Wah Mas Dani... memberi inspirasi yang emas.
Semoga Gusti Allah memberkahi njenengan dunia akherat. Aamiin





________________________________
From: arief dani <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, May 28, 2010 10:32:33 AM
Subject: Re: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG perlu pencerahan

  


Berdampingan dengan Kegilaan

tidakkah kamu tahu..

menolak menjawab, adalah jawaban itu sendiri

jawaban kepada seorang yang bodoh adalah DIAM

ya, karena setiap saat kuterima tamparan

dari dunia tak kasat mata

satu tamparan menghantam

dan kita mengambil arah yang lain

ketika terjerambab dalam dunia rendahan

maka dunia itu selalu kumuntahkan kembali

seperti makan makanan yang membuatku mual

jika tak kubuang racun itu

ia akan jadi bagian diriku

di dunia ini tidak ada yang lebih sulit daripada

berdampingan dengan orang gila

Anggap saja kau telah mempelajari sebuah buku,

menghapalnya, membenarkannya dan sepenuhnya mengutipnya,

kemudian seorang yang duduk disampingmu membacanya dengan salah,

dapatkah kamu tahan???. Tidak...!!

Akan tetapi jika kamu tidak pernah membaca buku itu,

tidak ada bedanya bagimu apakah orang lain membaca dengan benar atau salah

Kau tak dapat memberitahukan perbedaannya

JADI..berdampingan dengan orang gila adalah sebuah kedisiplinan yang besar

untuk tidak marah, untuk tidak menjawab adalah sebuah pilihan

--- On Wed, 5/26/10, sofwan nadi <[email protected]> wrote:

From: sofwan nadi <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG perlu pencerahan
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 26, 2010, 3:02 AM

 

Dari membaca pertanyaan Pak Abdul terhadap Gus Mus

Tentang hal ini, memang betul apa yang diajukan Pak Abdul nabrak-nubruk.

Tapi saya mau coba belajar husnuddhon...

(Nyuwun sewu Gus Mus)

Semoga... kelak Allah membimbing Pak Abdul untuk mendapat hidayah mengenai 
hirarki keilmuan.

Saya coba memulai dari yang Pak Abdul pegang saja. Yaitu Kitab Allah.

Karena dalam banyak postingan, beliau bolehlah disebut dengan golongan 
Kitabiyyun. kalau Quran saja disebut Quraniyyun.

Nah ini sudah ada sejak dulu. Bisa dilihat di karya Imam Assahrostany.

Nah, Pak Abdul memberi celah begini bahwa beliau menyerang manusia-manusia 
setelah Nabi. Ini diketahui dari perkataan beliau: "Apakah kepada 
perawi-perwai, guru-guru..." (sayang dipotong, jadi lengkapnya saya gak tahu)

Artinya beliau meniadakan kepercayaan sedikitpun kepada manusia-manusia itu.

Bukti lainnya, Pak Abdul menulis "bisakah kita digolongan Syrik,kalau kita 
mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2"

Pak Abdul memiliki kepercayaan bahwa "mempercayai orang itu syirik"

Nah sekarang sudah ada 2 point dari Pak Abdul.

(1) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan apa itu makna syirik.

(2) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan bahwa hirarki keilmuan 
mestilah melewati unsur-unsur selain Allah dan Nabi yang disebut 
manusia-manusia, apakah itu sebagai perawi atau guru.

Usul kepada Pak Abdul:

Bagaimana kalau Pak Abdul mendiskripsikan dulu apa itu pemahaman Pak Abdul 
mengenai tema 1 dulu. Yang lengkap, ya Pak.

Baru nanti deskripsikan tema 2. Yang lengkap juga, Pak.

Terima kasih

________________________________

From: Ahmad Ridho <[email protected]>

To: [email protected]

Cc: abdul <[email protected]>

Sent: Tue, May 25, 2010 12:03:31 AM

Subject: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG JELMAAN ABU LAHAB...

Saudara-saudara anggota milist yg masih berakal sehat...

lihat tulisan dibawah ini yang ditulis Almukarram Gus Mus, serta lihat 
tanggapan yg disampaikan Abdul yang sering nyeleneh itu...

Semoga saudara-saudara bisa memahami kenapa sebagian besar anggota milist 
kmnu2000 ini geram dengan tulisan2nya itu...

TELAGA » 

Kajian Tasawuf dan Tafsir

Zakat Fitrah

17 Oktober 2006

21:09:59 |  function fbs_click() 
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+
 
'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
 return false; } 

html .fb_share_button { display: -moz-inline-block; display:inline-block; 
padding:1px 20px 0 5px; height:15px; border:1px solid #d8dfea; 
background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981)
 no-repeat top right; } html .fb_share_button:hover { color:#fff; 
border-color:#295582; background:#3b5998 
url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981) 
no-repeat top right; text-decoration:none; } 

Share

Oleh: A. Mustofa Bisri

Alangkah Mahamurahnya Allah terhadap hamba-hamba Nya. Ia tidak 

memberikan kita  -hamba hamba Nya- menjadi bulan-bulanan nafsu dan setan

yang dapat menjerumuskan kita kej urang kesengsaraan abadi.Ia menunjukan kepada 
kita jalan yang lurus menuju 

kebahagiaan sejati. Ia bahkan menyediakan waktu khusus untuk kita 

melihatkan diri dan mengokohkan batin dalam rangka menghadapi 

musuh-musuh dalam diri yang ingin menjauhkan kita dari-Nya. 

Allah tidak hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk berpuasa 

melatih ketahanan jiwa kita, namun dengan itu pula Ia menjanjikan 

ampunan, rahmat dan kebebasan dari azab-Nya. Tentunya, kepada mereka 

yang berhasil melalui latihan ini dengan baik. Lebih dari itu, untuk 

lebih menjamin keyakinan keberhasilan perjuangan kita di bulan puasa 

ini, Allah memberi kesempatan kepada kita-yang memang mempunyai watak 

tidak sempurna ini, untuk nambeli kekurangan-kekurangan yang 

mungkin terjadi dalam pelaksanaan puasa kita. Barang kali sesekali, 

sementara mulut kita berpuasa tidak makan tidak minum, kita khilaf tidak

memuasakannya pula dari memakan daging saudara-saudara kita yang tak 

pantas misalnya. 

Kita diberi kesempatan mengeluarkan sebagian bahan makanan kita untuk 

saudara-saudara kita yang berhak lewat zakat fitrah. Disamping makna 

solidaritas yang terkandung dalam zakat fitrah itu, seperti hadis yang 

diriwayatkan oleh Abu Dawud, zakat fitrah juga berfungsi untuk 

membersihkan orang berpuasa dari keterlanjurannya beromong kosong dan 

berkata buruk saat berpuasa. Bahkan menurut hadis riwayat Abu Hafsin bin

Syaahin, puasa Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan hanya 

zakat fitrah yang bisa menaikkannya ke atas. 

Marilah kita menunaikan zakat fitrah untuk menyempurnakan ibadat kita. 

Semoga Allah mengampuni kita, merah mati kita, dan membebaskan kita dari

api neraka. 

KOMENTAR

latifabdul (latif) menulis:

Bismilahirrahmanirrahiim

Asalamu'alaikum wrwb

Saya bertanya kepada Bpk Mustofa Bisri..bisakah kita digolongan 

Syrik,kalau kita mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2 

diatas tadi yang bpk sebutkan? Apakah bisa bpk percaya bahwa itu ucapan 

Rasulullah saw? 

Kenapa bpk bigitu mudah percaya atau beriman kepada orang2 tersebut 

sedangkan Bpk tidak pernah kenal? 

Bagi saya agak susah mempercayai orang2 Arab yang belum saya kenal baik.

Apalagi kalau ALLAH memberitahukan sebagai berikut ini;

.Yaa Tuhan ku sesungguhnya kaumku menjadikan Al quran ini suatu yang 

tidak diacuhkan" (Qs.25;30) (mereka sudah menjadikan buku2 Hadits 

ciptaan manusia sebagai rujukannya.)

23Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kamilah

benar benar memeliharanya (QS.15;9)

4.Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan 

beriman?QS.77;50.

Apakah kepada perawi2, ahli2 hadits, guru2…….?

5.Maka apakah mereka tidak mem perhatikan Al Quran ? Kalau kiranya Al 

Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan 

yang banyak di dalamnya.(QS.4;82).

6. [QS.2/42] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang 

batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu 

mengetahui.

Al Quran adalah suci, sedangkan hadist2 adalah tidak suci, oleh karena 

itu janganlah dicampur adukan al quran dgn hadist2 sebagai Aqidah kita.

Bagaimana menurut Bpk pemebritahuan2 ALLAH ini? mohon pendapat Bpk ,saya

hargai sekali.

Saya hanya beriman kepada hadits2 yang hanya menjelaskan wahyu2 ALLAH 

yang kurang jelas dan wahyu2 ALLAH yang turun kepada nabi2 sebelumnya.

Seperti bersunat,tidak ada di Al Quran tapi ada di taurat dan hadits.Ini

contohnya.

Jadi saya bukan anti sunnah.

Semoga bermanfaat.

([email protected])

wassalamu'alaikum wrwb

hendragst (hendra) menulis:

assalamu 

alaikum

saudaraku Latif (insyaallah masih sedulur dalam Islam karena anda masih 

mengaku bukan inkar hadits/anti sunnah)

ada 2 yang agak nyeleneh dengan pendapat anda di atas:

1) menafsirkan Al Quran dengan maknya yg jelas-jelas gak terkait dengan 

konteksnya. Ini menurut saya yang awam Quran aja loh. Apalagi kalo kita 

bandingin dengan tafsir2 yg muktabar

2) sikap milah milih hadits yang gak konsekuen itu apa toh dasarnya, 

Mas?

seingatan saya sih, Al Quran juga bilang gini (pak kyai mohon dikoreksi 

kalo salah)

1) taati Allah, rasul, dan ulil amr

2) katakan (Ya Muhammad): apabila engkau mencintai Allah ikutilah aku

3) telah ada pada rasul suri tauladan

4) rasul tidak berkata semata dari hawa nafsu

5) rendahkanlah suaramu didekat Rasul

6) dll. banyak lagi

secara logis, Al Quran dan Islam juga sampai ke kita lewat hadits toh. 

Menolak seluruh/sebagian hadit bukan karena kemaudhuannya punya 

konsekuensi: sebagai penyaluran ego pribadi, setiap muslim nanti2 bisa 

bikina shalat/puasa/ibadah/aturan halal haram  ala maunya sendiri nanti 

tanpa landasan ilmu pengetahuan.

mohon maaf kalo ada kata yg tidak berkenan

wassalam

hendragst (hendra) menulis:

Oh iya, soal

orang-orang arab yg tidak dikenal baik itu sebenarnya ada solusinya: 

dalam ilmu rijalul hadits, biografi singkat para perawi itu ada dibahas 

koq bahkan sampai pada karakter pribadinya yg relevan untuk memutuskan 

apa dia bisa dipercaya atau tidak.

a. mustofa bisri (gus mus) menulis:

Wassalamu'alaa

manittaba'alhuda warahmatuLlahi wabarakatuH.

Saudara Abdul Latief; Anda belum menjawab pertanyaan singkat saya yang 

lalu: dari mana Anda tahu Quran? 

Anda --sama dengan saya dan orang-orang sekarang-- jelas tidak hidup di 

zaman Rasululullah SAW. Jadi pastilah kita yang hidup sekarang ini tidak

mungkin mendengar langsung dari Rasulullah apa-apa yang beliau 

sampaikan, baik berupa Quran mau pun hadis2. 

Baik Quran maupun hadis-hadis kita peroleh dari guru-guru kita (yang 

kita percaya). Saya sendiri percaya kepada guru-guru saya yang 

menyampaikan sabda Rasulullah SAW dari guru-guru mereka yang mereka 

percayai. Guru-guru mereka ini dari guru-guru mereka yang dipercayai. 

Demikian seterusnya hingga ke tabi'iin dari guru-guru mereka para 

sahabat. Dan para sahabat dari Rasulullah SAW. Rasulullah dari malaikat 

Jibril. Malaikat Jibril dari Allah Rabbul 'izzah.

Ini antara lain yang membuat saya 'mudah percaya'. Terus terang saya 

akan lebih mudah percaya orang seperti Imam Bukhori yang begitu teliti 

(bahkan membuat syarat-syarat yang ketat untuk mempercayai orang yang 

mengaku mempunyai hadis), begitu mira'i, yang setiap menuliskan hadis 

Rasulullah SAW selalu bersembahyang, memohon ridha Allah; katimbang 

misalnya guru-guru atau buku-buku yang mungkin Anda percayai.

Maaf pikiran Anda agak rancu dari sejak masalah tasalsul, masalah apa 

yang disampaikan Rasulullah SAW, masalah ulama mu'tabar, bahkan masalah 

makna-makna Al-Quran itu sendiri.

Tapi satu hal yang paling mengkhawatirkan. Yaitu sikap hati Anda. Begitu

Anda menyalahkan orang tanpa tabayyun dengan dialog atau diskusi, 

karena merasa Anda benar (sendiri), berarti Anda merasa LEBIH dari hamba

Allah yang  lain. Nau'udzu billah; mudah-mudahan ini bukan kibir.

Wassalam. 

wahyudi (wahyudi) menulis:

Pro : Saudara

Abdul Latief

Walaupun sedikit, saya bisa membaca sifat dan karakter anda berdasarkan 

tulisan yang Saudara buat.

Menurut saya, sebaiknya dalam BELAJAR agama islam melalui GURU/KYAI dan 

BUKAN hanya melalui BUKU. 

inilah kelemahan generasi muda sekarang, banyak bicara tentang ISLAM 

tetapi ternyata kosong tanpa isi, karena belajar tanpa GURU. 

resiko terbesar, orang yang belajar ISLAM tanpa guru tetapi hanya lewat 

BUKU adalah menjadi benar yang salah KAPRAH. artinya hanya mau benar 

sendiri dan jadinya SEPERTI SAUDARA.

wassalam.

teguh firsianto (teguh) menulis:

Assalamu'alaikum

Wr. Wb.

Mohon maaf sekali bila cucu ikut nulis walaupun belepotan.  Hampir 

sebulan saya ndak login ke Gus Mus, Elhadhalah, ada pertanyaan yang 

"orisinil" dari sedulur kita, yang nampaknya Gus Mus bereaksi secara 

"reaktif", maksudnya, Gus menanggapi dengan sangat serius pertanyaan 

Kangmas Latif.  Menurut saya (mohon ampun bila salah!!!), Kangmas Latif 

bertanya berdasarkan usikan hati nurani yang paling dalam.  Beliau 

beralasan untuk curiga karena sekarang ini beliau hidup di alam 

manipulasi media global, dimana semua informasi yangditerima mungkin 

sudah dimanipulasi dan direkayasa, sehingga beliau mengambil prinsip 

seperti James Bond - Trust No One.  Cucu pun sangat memaklumi bila 

Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi juga bersikap reaktif prul atas 

tanggapan Kangmas Latif tersebut.  Tapi yang perlu diingat bahwa Ilmunya

Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi kan sudah lebih tinggi daripada 

Kangmas Latif (Amiin), Gus Mus? Ya gak diitung kalo maen tinggi-tinggian

ilmu, lha wong Gus itu guru kita kok! Alangkah lebih "nggayem" bila 

sejenak kita memposisikan diri kita pada kondisi Kangmas Latif yang 

mungkin tengah gamang atas pencarian identitas aqidah beliau.  Insya 

Allah, kita bisa lebih memahami pertanyaan Kangmas Latif tadi, dan 

Kangmas Hendra serta Kangmas Wahyudi bisa membimbing Kangmas Latif agar 

ilmunya bisa sejajar (Kalau Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi rela 

ilmunya dijejeri lho...).

Tapi teori Cucu tadi hanya dan hanya jika berlaku KALAU Kangmas Latif 

memang sedang masa orientasi aqidah.  Jika pertanyaan Kangmas tadi 

bersifat "ngetes" atau provokasi, artinya teori saya ya bubar....

Jazakallahu khairan katsiira,

Wassalamua'alaikum, Wr. Wb

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke