Dari sebelah:

----- Forwarded Message ----
From: mohamad hayin <[email protected]>
To: Daarut- tauhiid <[email protected]>
Sent: Fri, 
May 28, 2010 2:28:01 AM
Subject: [daarut-tauhiid] Shalahuddin Al-Ayyubi: Macan Perang Salib

  
Shalahuddin Al-Ayyubi: Macan Perang Salib

Shalahuddin Al-Ayyubi sebenarnya hanya nama julukan dari Yusuf bin 
Najmuddin. Shalahuddin merupakan nama gelarnya, sedangkan al-Ayyubi 
nisbah keluarganya. Beliau sendiri dilahirkan pada tahun 532 H/ 1138 M 
di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq.

Sejak kecil Shalahuddin sudah mengenal kerasnya kehidupan. Pada usia 14 
tahun, Shalahuddin ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara 
Sultan Nuruddin, penguasa Suriah waktu itu. Karenan memang pemberani, 
pangkatnya naik setelah tentara Zangi yang dipimpin oleh pamannya 
sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur pasukan Salib (crusaders) dari 
perbatasan Mesir dalam serangkaian pertempuran.

Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi panglima dan gubernur 
(wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan 
pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir, 
Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis 
dari cengkeraman tentara Salib.

Shalahuddin terkenal sebagai penguasayang menunaikan kebenaran—bahkan 
memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tepat pada bulan September 
1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan 
patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Belom cukup sampai di 
situ, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin 
melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia. Satu 
persatu wilayah penting berhasil dikuasinya: Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo 
atau Halb (1138) dan Mosul (1186).

Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh 
Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya 
Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi 
dan Nasrani hidup 
rukun dan damai di Suriah dan Palestina. Mereka bebas dan aman 
menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut.

Perang Salib 

Namun kerukunan yang telah berlangsung selama lebih 460 tahun itu 
kemudian porak-poranda akibat berbagai hasutan dan fitnah yang 
digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite. Provokator ini 
berhasil mengobarkan semangat Paus Urbanus yang lantas mengirim ratusan ribu 
orang ke Yerusalem untuk Perang Salib Pertama. Kota suci ini 
berhasil mereka rebut pada tahun 1099. Ratusan ribu orang Islam dibunuh 
dengan kejam dan biadab, sebagaimana mereka akui sendiri: “In Solomon’s 
Porch and in his temple, our men rode in the blood of the Saracens up to the 
knees of their horses.”

Menyadari betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi ummat Islam dan 
mendengar kezaliman orang-orang Kristen di sana, maka pada tahun 1187 
Shalahuddin memimpin serangan ke Yerusalem. Orang Kristen mencatatnya 
sebagai Perang Salib ke-2. Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan 
tentara Kristen dalam sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 July 
1187. Dua bulan 
kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil direbut 
kembali.

Berita jatuhnya Yerusalem menggegerkan seluruh dunia Kristen dan Eropa 
khususnya. Pada tahun 1189 tentara Kristen melancarkan serangan balik 
(Perang Salib ke-3), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick 
Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard ‘the 
Lion Heart’.

Perang berlangsung cukup lama. Baitul Maqdis berhasil dipertahankan, dan 
gencatan senjata akhirnya disepakati oleh kedua-belah pihak. Pada tahun 1192 
Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang 
isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua: daerah pesisir Laut Tengah bagi 
orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam; namun demikian 
kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan aman.

Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Shalahuddin menghembuskan 
nafasnya yang terakhir. Ketika meninggal dunia di Damaskus, Shalahuddin 
tidak memiliki harta benda yang berarti. Padahal beliau adalah seorang 
pemimpin. Tapi hal baik yang ditinggalkan oleh orang baik selalu akan 
menjadi bagian kehidupan selamanya. Kontribusinya buat Islam sungguh 
tidak pernah bisa diukur dengan apapun di dunia ini.

Parcel untuk Musuh 

Banyak kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang 
layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. 
Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk 
Raja Richard yang saat itu jatuh sakit.

Ketika menaklukkan Kairo, ia tidak serta-merta mengusir keluarga Dinasti 
Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka 
wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan 
mereka. Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat 
dibolehkan tinggal di kawasan yang dahulunya khusus untuk para bangsawan Bani 
Fatimiyyah. Di Kairo, ia bukan hanya membangun masjid dan benteng, tapi juga 
sekolah, rumah-sakit dan bahkan gereja.

Shalahuddin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara‘. Ia tidak 
pernah meninggalkan salat fardu dan gemar salat berjamaah. Bahkan ketika sakit 
keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya berbuka. “Aku 
tidak tahu bila ajal akan menemuiku,” katanya.

Shalahuddin amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari 
Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja 
yang memerlukan bantuannya. Ia tidka nepotis atau pilih kasih. Pernah 
seorang lelaki mengadukan perihal keponakannya, Taqiyyuddin. Shalahuddin 
langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan.

Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun 
tuduhan tersebut terbukti tidak berdasar sama sekali, Shalahuddin tidak 
marah. Ia bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah 
dan beberapa pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang 
dimilikinya dan memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya 
tamu-tamunya.

Ia juga dikenal sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. 
Pernah ketika ia sangat kehausan dan minta dibawakan segelas air, 
pembantunya menyuguhkan air yang agak panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia 
terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya 
yang selalu dikenang: “Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja.” 
(sa/ind/berbagaisumber)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke