hendra serta Kangmas Wahyudi bisa membimbing Kangmas Latif agar 
ilmunya bisa sejajar (Kalau Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi rela 
ilmunya dijejeri lho...).

Tapi teori Cucu tadi hanya dan hanya jika berlaku KALAU Kangmas Latif 
memang sedang masa orientasi aqidah.  Jika pertanyaan Kangmas tadi 
bersifat "ngetes" atau provokasi, artinya teori saya ya bubar....

Jazakallahu khairan katsiira,

Wassalamua'alaikum, Wr. Wb

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke