Iya waktu itu tugasnya saya ngumpet he3x... beruntunglah Indonesia punya PBNU
salam untuk mas aji dan mas sofwan, ini kan cuma kata2nya para guru2 sufi

Saya jadi teringat ucapan Sayidina Abu Bakar ra :

Ketika beliau dipuji oleh orang-orang, beliau akan berdo’a kepada Allah 
swt dan berkata, “Ya Allah, Engkau mengenalku lebih baik dari diriku 
sendiri, dan Aku lebih mengenal diriku daripada orang-orang yang 
memujiku.  Jadikanlah Aku lebih baik daripada yang dipikirkan oleh 
orang-orang ini mengenai diriku, Ya Allah maafkanlah dosa-dosaku yang tidak 
mereka ketahui, dan janganlah jadikan Aku bertanggung jawab atas apa 
yang mereka katakan.” 

Wa min Allah at Tawfiq

--- On Fri, 5/28/10, Aji Hermawan <[email protected]> wrote:

From: Aji Hermawan <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG perlu pencerahan
To: [email protected]
Date: Friday, May 28, 2010, 12:21 AM







 



  


    
      
      
      Luar biasa Mas.


 


Waktu Syaikh Hisyam dan rombongan ke PBNU, sampeyan saya tunggu-tunggu kok 
nggak ikut?





Salam


Aji





Powered by RAMP-IPB®





-----Original Message-----


From: arief dani <[email protected]>


Sender: [email protected]


Date: Fri, 28 May 2010 10:32:33 


To: <[email protected]>


Reply-To: [email protected]


Subject: Re: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG perlu pencerahan











Berdampingan dengan Kegilaan











tidakkah kamu tahu..





menolak menjawab, adalah jawaban itu sendiri





jawaban kepada seorang yang bodoh adalah DIAM











ya, karena setiap saat kuterima tamparan





dari dunia tak kasat mata





satu tamparan menghantam





dan kita mengambil arah yang lain











ketika terjerambab dalam dunia rendahan





maka dunia itu selalu kumuntahkan kembali





seperti makan makanan yang membuatku mual





jika tak kubuang racun itu





ia akan jadi bagian diriku











di dunia ini tidak ada yang lebih sulit daripada





berdampingan dengan orang gila











Anggap saja kau telah mempelajari sebuah buku,





menghapalnya, membenarkannya dan sepenuhnya mengutipnya,





kemudian seorang yang duduk disampingmu membacanya dengan salah,





dapatkah kamu tahan???. Tidak...!!











Akan tetapi jika kamu tidak pernah membaca buku itu,





tidak ada bedanya bagimu apakah orang lain membaca dengan benar atau salah





Kau tak dapat memberitahukan perbedaannya





JADI..berdampingan dengan orang gila adalah sebuah kedisiplinan yang besar





untuk tidak marah, untuk tidak menjawab adalah sebuah pilihan











--- On Wed, 5/26/10, sofwan nadi <[email protected]> wrote:





From: sofwan nadi <[email protected]>


Subject: Re: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG perlu pencerahan


To: [email protected]


Date: Wednesday, May 26, 2010, 3:02 AM























 











  








    


      


      


      Dari membaca pertanyaan Pak Abdul terhadap Gus Mus





Tentang hal ini, memang betul apa yang diajukan Pak Abdul nabrak-nubruk.





Tapi saya mau coba belajar husnuddhon...





(Nyuwun sewu Gus Mus)





Semoga... kelak Allah membimbing Pak Abdul untuk mendapat hidayah mengenai 
hirarki keilmuan.











Saya coba memulai dari yang Pak Abdul pegang saja. Yaitu Kitab Allah.





Karena dalam banyak postingan, beliau bolehlah disebut dengan golongan 
Kitabiyyun. kalau Quran saja disebut Quraniyyun.





Nah ini sudah ada sejak dulu. Bisa dilihat di karya Imam Assahrostany.











Nah, Pak Abdul memberi celah begini bahwa beliau menyerang manusia-manusia 
setelah Nabi. Ini diketahui dari perkataan beliau: "Apakah kepada 
perawi-perwai, guru-guru..." (sayang dipotong, jadi lengkapnya saya gak tahu)











Artinya beliau meniadakan kepercayaan sedikitpun kepada manusia-manusia itu.











Bukti lainnya, Pak Abdul menulis "bisakah kita digolongan Syrik,kalau kita 
mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2"





Pak Abdul memiliki kepercayaan bahwa "mempercayai orang itu syirik"











Nah sekarang sudah ada 2 point dari Pak Abdul.





(1) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan apa itu makna syirik.





(2) Pak Abdul masih memerlukan diskusi dan pencerahan bahwa hirarki keilmuan 
mestilah melewati unsur-unsur selain Allah dan Nabi yang disebut 
manusia-manusia, apakah itu sebagai perawi atau guru.











Usul kepada Pak Abdul:





Bagaimana kalau Pak Abdul mendiskripsikan dulu apa itu pemahaman Pak Abdul 
mengenai tema 1 dulu. Yang lengkap, ya Pak.





Baru nanti deskripsikan tema 2. Yang lengkap juga, Pak.











Terima kasih











________________________________





From: Ahmad Ridho <[email protected]>





To: [email protected]





Cc: abdul <[email protected]>





Sent: Tue, May 25, 2010 12:03:31 AM





Subject: [kmnu2000] TERNYATA ABDUL MEMANG JELMAAN ABU LAHAB...











Saudara-saudara anggota milist yg masih berakal sehat...





lihat tulisan dibawah ini yang ditulis Almukarram Gus Mus, serta lihat 
tanggapan yg disampaikan Abdul yang sering nyeleneh itu...





Semoga saudara-saudara bisa memahami kenapa sebagian besar anggota milist 
kmnu2000 ini geram dengan tulisan2nya itu...











TELAGA » 





Kajian Tasawuf dan Tafsir





Zakat Fitrah





17 Oktober 2006





21:09:59 |  function fbs_click() 
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+
 
'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
 return false; } 





html .fb_share_button { display: -moz-inline-block; display:inline-block; 
padding:1px 20px 0 5px; height:15px; border:1px solid #d8dfea; 
background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981)
 no-repeat top right; } html .fb_share_button:hover { color:#fff; 
border-color:#295582; background:#3b5998 
url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?8:26981) 
no-repeat top right; text-decoration:none; } 





Share











Oleh: A. Mustofa Bisri











Alangkah Mahamurahnya Allah terhadap hamba-hamba Nya. Ia tidak 





memberikan kita  -hamba hamba Nya- menjadi bulan-bulanan nafsu dan setan





yang dapat menjerumuskan kita kej urang kesengsaraan abadi.Ia menunjukan kepada 
kita jalan yang lurus menuju 





kebahagiaan sejati. Ia bahkan menyediakan waktu khusus untuk kita 





melihatkan diri dan mengokohkan batin dalam rangka menghadapi 





musuh-musuh dalam diri yang ingin menjauhkan kita dari-Nya. 











Allah tidak hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk berpuasa 





melatih ketahanan jiwa kita, namun dengan itu pula Ia menjanjikan 





ampunan, rahmat dan kebebasan dari azab-Nya. Tentunya, kepada mereka 





yang berhasil melalui latihan ini dengan baik. Lebih dari itu, untuk 





lebih menjamin keyakinan keberhasilan perjuangan kita di bulan puasa 





ini, Allah memberi kesempatan kepada kita-yang memang mempunyai watak 





tidak sempurna ini, untuk nambeli kekurangan-kekurangan yang 





mungkin terjadi dalam pelaksanaan puasa kita. Barang kali sesekali, 





sementara mulut kita berpuasa tidak makan tidak minum, kita khilaf tidak





memuasakannya pula dari memakan daging saudara-saudara kita yang tak 





pantas misalnya. 











Kita diberi kesempatan mengeluarkan sebagian bahan makanan kita untuk 





saudara-saudara kita yang berhak lewat zakat fitrah. Disamping makna 





solidaritas yang terkandung dalam zakat fitrah itu, seperti hadis yang 





diriwayatkan oleh Abu Dawud, zakat fitrah juga berfungsi untuk 





membersihkan orang berpuasa dari keterlanjurannya beromong kosong dan 





berkata buruk saat berpuasa. Bahkan menurut hadis riwayat Abu Hafsin bin





Syaahin, puasa Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan hanya 





zakat fitrah yang bisa menaikkannya ke atas. 











Marilah kita menunaikan zakat fitrah untuk menyempurnakan ibadat kita. 





Semoga Allah mengampuni kita, merah mati kita, dan membebaskan kita dari





api neraka. 











KOMENTAR





latifabdul (latif) menulis:





Bismilahirrahmanirrahiim











Asalamu'alaikum wrwb











Saya bertanya kepada Bpk Mustofa Bisri..bisakah kita digolongan 





Syrik,kalau kita mengambil rujukan,aqidah kita beragama kepada perawi2 





diatas tadi yang bpk sebutkan? Apakah bisa bpk percaya bahwa itu ucapan 





Rasulullah saw? 











Kenapa bpk bigitu mudah percaya atau beriman kepada orang2 tersebut 





sedangkan Bpk tidak pernah kenal? 











Bagi saya agak susah mempercayai orang2 Arab yang belum saya kenal baik.











Apalagi kalau ALLAH memberitahukan sebagai berikut ini;











.Yaa Tuhan ku sesungguhnya kaumku menjadikan Al quran ini suatu yang 





tidak diacuhkan" (Qs.25;30) (mereka sudah menjadikan buku2 Hadits 





ciptaan manusia sebagai rujukannya.)











23Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kamilah





benar benar memeliharanya (QS.15;9)











4.Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan 





beriman?QS.77;50.











Apakah kepada perawi2, ahli2 hadits, guru2…….?











5.Maka apakah mereka tidak mem perhatikan Al Quran ? Kalau kiranya Al 





Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan 





yang banyak di dalamnya.(QS.4;82).











6. [QS.2/42] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang 





batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu 





mengetahui.











Al Quran adalah suci, sedangkan hadist2 adalah tidak suci, oleh karena 





itu janganlah dicampur adukan al quran dgn hadist2 sebagai Aqidah kita.











Bagaimana menurut Bpk pemebritahuan2 ALLAH ini? mohon pendapat Bpk ,saya





hargai sekali.











Saya hanya beriman kepada hadits2 yang hanya menjelaskan wahyu2 ALLAH 





yang kurang jelas dan wahyu2 ALLAH yang turun kepada nabi2 sebelumnya.











Seperti bersunat,tidak ada di Al Quran tapi ada di taurat dan hadits.Ini





contohnya.











Jadi saya bukan anti sunnah.











Semoga bermanfaat.











([email protected])











wassalamu'alaikum wrwb











hendragst (hendra) menulis:





assalamu 





alaikum











saudaraku Latif (insyaallah masih sedulur dalam Islam karena anda masih 





mengaku bukan inkar hadits/anti sunnah)











ada 2 yang agak nyeleneh dengan pendapat anda di atas:











1) menafsirkan Al Quran dengan maknya yg jelas-jelas gak terkait dengan 





konteksnya. Ini menurut saya yang awam Quran aja loh. Apalagi kalo kita 





bandingin dengan tafsir2 yg muktabar











2) sikap milah milih hadits yang gak konsekuen itu apa toh dasarnya, 





Mas?











seingatan saya sih, Al Quran juga bilang gini (pak kyai mohon dikoreksi 





kalo salah)











1) taati Allah, rasul, dan ulil amr











2) katakan (Ya Muhammad): apabila engkau mencintai Allah ikutilah aku











3) telah ada pada rasul suri tauladan











4) rasul tidak berkata semata dari hawa nafsu











5) rendahkanlah suaramu didekat Rasul











6) dll. banyak lagi











secara logis, Al Quran dan Islam juga sampai ke kita lewat hadits toh. 





Menolak seluruh/sebagian hadit bukan karena kemaudhuannya punya 





konsekuensi: sebagai penyaluran ego pribadi, setiap muslim nanti2 bisa 





bikina shalat/puasa/ibadah/aturan halal haram  ala maunya sendiri nanti 





tanpa landasan ilmu pengetahuan.











mohon maaf kalo ada kata yg tidak berkenan











wassalam











hendragst (hendra) menulis:





Oh iya, soal





orang-orang arab yg tidak dikenal baik itu sebenarnya ada solusinya: 





dalam ilmu rijalul hadits, biografi singkat para perawi itu ada dibahas 





koq bahkan sampai pada karakter pribadinya yg relevan untuk memutuskan 





apa dia bisa dipercaya atau tidak.





a. mustofa bisri (gus mus) menulis:





Wassalamu'alaa





manittaba'alhuda warahmatuLlahi wabarakatuH.











Saudara Abdul Latief; Anda belum menjawab pertanyaan singkat saya yang 





lalu: dari mana Anda tahu Quran? 











Anda --sama dengan saya dan orang-orang sekarang-- jelas tidak hidup di 





zaman Rasululullah SAW. Jadi pastilah kita yang hidup sekarang ini tidak





mungkin mendengar langsung dari Rasulullah apa-apa yang beliau 





sampaikan, baik berupa Quran mau pun hadis2. 











Baik Quran maupun hadis-hadis kita peroleh dari guru-guru kita (yang 





kita percaya). Saya sendiri percaya kepada guru-guru saya yang 





menyampaikan sabda Rasulullah SAW dari guru-guru mereka yang mereka 





percayai. Guru-guru mereka ini dari guru-guru mereka yang dipercayai. 





Demikian seterusnya hingga ke tabi'iin dari guru-guru mereka para 





sahabat. Dan para sahabat dari Rasulullah SAW. Rasulullah dari malaikat 





Jibril. Malaikat Jibril dari Allah Rabbul 'izzah.











Ini antara lain yang membuat saya 'mudah percaya'. Terus terang saya 





akan lebih mudah percaya orang seperti Imam Bukhori yang begitu teliti 





(bahkan membuat syarat-syarat yang ketat untuk mempercayai orang yang 





mengaku mempunyai hadis), begitu mira'i, yang setiap menuliskan hadis 





Rasulullah SAW selalu bersembahyang, memohon ridha Allah; katimbang 





misalnya guru-guru atau buku-buku yang mungkin Anda percayai.











Maaf pikiran Anda agak rancu dari sejak masalah tasalsul, masalah apa 





yang disampaikan Rasulullah SAW, masalah ulama mu'tabar, bahkan masalah 





makna-makna Al-Quran itu sendiri.











Tapi satu hal yang paling mengkhawatirkan. Yaitu sikap hati Anda. Begitu





Anda menyalahkan orang tanpa tabayyun dengan dialog atau diskusi, 





karena merasa Anda benar (sendiri), berarti Anda merasa LEBIH dari hamba





Allah yang  lain. Nau'udzu billah; mudah-mudahan ini bukan kibir.











Wassalam. 





wahyudi (wahyudi) menulis:





Pro : Saudara





Abdul Latief











Walaupun sedikit, saya bisa membaca sifat dan karakter anda berdasarkan 





tulisan yang Saudara buat.











Menurut saya, sebaiknya dalam BELAJAR agama islam melalui GURU/KYAI dan 





BUKAN hanya melalui BUKU. 











inilah kelemahan generasi muda sekarang, banyak bicara tentang ISLAM 





tetapi ternyata kosong tanpa isi, karena belajar tanpa GURU. 











resiko terbesar, orang yang belajar ISLAM tanpa guru tetapi hanya lewat 





BUKU adalah menjadi benar yang salah KAPRAH. artinya hanya mau benar 





sendiri dan jadinya SEPERTI SAUDARA.











wassalam.





teguh firsianto (teguh) menulis:





Assalamu'alaikum





Wr. Wb.











Mohon maaf sekali bila cucu ikut nulis walaupun belepotan.  Hampir 





sebulan saya ndak login ke Gus Mus, Elhadhalah, ada pertanyaan yang 





"orisinil" dari sedulur kita, yang nampaknya Gus Mus bereaksi secara 





"reaktif", maksudnya, Gus menanggapi dengan sangat serius pertanyaan 





Kangmas Latif.  Menurut saya (mohon ampun bila salah!!!), Kangmas Latif 





bertanya berdasarkan usikan hati nurani yang paling dalam.  Beliau 





beralasan untuk curiga karena sekarang ini beliau hidup di alam 





manipulasi media global, dimana semua informasi yangditerima mungkin 





sudah dimanipulasi dan direkayasa, sehingga beliau mengambil prinsip 





seperti James Bond - Trust No One.  Cucu pun sangat memaklumi bila 





Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi juga bersikap reaktif prul atas 





tanggapan Kangmas Latif tersebut.  Tapi yang perlu diingat bahwa Ilmunya





Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi kan sudah lebih tinggi daripada 





Kangmas Latif (Amiin), Gus Mus? Ya gak diitung kalo maen tinggi-tinggian





ilmu, lha wong Gus itu guru kita kok! Alangkah lebih "nggayem" bila 





sejenak kita memposisikan diri kita pada kondisi Kangmas Latif yang 





mungkin tengah gamang atas pencarian identitas aqidah beliau.  Insya 





Allah, kita bisa lebih memahami pertanyaan Kangmas Latif tadi, dan 





Kangmas Hendra serta Kangmas Wahyudi bisa membimbing Kangmas Latif agar 





ilmunya bisa sejajar (Kalau Kangmas Hendra dan Kangmas Wahyudi rela 





ilmunya dijejeri lho...).











Tapi teori Cucu tadi hanya dan hanya jika berlaku KALAU Kangmas Latif 





memang sedang masa orientasi aqidah.  Jika pertanyaan Kangmas tadi 





bersifat "ngetes" atau provokasi, artinya teori saya ya bubar....











Jazakallahu khairan katsiira,











Wassalamua'alaikum, Wr. Wb











[Non-text portions of this message have been removed]











[Non-text portions of this message have been removed]

















    


     





    


    








 











  




















      





[Non-text portions of this message have been removed]










[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke